
"Ah iya aku sedang mencari ini." Mengambil sendok takar yang disodorkan oleh wanita itu.
Tuhkan rata rata pegawai disini sudah beda kasta denganku, pakaiannya saja semua branded, pantes Tuan Ran mengataiku kampungan, huhh.
"Terima kasih mbak...." Sambil mendekatkan wajahnya ke dada perempuan itu.
"Nia." Memegang idcard wanita yang bernama Nia itu.
"Tak perlu sungkan, panggil saja aku Nia, gausah pake mbak mungkin usia kita tidak beda jauh."
Dengan senyum manisnya Nia menepuk bahu Luna pelan.
"Hehe iya."
"Ngomong ngomong kamu lagi ngapain ?".
" Ah ini saya lagi buat kopi untuk Tuan Ran." Mendengar nama Tuan Ran sontak Nia menundukkan kepala segan pada Luna mengingat tidak sembarang orang yang bisa meladeni sosok Ran selain asisten dan managernya.
"Oh maaf saya tidak tau nona, kalau anda asisten baru Tuan Ran"
Melihat tingkah aneh wanita didepannya Luna jadi gelagapan sendiri menjelaskan.
"Eh, kamu ngapain?, udah gausah panggil aku nona, panggil saja aku Luna"
Luna heran kenapa dengan semua orang disini begitu segan padanya ketika dia tau bahwa dirinya adalah asisten pribadi dari Tuan Ran.
"Tapi sudah selayaknya anda kami hormati seperti kami menghormati Tuan Ran, karena anda adalah seseorang yang paling berpengaruh bagi Tuan Ran".
"Ah sudah tidak apa - apa kita sama sama bekerja disini jadi tidak usah sungkan".
Drama apalagi ini, kenapa semua orang disini bersikap seperti itu padaku?, dan apa?, berpengaruh?, hei Nia, asal kau tau ya, menjadi asisten pribadi Tuan judes itu gak se special itu juga kali, andai kau tau posisiku ketika bersamanya bukannya hormat malah pasti kau akan menangisiku.
"Tapi nona, sudah kewajiban kami menghormati anda sebagai atasan kami."
Luna seperti merasa risih mendengar ucapan Nia yang meng agung kan dirinya sebagai sosok yang berperan penting bagi pimpinan agency itu.
"Emm Nia tapi aku sangat baru disini, aku belum merasa nyaman, bagaimana kalau kamu menjadi temanku sekarang?"
Luna sangat antusias dengan jawaban Nia, karena dirinya juga merasa belum memiliki teman gedung itu.
"Teman ? "
Nia ragu dengan ajakan Luna yang menginginkan mereka menjadi teman.
Apa aku gak salah denger?, dia mengajakku berteman?, si Sabrina aja dulu boro boro ngajak staff disini berteman, mengingat sifat nya yang luar biasa sombongnya itu bahkan tidak pernah menyapa para karyawan dan staff disini.
"Tapi nona". Mendengar ucapan ragu dari Nia, Luna langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir Nia.
"Sudah mulai sekarang kau jangan sungkan lagi, aku juga sama sama karyawan disini, lagian aku tidak punya teman yang aku kenal disini, aku ingin kau menjadi temanku di gedung ini."
Luna seperti merengek pada kakaknya seperti adik yang ingin mengajak kakak perempuannya bermain.
"dan panggil aku Luna, ingat!, jangan dikasih embel embel lagi apalagi nona, aku sangat tidak nyaman!"
__ADS_1
Dengan telunjuk yang masih menempel di bibir Nia, Luna pun mengedipkan matanya ,menjadi pertanda bahwa mereka sekarang berteman tanpa menunggu persetujuan Nia.
Baiklah aku menyerah!
"Baiklah nona, eh Luna"
Nia menutup mulutnya seketika sambil cengengesan.
Ternyata dia berbeda jauh dengan Sabrina .
"Okay"
mereka pun bersalaman layaknya seseorang yang baru menemukan teman baru disekolahnya.
Setelah mereka berdua berbincang ,tak lama mesin kopi yang sudah Luna set timernya sudah berbunyi.
"Eh kopinya sudah selesai." Luna mengambil gelas dari mesin kopi itu dan menuangkan gula dari sendok takar yang disodorkan Nia tadi.
"Nia aku antarkan kopi ini dulu ya,
nanti kalau kamu tidak sibuk kita makan siang bareng di kantin yah."
Luna meninggalkan Nia sambil melambaikan tangan.
Dia cantik juga, aku jadi iri.
Setelah meninggalkan Nia di pantry, Luna segera menuju ruang casting, dan ketika Luna membuka pintu itu, dia mendapatkan Ran sudah tidak ada disana.
Dimana laki laki itu, dia mengerjaiku lagi?
"Tuan Ran keluar mbak, sepertinya ke ruangannya."
"Makasih mas." Luna menunduk sopan pada pria itu.
Huh kenapa jadi petak umpet gini sih, bikin orang capek aja pagi pagi.
Luna segera berlari kecil menuju ruangan Ran dengan hati hati karena sedang membawa kopi yang diminta Tuannya yang sedang menghilang itu.
Ternyata anda disini sedang leha leha rupanya.
"Permisi Tuan,ini kopi nya"
Luna meletakkan kopi itu diatas meja Ran yang sedang memainkan ponselnya dengan posisi kakinya nangkring diatas meja.
"Hemm".
Terimakasih kek, hamm hemm doang.
Setelah asyik dengan ponselnya, Ran meneguk kopi yang telah dibuat Luna.
Enak sekali kopinya, pandai juga dia membuatnya.
"Bagaimana Tuan? kopi buatan saya enak kan?." Luna sambil nyengir berharap kopi buatannya tidak dimuntahkan oleh pria didepannya itu.
__ADS_1
"Biasa saja!."
Seketika muka sumringah yang berharap dipuji itu langsung manyun karena jawaban Ran membuat sebal Luna.
"Siang ini aku ada kunjungan ke luar kota dan aku masih kurang percaya padamu, aku akan mengajak Yao nanti".
Yasudah sih kalau belum percaya gausah diomongin juga kali, bilang aja tidak mau mengajakku.
"Tapi." Ucapan Ran tiba tiba menggantung.
"Aku beri waktu kau untuk memahami sekali lagi aturan dan cara kerjamu setelah ini, karena nanti malam mulai giliranmu, awal dari pekerjaanmu menjadi asistenku".
Apa?! nanti malam, memang mau apa nanti malam?, jangan jangan dia mau macam macam lagi, atau sebenarnya aku ini bukan asisten seperti yang aku pikirkan tapi...
Luna membuat asumsinya sendiri mengenai pekerjaan dirinya yang sesungguhnya.
"Kau berfikir apa?" Ran yang mengerti arti mimik muka Luna pun menjelaskan maksutnya.
"Maksudku nanti malam aku ada agenda untuk live di stasiun tv untuk boygrup UTS". Ucap Ran menjelaskan.
Memangnya kau berharap jadi apa Luna. Luna
Mendengar nama boygrup UTS yang sedang fenomenal di negara ini, Luna langsung mengangkat kepalanya cepat.
"Apa Tuan?, live boygrup UTS ?." Dengan mata berbinar luna menatap Ran untuk memastikan apa yang dirinya dengar itu tidaklah mimpi, mengingat UTS adalah boyband idola Luna selama ini yang ia idamkan, siapa sih jagat ini yang tidak tau dengan boyband kelas dunia yang sedang lagi naik daunnya itu saat ini.
"Kenapa?, apa kau salah satu fans nya?."
"Iya Tuan, saya fans dari UTS dan saya sangat mengidolakan salah satu membernya juga yang bernama Limin." Luna sambil malu malu mengutarakan kekagumannya pada salah satu member boyband itu.
"Kau boleh mengidolakan siapapun artis yang ada di agency ini, tetapi ingat!, kau juga harus jaga sikap dan profesional, jangan sampai kau memperlihatkan bahwa kau penggemarnya."
Aturan yang ada di agency tersebut memanglah salah satunya jika ada staff atau karyawan atau siapapun yang bekerja dan yang ada di gedung itu maka harus profesional, dan tidak memanfaatkan keberadaannya di gedung itu hanya untuk bisa melihat idolanya semata, namun juga tanggung jawab yang mereka harus kerjakan sesuai dengan posisi pekerjaannya masing masing, tanpa curi curi kesempatan atau tindakan ilegal.
"Baik Tuan."
Gapapa deh, yang penting bisa melihat Limin secara dekat dan pastinya bisa sering ketemu dong hahaha.
Jam makan siang sudah tiba, para karyawan dan staff gedung mulai berlarian untuk istirahat makan siang, ada yang ke kantin gedung, ada yang ke cafe depan gedung dan ada sebagian yang masih ditempat kerjanya tidak bergeming karena masih sibuk dengan pekerjaannya, mereka memilih order delivery makanan.
Di sisi lain diruangan pimpinan, Ran sudah bersiap siap untuk agendanya siang ini, tentunya dibantu Luna, mereka pun keluar menuju lift untuk turun.
"Kau bisa makan siang sendiri kan?."
"Bisa lah Tuan".
"Baiklah, siang ini kau free, kau bisa melakukan apa yang kau mau, tapi jangan lupa dengan tugas yang sudah kuperintahkan tadi."
Ran berbicara sambil berjalan dengan memakai jas nya dengan keren.
"Baik tuan akan saya pelajari lagi dengan sungguh sungguh." Mendengar ucapan Luna, Ran melirik kearah gadis itu dan muncul senyum tipis dibibirnya.
"Oh ya dan jangan lupa sekalian, kau siapkan untuk agenda nanti malam ya!."
__ADS_1
"Siap tuan"
Ada bagusnya aku tidak ikut, aku mau mencari informasi tentang mantan asistennya dulu, kenapa orang orang disini terkesan sangat takut padanya dan bisa melekat sampai kepadaku sekarang, sekalian aku bisa makan siang bareng Nia.