Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 31


__ADS_3

Suara dering ponsel Ran terdengar nyaring, membangunkannya dari tidur panjangnya di pesawat. Ia meraba mencari ponselnya dari saku blazernya.


"Halo Ran? kau dimana?"


"Aku ada di pesawat." Menjawab dengan nada berat khas bangun tidurnya.


"Kau sudah terbang? kenapa tidak menghubungiku?"


"Tidak terlalu penting!" Ucapnya ketus.


Yang diseberang telfon menekuk wajahnya.


"Ada apa kau meneleponku?"


"Ini tentang paman Sam, Ayah Luna Ran"


Mendengar nama Luna, Ran menjauhkan posisinya yang berada disebelah Luna. Gadis itu tengah tertidur. Ran memastikan Luna tidak mendengar percakapannya dengan Yao.


"Bicara pelan saja! Disampingku ada Luna, dia lagi tidur."


"Bukannya kau yang harus pelan Ran, yang disebelahnya kan kau bukan aku. Lagian selama tidak kau Loudspeaker dia juga ga akan dengar."


Oh iya juga ya...


"Katakan, ada berita apa lagi?"


"Kondisinya semakin parah Ran, kondisi jantungnya rusak parah. Dan dia hanya bisa bertahan hidup dengan meminum obat khusus setiap hari, kalau tidak mungkin nyawanya akan terancam."


Ran melirik Luna yang masih terlelap.


Maafkan aku, aku telah membuat hidup ayahmu menderita gara gara ulah sabrina. Aku akan mencari cara untuk menolong ayahmu.


"Sialan! Apa yang sudah perempuan itu katakan pada ayahnya, aku ingin merobek mulutnya Yao." Matanya masih memandangi Luna.


"Kali ini Sabrina memang keterlaluan Ran."


"Baiklah, setibanya nanti aku akan menjenguknya, dan meminta maaf atas kesalahpahaman ini. Aku hanya kasian pada gadis ini juga terkena imbasnya."


..


Di taman rumah sakit.


Suasana kini kembali normal, kondisi Luna yang tadinya histeris sekarang sudah mulai bisa mengatur emosinya. sudah tidak terdengar lagi suara isak tangis dan sesegukan. Nafasnya sudah mulai normal. Namun kini beralih dengan tatapan mata yang kosong.


Notif pesan muncul di layar ponsel Ran.


"Ran, aku sudah menemukan rumah sakit yang ada di negara X. Dan pihak rumah sakit berhasil menemukan pendonor jantung untuk Ayah Luna."


Muncul senyum tipis dibibir Ran. Kini saatnya Ran mulai membicarakan perihal kontrak perjanjian itu. Ia rasa sekarang adalah waktu yang tepat.


Ran berjalan menghampiri Luna yang masih terpaku dengan tatapan kosongnya.


"Ada yang aku ingin bicarakan denganmu."


Melirik sekilas Ran yang tengah duduk.


"Maaf saya tidak mood Tuan." Menjawab singkat, seolah ia tak ingin membicarakan apapun.

__ADS_1


"Ini serius." Luna masih tidak bergeming.


"Ini perihal ayahmu!"


Luna menoleh cepat. "Apa yang Tuan maksud?" Menatap Ran penuh selidik.


"Aku bisa menjamin pengobatan ayahmu, dan masalah donor jantung itu." Memandang wajah Luna sambil menyilangkan tangan ke dadanya.


B,bagaimana Tuan bisa tau


"Tuan tau darimana masalah donor jantung ayah saya?"


"Kau tidak perlu tau Luna, anggap saja ini bentuk kepedulianku."


Kepedulian? sejak kapan dia punya hati nurani? lagian ini bukan masalah kecil, kenapa Tuan mau membantu keluargaku?


"Aku sudah menemukan pendonor jantung untuk ayahmu, dan itu ada di negara X."


"Negara X?"


"Tenang saja, aku yang akan menanggung semua biayanya. Kau tidak perlu khawatir."


Apa? dia tidak bercanda kan ?


Dia benar akan membiayai semua biaya pengobatan ayah?


itu tidak murah loh! memang sih dia ini tajir melintir. Tapi atas dasar apa dia membantuku? aku hanya sebatas asisten. Apa ini tidak terlalu berlebihan?


"Tuan serius?" Sambil menggoyangkan lengan Ran.


"Aku serius, Tapi?"


Memang dia mau minta apa dariku?


Apa dia akan memotong gajiku seumur hidup?


"Kau menikahlah denganku!"


//deg deg deg


Jantung Luna seperti berhenti, wajahnya tak berpaling menatap Ran. Ia membisu dan ia sempat berfikir kalau ini hanya candaan semata.


"T,tuan bilang apa?"


"Menikahlah denganku!" Mengulang ucapannya.


Pasti dia hanya ingin menghiburku saja kan? Dia tidak segila itukan?


Pasti yang bicara itu khodamnya kan?


Aku mimpikan?


Luna masih dengan lamunanya, ia menyadari bahwa manusia didepannya itu benar benar mengatakan hal konyol yang tidak pernah ia duga.


Berdiri. "Apa anda serius dengan ucapan anda?" Menatap Ran dingin.


Ikut berdiri. "Tidak usah terlalu bereaksi berlebihan, pernikahan yang aku maksud adalah pernikahan kontrak."

__ADS_1


Kembali menatap Ran. Kali ini Luna sampai menutup mulutnya tak percaya.


Dia benar benar gila! tidak waras!


bisa bisanya seenaknya mengajakku menikah, dan itu pernikahan kontrak?


apa yang sedang ia rencanakan?


dia ingin mempermainkanku? dengan alih alih menolong ayahku?


"Maaf Tuan, saya tidak bisa menerima tawaran anda, dan tidak akan pernah!" Melangkah pergi meninggalkan Ran.


"Kau tega melihat ayahmu setiap hari harus menelan pil itu? dan kau bisa menjamin tidak ada resiko apapun jika ayahmu telat meminumnya?"


Langkah Luna terhenti. Benar! sebenarnya ia khawatir akan hal itu. Luna benar benar tidak tega ketika ia harus melihat ayahnya bertahan hidup dengan obat khusus itu. Andaikan saja penderitaan ayahnya bisa digantikan, dia akan memindahkan semua penyakit ayahnya pada dirinya.


Gadis itu menitihkan air mata lagi sambil diam mematung dan menundukkan kepalanya seraya tangannya terkepal erat.


"Duduklah, aku akan memberi tahu alasanku!"


Luna pun memilih kembali duduk dan mendengar alasan Ran kenapa sampai membuat perjanjian pernikahan untuk menolong keluarganya, ia juga tidak punya jalan lain untuk menyembuhkan ayahnya. Menurutnya nyawa ayahnya lebih penting dari segalanya. Ini mungkin bisa menjadi titik berat dari hidupnya. Dimana ia harus merelakan kebahagiaannya untuk kesembuhan sang ayah.


"Aku menikahimu untuk membuat Sabrina berhenti mengejarku, aku ingin dia melepaskanku dan tidak menggangguku dan kehidupanku lagi setelah tau aku sudah menikah." Menoleh ke Luna. "Kau tidak perlu khawatir, kau tidak perlu menaruh perasaan apapun padaku, begitu juga sebaliknya, aku tidak akan menaruh rasa apapun padamu. Karena sedari dulu aku memang tidak pernah merasakan jatuh cinta. Dan tidak pernah merasa tertarik pada perempuan." Ujarnya melanjutkan.


"Lakukanlah sesuai tugasmu agar kau merasa tidak terbebani, kau masih boleh menganggapku sebagai Tuanmu. Dengan artian lain, kau istriku, Asisten pribadiku.


Dan kita bisa mengakhirinya jika selama 8 bulan situasi sudah memungkinkan."


"Tuan, pernikahan itu adalah hal yang sakral, kita tidak bisa melangsungkan pernikahan hanya karena alasan tertentu atau main main. Semua orang pasti berharap suatu saat bisa menikah dengan orang yang dicintainya dan hidup bahagia, termasuk saya." Menatap lurus kedepan.


Ran menoleh ke wajah gadis itu. " Aku tau, dan aku mengerti. Tapi bisakah kau


membantuku kali ini? aku sudah lelah dengan sikap nekat Sabrina."


"T, tapi kenapa anda memilih saya Tuan? banyak wanita lain diluar sana yang lebih pantas dari saya. Bahkan anda bisa menikahinya tanpa harus repot repot mengeluarkan banyak uang untuk membantu biaya ayah saya." Ujarnya dengan suara yang terbata bata.


//Blushh


Ran membisu seketika. Pertanyaan Luna itu seakan tidak bisa dijawab olehnya. Karena ia sendiri tidak tau alasannya, kenapa ia memilih Luna, dan anehnya lagi dia juga mau membiayai pengobatan ayahnya sebagai jaminannya


"Entahlah, namun aku rasa kau adalah perempuan baik baik. Aku melihat kinerjamu sangat bagus. Aku bisa menilai orang yang benar benar tulus bekerja denganku, tanpa mengharap lebih atau mempunyai maksud tertentu."


Maksud tertentu? Apa yang dia bicarakan? memang aku pernah berharap apa padanya?


Apa mungkin selama ini dia hanya dikelilingi oleh wanita wanita yang mendekatinya hanya karna uang? atau adsense?


"Tuan, bagaimanapun juga bantuan anda sangat besar dan berarti buat saya, bolehkah saya juga menyicil biaya pengobatan ayah saya?" Menatap sendu.


Menghembuskan nafas pelan. "Boleh, tapi aku tidak butuh uangmu, uangku sudah banyak dan berlebih lebih!"


Di situasi seperti ini masih sempat sempatnya menyombong!


"Lantas apa yang Tuan mau dari saya untuk menebus biaya ayah selain uang."


Ran berdiri. "Kau cukup lakukan tugasmu seperti biasanya, dan rahasiakan pada siapapun kalau ini hanya pernikahan kontrak!" Melangkah meninggalkan Luna.


Menatap punggung Ran yang perlahan mulai hilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Ayah, maafkan Una, Una tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan ayah. Mungkin ini adalah titik berat hidup Una. Menjalani pernikahan yang bahkan tidak ada rasa cinta dan hanya sekedar pernikahan kontrak, namun ini semua Una rela lakukan untuk melihat ayah kembali sehat dan terus tersenyum melihat Una." Gumamnya lirih.


__ADS_2