Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 24


__ADS_3

Mendengar ide dari Sabrina, Vera merasa semangatnya kembali untuk mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan itu setelah sempat di kalahkan oleh Luna.


"Jadi kau mau rencana seperti apa?."


"Tenang, biar aku yang mengatur, kau tunggulah kabar dariku." Sabrina seraya menampakkan wajah liciknya.


....


Malam semakin larut, kegiatan demi kegiatan telah dilakukan para member, dan saatnya kini mereka beristirahat. Tersisa hanya beberapa tim dan kru yang sedang berjaga malam itu.


"Sudah larut malam, sebaiknya kau tidur."


Ran melihat Luna yang masih merapikan area yang telah mereka gunakan saat makan malam tadi, gadis mungil itu sudah dilanda kantuk berat sambil memegang kantong kresek sampah.


"Tapi Tuan, ini masih belom beres, saya harus menyelesaikannya dulu."


"Jangan membantah, ikuti perintahku!."


Ya sudahlah, mendingan aku tidur aja.


Luna pun memasuki tenda tim. Ukuran tenda tim termasuk besar dan luas, disana sudah berjejer rapi 4 ranjang lipat dan kantung tidur, udara dingin yang menembus pori pori kulit mereka membuat para member dan tim tidak lepas dari jaket tebal.


"Aku ngantuk sekali."


Luna sambil merebahkan tubuhnya, tetapi ia tak menggunakan kantung tidur. Fikirnya, ia tipe orang yang ketika tidur selalu ingin bergerak dan kalau ia memakai kantung tidur membuatnya seperti terikat.


"Winaa." Panggilnya dengan suara lirih, namun tidak ada jawaban dari Wina yang telah memejamkan matanya di atas ranjang lipat itu, dengan kantung tidurnya.


Pulas sekali dia tidurnya, hahaha lihatkan?, memakai kantung tidur itu justru terlihat seperti ulat bulu raksasa.


Luna cekikikan sendiri sambil melihat Wina disebelahnya yang sudah tertidur pulas.


Dan dia memutuskan untuk segera tidur juga. Luna memejamkan matanya. Ia tak sadar satu kakinya jatuh, dan kebetulan tenda itu tidak beralas, sehingga kaki Luna menyentuh tanah.


"Awwww, Sakittt!!!."


Luna teriak kesakitan karena merasa kakinya seperti disengat oleh binatang.


Ran yang tak sengaja lewat disamping tenda tim mendengar jeritan Luna pun panik, dan langsung membuka tenda, untuk memeriksa keadaan.


"Ada apa Luna?, kenapa kau teriak?." Terlihat wajah Ran yang begitu cemas dan menghampiri Luna, melihat asistennya itu tengah merintih sambil memegang telapak kakinya.


"Sepertinya ada serangga yang telah menyengat jempol kaki saya Tuan."


"Apa?, disengat serangga?."


Ran lalu mendekati ranjang Luna dan memeriksa jempol kaki asistennya itu.


"Haisshh, sepertinya ini sengatan kelabang!."


Dan benar, ketika Ran melihat tak jauh dari posisi mereka, ia melihat kelabang berukuran agak besar. Ran pun langsung menggencet kelabang itu dengan batu, setelah dipastikan mati, Ran mencari ranting pohon dan membawa kelabang itu untuk dibuang ditepi jurang agak jauh dari lokasi mereka.


Ran lalu kembali ke tenda, dan menghampiri Luna dengan tatapan cemas.


"Apa ini sakit sekali?."


Pakek nanyak lagi!

__ADS_1


Luna menganggukkan kepalanya pelan.


"Tunggu sebentar aku akan panggil tim untuk menjemput dokter kesini."


Ketika Ran hendak berdiri, Luna menahan tangan Ran untuk tidak memanggil yang lain, karena sudah terlalu larut malam, Luna tak ingin mengganggu waktu istirahat mereka.


"Jangan Tuan!."


"Kenapa menahanku?!, Kalau jempol mu itu membengkak gimana?, sengatan itu harus segera diobati." Menoleh kearah Luna yang masih menahan tangannya.


Luna menarik pelan tangan Ran, sehingga Ran otomatis mendekatkan tubuhnya dan Luna mendekatkan wajahnya ke telinga Ran, dan membisikkan sesuatu.


"Tuan ingat kalau kita beli bawang putih kan?."


Ran mengangguk. "Tolong Tuan carikan bawang putih itu di kotak penyimpanan bahan makanan, kemudian sebotol air dan juga es batu di ice box warna biru."


Ran mengerutkan dahinya, tetapi tetap berangkat mencari benda benda yang disebutkan Luna.


"Untuk apa?."


"Tuan jangan banyak nanya dulu deh, cepat tolong ambilkan kaki saya sakit." Seraya mengipas ngipaskan tangannya ke jempol kakinya.


"Duh, iyaa iyaa."


Ran segera mencari kotak bahan makanan itu dan mencari bawang putih yang dibelinya tadi di supermarket, dan juga mengambil sebuah botol berisi air mineral.


Ran segera berlari menuju luna dan menyodorkan ketiga item yang diminta Luna tadi.


Ran mengamati Luna yang menyiramkan air itu ke jempol kakinya,


Terlihat Luna yang meringis menahan sakit ketika mengoleskan bawang putih ke jempol kakinya. Ran pun nampak panik.


"Jempolmu kau apakan?."


Melihat Luna menahan sakit, justru menambah kepanikan Ran saat itu.


"Sudah aku telfon dokter saja, kalau dirimu keracunan bisa kelabang bagaimana."


Dengan cerewetnya Ran mengusulkan agar Luna dipanggilkan dokter saja, namun Luna merasa tindakan Tuannya terlalu berlebihan, apalagi ini sudah larut malam,gumamnya.


"Sudah Tuan, tidak perlu,


saya pernah ikut organisasi kesehatan di sekolah dulu, dan saya mempelajari cara pertolongan pertama ketika disengat hewan di hutan, jadi anda tenang saja, lagipula ini hutan mana mau dokter malam malam ke hutan " Ucap Luna menenangkan Ran yang tengah khawatir. "Benar Juga, Trus bagaimana?."


Dia menghkawatirkanku?


Melihat wajah Ran yang tengah jongkok didepannya dengan ekspresi cukup panik, membuat hati Luna merasa senang, entah perasaan muncul darimana ketika waktu ia melihat wajah Ran yang khawatir dengannya itu membuat hati Luna menjadi senang, dan seakan rasa sakitnya itu sudah berkurang.


"Apa kau yakin dengan cara ini menjamin kau tidak kenapa napa?." Ran ikut ikutan meniup jempol kaki Luna, walaupun ia sendiri tidak tau fungsinya ia meniup jempol itu ikut meredakan rasa nyeri Luna atau tidak.


"Ini sudah pertolongan pertama Tuan, ketika kita disengat oleh serangga atau hewan seperti kalajengking,tawon dan kelabang. Yang kita lakukan cukup tenang, jangan panik, dan segera mungkin siramkan air ke bagian yang disengat agar mencegah infeksi."


Ran manggut manggut mendengarkan.


"Dan oleskan potongan es batu pada bagian yang disengat karena suhu dingin dari es batu dapat membantu menenangkan saraf yang memicu rasa gatal dan nyeri." Ujar Luna melanjutkan.


Ran dengan cermat mendengarkan penjelasan dari Luna, sambil tangannya juga turut mengipasi jempol kaki Luna.

__ADS_1


"Terus bawang putih ini untuk apa?." Menunjuk bawang putih setengah halus yang menempel di jempol asistennya itu.


"Kalau bawang putih ini memiliki sifat panas yang efektif mengangkat racun akibat gigitan hewan berbisa, salah satunya ya sengatan kelabang ini Tuan." Melanjutkan penjelasannya.


"Sssshhhh." Tak lama Luna meringis kesakitan ketika bawang putih itu bereaksi. Nyeri, panas, dan gatal campur semua jadi satu.


"Kau kenapa?, apa tambah sakit?."


Ran terlonjak mendengar rintihan Luna, Wina yang mendengar suara Ran yang cukup keras itu justru membangunkannya dari pertengahan mimpinya.


"Tuan?, kenapa anda disini?."


Wina terkejut ketika suara yang membuatnya bangun adalah suara Tuannya yang sedang berjongkok didepan ranjang Luna, namun Wina juga tak kalah terkejut ketika melihat Luna yang mengolesi es batu pada sekitar telapak kakinya yang sedikit membengkak.


"Kak Luna!, kaki kak Luna kenapa?."


Dan kenapa dengan Tuan?, kenapa wajahnya tampak khawatir seperti itu?, apa yang sudah terjadi?.


"Ah Wina, kau terbangun ya?, pasti karna kami, maaf ya. Emm kakiku baru saja tersengat kelabang Win, tapi sudah tidak apa apa kok, aku sudah mengatasinya."


"Apa?, tersengat kelabang?, bagaimana bisa kak?, kakak tidak memakai kantung tidur?."


Luna telat menyadari kali ini, ternyata fungsi lain dari kantung tidur juga menghindari kita dari gigitan dan sengatan serangga, namun Luna mengabaikan itu semua dan memilih tidur hanya dengan jaket tebal dan celana panjang.


Ran menatap Luna tajam.


"Apa benar kau tidak memakai kantung tidur tadi?." Ucap Ran penuh selidik.


"Benar Tuan."


Ran mengalihkan pandangannya. "Eh tapi Tuan, saya tidak mengira kalau salah satu fungsi kantung tidur juga bisa melindungi kita dari gigitan atau sengatan binatang. Dan saya sendiri kurang nyaman tidur menggunakan itu hehe."


Luna membela diri atas kecerobohannya yang membuat dirinya terkena akibatnya sendiri.


"Lain kali gunakan saja apa yang sudah disiapkan, jangan seenaknya sendiri!, itu juga demi keselamatanmu. Apa sebaiknya aku tidak usah memberimu ranjang hem?, supaya kau tidur ditanah saja sekalian gimana?."


Ya kali tidur ditanah, tega banget si, iya iya aku salah. Gausah seperti itu kenapa sih.


"Maaf Tuan."


"Kak, apa perlu aku panggilkan tim untuk memanggil dokter?."


"Dia tidak mau!, sebelum kau menawarkan, aku sudah menawarkannya dulu tadi, dan dia ngeyel untuk mengatasi sendiri!." Ran menjawab tawaran Wina dengan nada ketus. Luna mendengar jawaban Ran langsung memanyunkan bibirnya.


Judes banget si jadi laki!


"Ah Win, tak apa, aku sudah mendingan kok, aku sudah belajar tentang ini, sekarang kau istirahatlah, pasti kau lelah kan hari ini, maaf sudah mengganggumu." Luna meyakinkan Wina, karena ia merasa tak enak telah membangunkannya, meski itu karena laki laki sialan yang ada dihadapannya itu.


"Benar kak Luna tidak apa apa?."


"Iya Wina, aku sudah tidak apa apa."


"Yasudah, tapi kakak kalau butuh apa apa jangan sungkan untuk membangunkanku ya."


Luna menganggukkan kepalanya pelan.


Lucu sekali kau Wina, hihihi, terimakasih sudah mengkhawatirkanku.

__ADS_1


__ADS_2