
Di sebuah kamar yang sederhana.
Gadis yang tengah bersandar di jendela kamarnya dengan mata terpejam, tengah mengira ngira kehidupan selanjutnya. Entah sanggup atau tidak dengan sandiwara yang telah mengikat hidupnya untuk menjadi istri sementara. Tertunduk lemas. Memeluk lututnya. Melihat awan diatas kepalanya yang begitu cantik nan indah. Seperti hiburan bahwa hidupnya tidak terlalu buruk. Kau bisa melewatinya. Ingat, hanya sementara.
Aku bisa, aku harus bisa!
Aku hanya melakukan tugasku seperti biasanya saja kan? istri hanya sebatas status saja kan? toh dia juga tidak akan mencintaiku.
Seperti berdiri ditengah hantaman ombak, hidupnya kini sedang melawan arus. Yang harus siap menerjang kapan saja. Ia harus kuat setegar karang untuk bisa melewati semuanya. Impiannya yang ingin mempunyai keluarga yang saling mencintai dan hidup bahagia serasa hanya sebatas angan angan.
Di tengah lamunannya. Ponselnya bergetar, tanda sebuah notif pesan masuk. Di layar ponselnya tertera nama Ibu Ratna.
"Sayang, bisa ke mansion Nak? Mama ajak fitting baju yuk, ditunggu ya!"
"Iya Ma, Luna siap siap dulu."
Luna menghela nafas pelan membaca pesan masuk dari mertuanya itu. Luna pun segera mandi dan bersiap untuk pergi ke mansion. Kali ini Luna memilih naik taksi.
Sesampainya Luna di salah satu perumahan Elite di kota A, Luna memberikan alamat yang telah dikirimkan oleh Bu Ratna sebelumnya pada supir taksi.
"Ini rumahnya Nona, kita sudah sampai."
"Oh ya makasih pak." Sambil memberi 2 lembar uang.
"Nona ini uangnya lebih." Memberikan selembar uang yang ia terima.
"Ah tidak usah pak, ambil saja. Anggap aja rejeki bapak hari ini." Memberi senyum lebar.
"Alhamdulillah, terimakasih Nona, semoga Nona bahagia selalu."
Luna menganggukkan kepalanya dan kemudian membalikkan badannya berjalan mendekati sebuah mansion besar dan megah yang ada didepannya.
"Wah gede banget ini mah, ini rumah apa istana? jadi minder mau jadi menantu keluarga ini." Memegang tali tas nya sambil berjalan menunduk.
Luna menghampiri pos satpam yang ada di sebelah gerbang mansion itu.
"Permisi, saya mau bertemu dengan Ibu Ratna."
"Nona Luna ya?"
"Iya pak"
"Baik, silahkan mari ikut saya masuk"
Luna pun masuk ditemani security mansion.
"Permisi Nyonya, Nona Luna sudah datang." Membungkuk sopan.
"Baiklah, terimakasih. Sekarang kembalilah."
"Baik Nyonya, saya permisi."
"Nona silahkan" Mengangkat tangannya mempersilahkan.
"Makasih ya pak."
Bu Ratna menyambut hangat kedatangan calon menantunya, ia menghampiri Luna dan memeluk hangat gadis cantik itu.
Luna membulatkan matanya ketika melihat beberapa gaun hasil rancangan designer ternama di negara ini, yang sudah menunggunya di ruang keluarga.
"Ini gaun yang mau Luna pakai Ma?"
__ADS_1
"Iya sayang, kamu coba ya. Ini khusus mama pilihkan buat kamu." Menuntun calon menantunya.
Gadis itu tengah mencoba beberapa gaun yang akan dipakai saat acara resepsinya itu berlangsung. Ia menjatuhkan pilihan pada gaun berwarna putih dengan bahan kamisol full brocade, dan bawahan yang ber volume. Luna terlihat anggun dan sangat cantik memakai gaun itu.
"Sayang, kamu cantik banget. Ah Mama jadi gak sabar lihat kamu nanti. Pasti seperti princess." Sambil mengelus bahu Luna.
Pipi Luna merona karena malu, ia juga tak percaya saat berdiri didepan cermin. Ia melihat dirinya yang bak seorang putri ketika memakai gaun itu.
Ini benar benar aku?
Andaikan ini adalah pernikahan sungguhan, pernikahan yang aku harapkan dengan seorang laki laki yang mencintaiku. Pasti aku sangat bahagia sekali.
Tak terasa bulir air mata jatuh perlahan dari pelupuk matanya. "Luna kamu kenapa sayang? kok nangis?" Ucap Bu Ratna khawatir. "Ah, enggak kok Ma, Luna hanya terharu. Sebentar lagi Luna akan menjadi seorang istri." Ucapnya berbohong.
Selang beberapa lama. Ran datang bersama Yao dibelakangnya. Ya, Ran juga diperintah Mamanya untuk datang ke mansion untuk fitting baju.
"Ran, kamu juga udah datang?" Berdiri dari duduknya dan menghampiri Ran.
"Iya ma."
Ran melihat Luna yang berdiri di depan kaca. Ia mengerutkan dahinya. Ia tak tahu kalau calon istrinya juga ada disini.
Itu bukannya Luna?
Dia disini juga?
Dan gadis itu memutar tubuhnya, dan sekarang terlihat aura Luna yang sangat bersinar. Tak lupa dia juga menunjukkan senyum manisnya didepan calon suaminya yang terperangah itu.
"Tuan, saya cantikkan?"
Ran masih terpaku melihat Luna dari atas sampai bawah. "I,iya kau cantik." Tak sadar mengatakannya pada Luna.
"Ah maksudku, gaun yang kau pakai cantik!" Memalingkan wajahnya. Luna pun langsung memonyongkan bibirnya.
"Luna, kau keren. Cantik poll." Ucap Yao menimpali seraya mengacungkan ibu jarinya.
"Hihi, makasih pak Yao."
Rama tak sengaja lewat didepan mereka, dan melihat Luna dengan gaun yang melekat dibadannya. Dalam hatinya ia memuji gadis itu. Tapi ada perasaan sakit ketika gadis yang ia sukai itu akan menikah dengan adiknya sendiri. Rama pun memalingkan wajahnya cepat. Menatap tajam Ran. Memperlihatkan raut tidak suka.
"Cih"
Terus berjalan dan tidak memperdulikan.
Urusan fitting baju selesai. Luna kini sedang berada di ruang TV sambil memainkan ponselnya. Dari belakang Ran berjalan menghampirinya. "Hei kau!"
Merasa ada suara, Luna menoleh kebelakang. "Eh iya Tuan ada apa?"
"Ikut aku!" Langsung memutar badannya memunggungi Luna dan berjalan ke suatu ruangan.
Hei kau! Hei kau!
Bisa gak sih kalau manggil pake nama aja .
Aku punya nama loh!
Dan itu apa lagi. Main tinggal aja.
Sok misterius banget.
Luna menyusul langkah Ran. Laki laki itu masuk ke ruangan kerja. "Ruang kerja? mau ngapain dia?" Luna mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Duduklah!" Melirik sofa disampingnya. Luna pun langsung duduk tanpa bersuara. Ia merasakan aura dingin diruangan itu tanpa sebab. Ditambah wajah laki laki dihadapanya sangat datar membuat suasana semakin mencekam.
//Brakk
Tiba tiba Ran melemparkan sebuah map berwarna coklat, tepat di pangkuan Luna.
Gadis itu mengerjit seketika.
Apa lagi ini?
"Tuan ini?" Mendongak menatap Ran.
"Bukalah! itu adalah surat perjanjian kontrak pernikahan." Bicara tidak menatap gadis didepannya.
Entah kenapa hati Luna makin sakit mendengar tentang surat perjanjian kontrak yang ada ditangannya sekarang. Jadi ini benar benar terjadi?
Perjanjian selama kontrak pernikahan:
Tidak boleh memberi tahu orang lain tentang fakta pernikahan ini ( kontrak ).
Selama pernikahan jangan sering melakukan skintouch.
Pernikahan bisa berlangsung selama 8 bulan, bisa kurang tergantung keputusan pihak laki laki.
Tetap lakukan tugas sebagai istri sebagaimana biasanya.
Pihak laki laki wajib menafkahi istri sesuai kewajiban.
Jangan sampai terikat dengan perasaan dan
Jangan pernah berharap tentang cinta, apalagi mengenai masalah ranjang.
Deg
Hati Luna seperti tertusuk ketika membaca semua peraturan dari Ran. Entah kenapa hidupnya bisa terikat dengan pria yang tidak normal seperti Ran. Meski ia tau penyakit yang diderita Calon suaminya. Namun Luna masih mempunyai sedikit harapan kalau kelak pernikahan ini akan tetap bertahan. Ia akan mencoba menerima segala kekurangan Ran. Karena ia tak mau mempermainkan arti pernikahan yang suci. Karena pernikahan bukanlah hal yang main main.
"Bagaimana? kau setuju?" Bicara dengan nada dingin.
"Bagaimana jika saya tidak sengaja melanggar salah satu dari perjanjian ini Tuan?" Tetap menunduk sambil menatap surat yang ada di tangannya.
"Maka detik itu juga aku akan langsung menceraikanmu! Tanpa menunggu waktu yang telah ditentukan" Ran mengatakan dengan entengnya tanpa ada rasa belas kasihan.
Luna terdiam mendengar ucapan Ran.
Tubuhnya seakan dicabik cabik mendengar penuturan laki laki hadapannya.
Aku bisa! aku bisa!
Anggap saja aku lagi berutang budi
Aku akan menutup rapat hatiku.
Kalaupun nanti hati ini kelepasan dan menyukaimu. Aku akan diam dan menyimpannya sendiri.
Semoga saja hati ini tidak menaruh perasaan apapun pada laki laki bedebah sepertinya!
..
__ADS_1
Bersambung
Hai, jangan Lupa Vote nya, like dan komen ya❤️🤗