
"Memangnya dia ngomong apa tadi?"
"Oh, tadi Tuan Ling senang karena kita menyambutnya pakai bahasanya."
"Ya sudah kalau begitu aku serahkan padamu, dan jangan sampai memperlakukanku!"
"Tidak akan Tuan."
"Kalau bisa yakinkan dia agar perusahannya bekerja sama dengan kita!" Memegang bahu Luna.
"Baik Tuan saya akan berusaha, namun bisakah Tuan melepas tangan Tuan?" Sadar dengan hal itu, Ran dengan cepat mengibaskan tangannya dan berdehem pelan.
Mereka pun sampai disebuah ruangan yang sangat nyaman untuk peristirahatan Tuan Ling. Luna mempersilahkan Tamu dan pasukannya untuk masuk.
..
"Mr. Ran, I am very happy with the welcome earlier. And she's very pretty too! is that your secretary?"( Mr. Ran, saya sangat senang dengan sambutan tadi. Dan dia juga sangat cantik! apakah itu sekretaris anda?). Tuan Ling seraya menatap lekat gadis di sebelah Ran.
Merasa risih dengan tatapan Tuan Ling, Ran pun menyeka dengan kalimat yang membuat semua orang disitu terkejut.
"She is my personal assistant, but she will also be my future wife!" ( Dia adalah asisten pribadiku, tapi dia juga akan menjadi calon istriku!). Melihat Luna seraya menunjukkan senyum miringnya.
Mendengar jawaban dari Ran, Tuan Ling menurunkan pandangannya, karena yang ia harapkan tak sesuai dengan keinginannya. "Ah so she is your future wife? Wow you are very lucky to have such a beautiful and smart woman!"( Ah dia adalah calon istrimu? Wow kamu sangat beruntung sekali memiliki wanita yang sangat cantik dan pintar sepertinya!).
Sepertinya dia tertarik pada Luna.
Entah kenapa saat itu Ran merasa ada tusukan kecil dalam hatinya disaat pria didepannya itu menatap Luna dengan tatapan tak biasa. Bahkan dia tak segan mengaku bahwa Luna adalah calon istrinya dihadapan semua klient asingnya.
Mendengar hal itu, Luna membelalakkan matanya, Ia tak percaya kalau Tuannya mengatakan hal semacam itu didepan para klient nya.
Kenapa dia mengatakan disini sih!
Bukannya terlihat keren tapi
malah seperti memperlihatkan kebodohanmu Tuan.
Setelah beberapa lama akhirnya meeting mereka selesai, dan kontrak kerja sama mereka pun sudah disetujui oleh Tuan Ling berkat usaha Luna meyakinkan bahwa perusahaan Rawn Entertaiment akan berkonstribusi pada perusahan Ling group dan mampu mencapai target sasaran pasar music yang diinginkan. Specialnya lagi, selama proses negoisasi Luna menggunakan bahasa negara asal Tuan Ling. Itu adalah point plus bagi Luna dan perusahaan.
Di ruangan Ran.
"Hei! kemarilah!" Ran menjentikkan jarinya kearah Luna.
Hai hei hai hei! panggil yang
benar dong!
kayak manggil guguk aja!
"Ada apa Tuan?" Duduk dikursi depan meja Ran.
"Segitunya kau mencari perhatian padanya?" Menatap Luna dingin.
"M,maksud Tuan?" Menunjukkan ekspresi kebingungan.
"Kau tau, Tuan Ling itu tertarik padamu!"
__ADS_1
"Te,tertarik? Bagaimana anda bisa tau Tuan?"
"Dari tatapan matanya saja aku sudah tau, apalagi kau yang terus membuatnya kagum dengan kefasihanmu berbicara menggunakan bahasanya." Mengalihkan pandangannya.
"M,maaf Tuan, tapi-"
"Tidak ada tapi tapian, mulai sekarang kau jangan pernah curi curi pandang pada laki laki lain, apalagi demi mencari perhatiannya." Beranjak dari kursinya.
Orang gila!
..
Hari hari telah berlalu, hari ini adalah hari kedatangan Ayah Luna dari luar negeri. Luna sangat antusias menjemput Ayahnya di bandara. Luna yang bersandar di pintu mobil sambil mengedarkan pandangannya. Ia mencari sosok yang ia rindukan selama 2 bulan itu. Terlihat dibalik pintu keluar bandara terlihat sosok anak remaja beserta pria tua yang sedang berjalan beriringan itu melambaikan tangannya pada Luna.
"Luca!! Ayahh!!!" Luna berlari dan berhambur memeluk Ayahnya.
"Una kangen ayah!!" Mendekap di dada sang Ayah.
"Kakak gak kangen aku juga?"
"Kangen sih tapi sedikit." Berbalik dan memeluk Luca.
"Ayah sekarang beneran sembuh?" Ucapnya dengan wajah berbinar.
"Iya sayang, berkat doa kamu dan Tuan Ran, Ayah bisa pulih. Tapi Ayah masih harus rajin kontrol untuk pemulihan."
Wajah yang tadinya riang gembira mendapat kabar baik dari sang ayah, kini senyumnya mulai menciut mendengar nama Ran. Kini saatnya ia menepati janjinya setelah Ayahnya pulang dari luar negeri. Dan lakonnya akan segera dimulai. Menjalani pernikahan tanpa adanya cinta dan hanya memakai batas waktu. Menyedihkan ?. Tapi baginya kesembuhan orang tua satu satunya lah yang harus diutamakan. Ia menganggap bahwa semua ia lakukan semata mata hanya bentuk terimakasihnya pada Tuan Ran. Toh meski menikah, perannya masih sama menjadi asistennya. Yang membedakan hanyalah status istri. Istri yang menjadi pelarian semata.
Di sebuah cafe.
"Luna sini!" Melambaikan tangannya ketika melihat seorang gadis yang clingukan di dalam cafe yang lumayan besar itu.
Luna menghampiri calon ibu mertuanya.
"Tante maaf tadi lagi macet, tante udah lama ya?" Gadis itu merasa sungkan karena Bu Ratna sudah datang lebih dulu darinya.
"Gak apa apa sayang, emm kamu naik motor?" Sambil melihat kearah luar cafe.
"Iya tante, mau pake taksi takutnya makin lama karena macetnya panjang banget hehe." Seraya menyibakkan rambut indahnya kebelakang.
Kamu sangat sederhana sekali nak.
Persis dengan ibumu. Ran gak salah punya istri sepertimu.
"Sayang, mulai sekarang jangan panggil tante lagi ya, panggil Mama, oke?" Memegang tangan Luna.
"Mama?" Ucapnya gugup.
Bu Ratna mengangguk pelan. "Iya dong, kan Luna mau jadi anak tante juga sekarang." Tersembul senyum tipis.
Apa gak terlalu cepat sekarang?
Oh tante mertua, andai kau tau sebenarnya. Aku jadi tidak tega, sepertinya beliau sangat berharap pada pernikahan ini.
"I,iya Tan, eh Mama." Jawab Luna kikuk.
__ADS_1
"Dan untuk seterusnya jangan sungkan untuk menghubungi Mama kalau butuh sesuatu ya, Mama harap Luna bisa mencintai Ran dengan segala kekurangannya." Menatap Luna sayu
"Kekurangan? Maksud Mama apa?" Tanya Luna penasaran.
Bu Ratna menceritakan sebuah rahasia mengenai gangguan psikologis yang dialami Ran sejak kecil. Ia sangat berharap lebih pada Luna untuk membantu Ran pulih dari gangguan itu.
Ini adalah moment yang dinantikan keluarganya. Dimana Ran bisa berhubungan normal bersama seorang wanita apalagi ke jenjang pernikahan. Baginya ini adalah sebuah keajaiban, Ran mau menikah dan mau mencintai seseorang. Namun terlepas dari apa yang difikirkan Bu Ratna, ia tak tau maksud sebenarnya dari kemauan putranya itu. Yang menjadikan Luna sebagai pelarian untuk membuat Sabrina kalah dalam mengejar cintanya.
"Luna, Mama sebenarnya ingin memberitahu suatu rahasia tentang Ran padamu, Tapi sebelumnya apa Mama boleh bertanya sama kamu?"
"Boleh kok Ma."
Kaku banget lagi manggil Mama.
"Apa Luna benar benar diperlakukan baik oleh Ran? dan Luna benar benar mencintai Ran?."
Deg!
Pertanyaan calon mertuanya itu membuat nya semakin bingung, ia tak tau jawaban apa yang akan ia katakan didepannya. Di satu sisi memang Ran sangat menyebalkan dan ia pun belum menaruh perasaan apapun padanya, disisi lain, ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada calon ibu mertua nya itu. Karena ia tak mau mengecewakannya yang sangat berharap dan antusias dengan pernikahan ini.
"Em, e, Tuan baik kok tante, eh Ma. Ta, tapi kalau masalah perasaan Luna masih belum sepenuhnya tau. Luna hanya kagum dengan Tuan."
"Mama memakluminya. Jangan khawatir masalah cinta, cinta itu bisa datang sendiri seiring berjalannya waktu. sebenarnya Mama tau, Ran tidak akan mungkin tiba tiba mengatakan bahwa ia ingin menikah, berpacaran saja belum pernah, tapi Mama percaya, apapun yang terjadi mungkin ini adalah proses bagi Ran untuk pulih."
"Maksud tante?." Memasang wajah yang semakin penasaran.
"Ran menderita gangguan Disfungsi seksual, dimana ia di diagnosa seksual desire disorder."
Kedengarannya
sama seperti yang aku baca di surat diagnosa rumah sakit yang ada di meja Tuan.
"Gangguan itu membuatnya tidak memiliki hasrat pada lawan jenis, dan merasa tidak nyaman jika didekati wanita.
Awalnya Mama merasa gangguan itu akan hilang seiring berjalannya waktu dan saat Ran tumbuh dewasa. Namun kenyataannya tidak. Justru Ran masih anti dengan wanita dan malah membuatnya menjadi orang dengan kepribadian yang kaku dan tempramental." Ujarnya melanjutkan.
"Itulah mengapa Mama sangat senang dan antusias mendengar kabar pernikahan kalian, meski Mama tidak tau apa yang membuat Ran mengatakan hal itu, tapi Mama percaya sama Luna, Luna bisa membuat Ran sedikit demi sedikit pulih dari kondisi psikisnya. Karena dari yang Mama lihat, sepertinya Ran tidak begitu risih ketika berdekatan denganmu. Malah sampai memperkerjakan kami sebagai asisten pribadinya."
"Tapi Ma, bukannya dulu juga asisten Tuan seorang wanita juga, kabarnya dia juga lama bekerja dengan Tuan. Artinya Tuan cukup nyaman kan, kenapa Tuan tidak menikah saja dengannya." Akhirnya Luna mengungkapkan rasa penasarannya yang sudah ada di otaknya selama ini.
Menghela nafas panjang. " Sabrina, dulu juga Mama sempat berfikir bahwa Sabrina bisa menjadi obat bagi Ran, namun, Ran mengatakan pada Mama bahwa dia hanya menjadikan sabrina sebagai asistennya karena wujud rasa terimakasihnya karena selama kuliah dia banyak membantu dan menemani Ran, karena dari kecil, Ran tidak memiliki banyak teman. Temannya hanyalah Yao. Namun disaat kuliah mereka harus berpisah karena beda fakultas, dan karena sifat Ran yang tidak pandai bersosialisasi membuatnya tidak bisa berteman dengan sembarang orang."
"Saat itu hanya Sabrina lah yang sabar dan telaten mengajaknya untuk belajar bersama. Dan akhirnya mereka berteman."
"Namun kenapa Nona Sabrina bisa dipecat Ma, apalagi dengan tidak hormat. Padahal kan perannya tidak main main dengan perusahaan Tuan."
"Itulah puncak dari kemarahan Ran, karena kecerobohan Sabrina sendiri yang telah lalai membuat artikel yang membuat luka lama Ran kembali muncul. Dan luka itu yang membuat Ran susah bersosialisasi."
"Luna pernah mendengar rumor itu sebelumnya mengenai Tuan dari televisi, tapi Luna tidak terlalu penasaran mengenai hal itu. Em kalau Luna boleh tau, itu rumor apa ya Ma?"
Entah kenapa Luna selalu antusias ketika mendengarkan cerita yang berhubungan dengan calon suaminya itu.
"Sabrina membocorkan peristiwa masalalu Ran ke publik, dimana Ran pernah menjadi korban bullying. Apalagi tentang kepribadiannya yang cuek pada wanita itu sempat menjadi topik hangat di internet dan mengatakan bahwa Ran itu penyuka sesama jenis."
Bu Ratna mengutarakannya semua didepan calon menantunya itu, meski terasa sakit karena membuka lagi peristiwa yang sempat membuat anak bungsunya itu depresi, tapi baginya Luna harus tau semua tentang Ran, dan bisa menepis rumor rumor tidak benar mengenai Ran suatu saat nanti.
__ADS_1
Jangan lupa vote nya, komen dan like juga ya...Makasi❤️🤗