Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 28


__ADS_3

"Yakk!! Kau???"


Lucas yang terkena pukulan mendadak, yang mengenai bahunya itu mengaduh sambil matanya juga melotot tak percaya bahwa yang memukulnya adalah sosok yang ia cari.


"Mbakk Lunaa!!!" Berdiri dan langsung memeluk Luna.


Luna yang juga merasa sedikit lega karena ia bertemu dengan Lucas, dan berfikir untuk bisa keluar dari area itu.


Melepaskan pelukannya karena didorong oleh Luna. "Mbakk darimana saja? Kenapa ada disini." Menggoyang goyangkan bahu Luna.


"Eh ehh, iya lepaskan dulu ih." Melepasakan tangannya. "Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan seekor kelinci. Dan aku mengejarnya. Tapi karena aku terlalu bersemangat mengejar kelinci itu sampai tak fokus melihat jalur, jadi ya tersesat deh."


Eh kenapa dia menangis?


Mengusap bulir air mata yang jatuh di kelopak matanya. "Aku kira mbak beneran hilang."


"Kau kenapa menangis?" Bertanya heran sambil memandang wajah Lucas yang terlihat sendu.


Memangnya ada apa? Kok dia sampai menangisiku?


"Mbak tau?"


"Tidak!"


"Belum ih." Ucap Lucas seraya menghentakkan kakinya.


Dia ini laki laki tapi lucu juga hihi, mau dibilang banci ini ya gak banci banget, dibilang cowok tulen tapi agak gemulai.


"Mbak tau, Tuan Ran memarahiku habis habisan, mendengar mbak jalan sendiri menyusul mbak Wina, apalagi waktu Tuan melihat mbak Wina yang kembali tanpa mbak Luna, Tuan mengira bahwa Mbak hilang dan tersesat." Bicara seperti merengek pada ibunya.


Tuan Ran memarahinya? Hei, Apa yang sedang kau bicarakan? Tapi dia memang gilakan? Seharusnya dia marah padaku, kenapa malah padanya.


"Hahaha sudahlah, sebaiknya kita cepat kembali sebelum Tuan Ran semakin menggila." Mereka berdua akhirnya kembali ke lokasi perkemahan bersama. Dan disana Wina melihat kedatangan Luna sambil berlari memeluk Luna.


"Mbak darimana saja?" Memeluk Luna erat. "Eeee tadi aku sempat tersesat karena mengejar kelinci."


"Mengejar kelinci??" Luna mengangguk cepat. "Hahaha maaf ya karenaku kalian semua jadi kena marah Tuan, tenang saja ini memang salahku, biar nanti aku saja yang bicara padanya. Toh nanti juga dia pasti memarahiku."


"Tuan gak akan marahin mbak Luna."


Halah, bagaimana bisa. Seperti tak tau dia saja.


Tak lama muncul dua orang dibalik pohon besar. Yang satu berjalan dengan celana basah kuyup, dan satunya menenteng sendal dengan kondisi kaki yang sangat keriput dan pucat.


"Tuan." Luna melambaikan tangannya pada Ran yang tengah menenteng sandal itu.


Padahal gara gara dia mengejar kelinci semua orang terkena imbasnya. Eh si Luna malah santai sambil nyengir guys :')


"Lunaa!" Ran melempar sandalnya, sampai hampir mengenai muka Zeka, dan berlari kearah Luna dan memeluknya.


Sialan kau Tuan


*Grepp

__ADS_1


Memeluk erat Luna.


Semua yang ada disitu membelalakkan matanya tak percaya, mereka tak menyangka reaksi Ran bisa sampai seperti itu. Apalagi memeluk perempuan. Hal yang bahkan tidak pernah dilakukan Ran, apalagi dihadapan para staf dan tim.


Tak terkecuali Luna, ia diam membeku melihat reaksi Tuan gilanya itu.


Tuan, kenapa anda seperti ini? kenapa sampai memelukku segala. ia ia semua orang pasti khawatir kalau mendengar pegawainya hilang. Tapi ya gak gini juga, apalagi ini Tuan Ran lho. hei Tuan Ran.


Dan aku sebatas asistennya.


Melepaskan pelukannya dan kini berganti mengggenggam bahu Luna.


"Katakan kau darimana?" Sambil menatap lekat Luna. "Saya tadi mengejar kelinci Tuan " Ran mengerutkan dahinya. "Mengejar kelinci kau bilang? Kau tidak ingat kakimu itu terluka ha! dan lagi, kau ngapain kesungai sendirian?! benar benar menyusahkanku!" Wajah Luna


yang tadinya senang karena reaksi Ran itu kini berubah manyun.


Tuhkan, mustahil memang kalau Tuan benar benar khawatir.


Malam harinya.


Kekacauan yang telah terjadi akibat ulah Luna itu pun sudah mereda, mereka kembali ke kegiatannya masing masing. Tak terkecuali Zeka. Ia menjemur baju dan celananya yang basah akibat tercebur ke sungai. Ia tak sengaja jatuh ketika Ran menariknya untuk berpegangan. Ia menjemur dengan muka yang sangat lesu, bagaimana tidak, itu adalah baju terakhirnya. Ia hanya menbawa 2 stel baju dan 3 sarung. Difikirnya kalau saat berkemah saja ia hanya butuh tidur menggunakan sarung ketimbang baju.


"Ya Tuhan, Ini baju terakhir. Kenapa basah juga. Aku besok pakai baju apa?. Mana yang satunya belum kering baru aku cuci tadi pagi." Dengan nada gundah.


Ini gara gara Tuan sinting itu, kalau dia tidak menarikku pasti aku gabakal kehabisan baju. Mana gak jadi tidur juga lagi, Oh my eyes. Pantatku juga sakit terkena batu sialan. Gumamannya tak berhenti sambil sesekali memegang pantatnya yang nyeri.


Di dalam mobil Van, Ran terdiam. Ia mengingat kejadian tadi pagi. Ia tak menyangka dengan perlakuannya sendiri terhadap Luna, ia tak sadar mengapa bereaksi berlebihan pada asistennya.


Ia bahkan tidak pernah menyentuh perempuan apalagi memeluknya.


Dan kenapa aku sangat senang memikirkannya.


Yao, mungkin aku tau apa yang aku lakukan sekarang. Aku tidak punya pilihan lain. Meski aku tak yakin bisa melakukannya. Tapi aku yakin dia benar benar tulus bekerja denganku.


Tak lama Yao menelfonnya dengan nada yang terlihat khawatir.


"Ada apa?" Dengan suara datar. "Ayah Luna Ran!" Ran tersentak dari duduknya. "Kenapa dengan Ayahnya?" Yao menceritakan semua kejadian yang sedang terjadi di kediaman Luna.


Ran mengepalkan tangannya karena geram mendengar cerita Yao.


Kau semakin menjadi jadi rupanya.


Di tenda, Luna menyeduh teh hangat untuk menemani malam terakhirnya di hutan. ya, itu adalah malam terakhir mereka camping, selanjutnya mereka akan melanjutkan trip mereka dan bersenang senang di Hawaii.


Ponsel berdering di sakunya, tertera nama Ayah yang sedang menghubunginya.


Ayah, pasti rindu denganku^_^


"Halo Ayah?" Mengangkat telfon dengan suara yang lembut.


"Kak! Ini aku Luca." Diseberang telfon menjawab dengan nada panik. "Luca? Ada apa? Mana Ayah." Luna yang mendengar suara adiknya itu pun ikut bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Ayah masuk rumah sakit kak, kondisinya semakin melemah, kakak kapan pulang. Aku takut hikss." Menambah kepanikan Luna yang mendengar adiknya menangis histeris.

__ADS_1


"Apa!!, Ayah masuk rumah sakit ?" Berdiri cepat. Wina juga ikutan kaget melihat Luna.


"Kak ada apa?"


"Ayahku Win, Ayahku kollaps, dan sekarang ada dirumah sakit." Ucap Luna sambil menatap Wina sembari menggigit jarinya karena ketakutan.


"Astaga, trus gimana sekarang kak."


"Aku juga bingung Wina, kita pulang masih 3 hari lagi, tapi aku takut Ayahku kenapa napa hikss." Luna menangis sejadi jadinya.


Dalam keadaan bersamaan, Ran juga berlari ke tenda untuk menemui Luna.


"Tuann hikss." Luna sontak memeluk Ran sambil menangis.


"Iya aku tau kok, bagaimana kalau pulang saja besok pagi?" Luna mendongak. "Saya boleh pulang Tuan?" Melepas pelukannya sambil menghapus air matanya.


Lunaa, kenapa sembrono sampai memeluknya


"Maaf Tuan, saya terlalu spontan karena khawatir pada Ayah." Ucapnya lirih. "Hemm." Sambil mengelus kepala Luna.


Eh, kok?? Kenapa mengelus kepalaku segala? Ah mungkin karena kasian padaku.... Ayahhh tunggu Unaa:'(


Perasaan senang, gemetar, itu yang dirasakan Ran ketika Luna memeluknya.


Ia hanya menganggap itu sebagai sikap keprihatinannya saja makanya ia membiarkan gadis itu memeluknya. Tapi rasanya di dalam hati kecilnya seperi berontak dan menolak keras alasan yang difikirkan Ran itu. Hei bodoh! kenapa kau tidak mengenal perasaanmu sendiri. Andai kata hati bisa bicara, mungkin begitu :D


Keesokan harinya.


Luna mulai membereskan barang barangnya, ia akhirnya mendapat penerbangan paling cepat untuk hari ini jam 11 siang. Ia tidak bisa mengikuti trip selanjutnya karena ia tak bisa lebih lama meninggalkan sang Ayah dengan kondisi seperti itu.


"Kak apa yang perlu aku bantu lagi?" Wina juga sembari ikut membantu Luna mengepak barang barangnya. "Ah sudah Win, sudah aku bereskan sisanya. Oh iya, kamu baik baik disini ya! maaf aku tidak bisa menemanimu sampai akhir trip." Dengan wajah sendu sambil merangkul Wina.


"Tidak apa apa kak. Saat ini Ayah kakak paling penting." Mengelus bahu Luna."Kak tunggu sebentar!" Wina berlari menuju tenda dan mengambil sebuah eskrim dan coklat di dalam ice box dan memberikannya pada Luna.


"Es krim." Ucapnya sambil menerima eskrim dari Wina dengan mata berbinar. "Supaya mood kak Luna membaik." Menunjukkan senyum untuk Luna. Luna pun juga ikut tersenyum senang.


"Emm kak, boleh tidak sebelum kak Luna pulang kita selfie dulu, sebagai kenang kenangan." Luna mengangguk pelan.


"Yes!" Wina mengangkat tangannya senang.


Wina mengeluarkan ponsel disakunya. "Nih kakak yang pegang! Kakak harus senyum bagaimanapun keadaannya, kakak harus kuat dan yakin semua baik baik saja." Luna merasa terhibur dengan tingkah Wina.



Meski hatinya tengah gelisah karena cemas pada Ayahnya, Luna merasa sedikit tenang karena adanya Wina.


Sementara itu Ran juga membereskan barang barangnya, ia juga berencana untuk pulang ke tanah air dan Ran sudah menyiapkan rencana untuk menghentikan kelakuan Sabrina.


"Tuan ngapain?" Dengan wajah heran, Luna menatap aktivitas Ran yang tengah memasukkan baju kedalam koper. " Ya pulang lah!" Luna membelalakkan matanya tak percaya. Untuk apa dia pulang, kan ini masalah pribadiku. Gumamnya.


"Tuan saya bisa pulang sendiri, lagian kan ini urusan pribadi saya, nanti siapa yang mengurus perjalanan ini Tuan?"


"Gausah Geer, aku pulang juga karena ada urusan mendadak. Jadi sekalian barengan denganmu!" Ucapnya ketus.

__ADS_1


"Urusan apa Tuan?" Ran melirik dingin Luna, mengisyaratkan bahwa kau terlalu banyak bicara Luna.


Kenapa malah sinis begitu? akukan cuma nanya, dan aku juga asisten pribadinya. Jadi berhak dong kalo itu urusan kerjaan.


__ADS_2