Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 32


__ADS_3

Di kamar besar sebuah mansion.


"Pah, Mama gak yakin deh sama rencana Mama sendiri." bergumam sambil memeluk lengan pak Roy.


"Gak yakin kenapa ma? Bukannya mama sendiri pencetus ide itu." Pak Roy fokus dengan korannya.


"Ih kok mama sih, awal mula nya itu ya si Yao Zhang pah." Memukul pelan lengan suaminya.


"Tapikan akhirnya mama yang mengatur strateginya. Coba papa tanyak, kenapa mama begitu berapi api ingin mendekatkan gadis itu dengan Ran." Menutup korannya dan kini beralih memandang wajah istrinya.


Ratna beranjak dari tempatnya, ia mengambil sebuah surat yang ada di laci nakas sebelah ranjangnya. Dan menunjukkannya pada suaminya.


"Apa ini?" Sambil menunjukkan wajah kebingungan dan memegang kertas di dalam amplop itu.


"Itu surat dari almh. Risa, sahabat mama pah. Papa inget dia kan?" Bola mata Roy memutar, mengingat kembali nama yang tidak asing ditelinganya itu.


"Dia yang waktu ikut reuni 15 tahun lalu bukan? Yang anak perempuannya pernah bermain dengan Ran kita?"


Ratna menganggukkan kepalanya pelan.


"Dia sudah meninggal ma?"


"Iya pah, dan dia menyembunyikan penyakitnya selama ini. Dia menghindar dari teman temannya. Namun mama pernah mendengar kabar bahwa suaminya bangkrut. Ketika mama ingin menemuinya dan mau membantunya, mama tidak menemukan keberadaannya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Dan sampai akhirnya 3 bulan yang lalu, Sinta memberiku kabar bahwa Risa sudah meninggal karena penyakit paru paru." Menundukkan kepalanya.


Roy mengelus tangan istrinya. "Ikhlaskan saja ma, mungkin dia tak ingin membuat mama dan Sinta mengkhawatirkannya atau mungkin punya alasan lain."


"Jadi ini surat darinya?" Sambil membuka lipatan kertas.


"Iya pah, bacalah."


"Ratna, bagaimana kabarmu? Semoga kau selalu bahagia, dan selalu sehat. Aku Risa Na. Kalau kamu menerima surat ini, itu tandanya aku sudah pergi selamanya dari dunia ini. Maaf selama ini aku menghindar darimu dan Sinta. Aku hanya ingin healling Na. Aku tidak ingin sahabatku mengetahui sakitku, aku selalu merindukan kalian berdua.


Aku selalu ingin kita bersama sama, seperti masa masa kita dulu. Namun kita memilih jalan masing masing untuk menuju masa depan. Aku ingin hubungan kita terjalin sampai anak cucu kita nanti. Sebelum penyakitku makin parah, aku sering mengunjungi kantor Ran. Aku senang melihat Ran tumbuh menjadi pria yang tampan dan jenius. Aku ingin suatu saat Ran bertemu dengan Luna anakku, dan mereka bisa menjaga satu sama lain.


Andai suatu saat itu terjadi, aku mohon titip putriku yang nakal itu ya Na.

__ADS_1


Sinta akan memberitahumu semuanya.


Semoga kau dan Sinta selalu diberi kebahagiaan.


....Risa❤️..."


Setelah Roy membaca habis surat itu, ia kembali menatap Ratna, yang matanya sudah berkaca kaca.


"Jadi ini alasan mama untuk mendekatkan mereka berdua?"


"Iya pah, mama juga gak pernah menduga sebelumnya, kalau gadis itu dan Ran benar benar dipertemukan. Bahkan menjadi asisten pribadi anak kita. Jadi mama ingin mewujudkan permintaan mandat Risa. Dan momen ini sangat tepat pa.


Mengingat ia adalah sahabat mama yang selalu ada ketika mama susah dan kesepian. Aku rindu padanya pah." Muncul senyum tipis dibibir Ratna ketika mengingat kembali kenangannya bersama Risa.


"Apa mama sudah menemui gadis itu? bagaimana dia sekarang? Yang papa ingat, dia dulu adalah gadis kecil yang ceria dan cengeng." Terkekeh.


"Mama belum menemuinya saat ini pah, tapi sebelum anak itu menjadi asisten Ran, mama pernah mengikutinya beberapa hari."


..


"Iya, kau lihat saja sendiri nanti."


Ratna dan Sinta duduk didalam mobil yang terparkir di seberang bawah jembatan. Mereka tengah menunggu seseorang yang Ratna ingin sekali menemuinya.


Tak lama kemudian, seorang gadis menggunakan motor matic yang sedikit usang dan menggunakan rompi kurir datang, ia kemudian turun dan bergabung bersama gerombolan anak anak jalanan itu sambil membagikan kotak makanan.


"Ratna! itu dia!" Sinta menoel lengan Ratna yang sedang tancap.


"Eh iya mana?" Melemparkan kuas dan kaca ditangannya. Melihat gerak gerik gadis yang dicarinya itu ikut duduk diantara anak anak kecil yang sedang bahagia karena kedatangannya.


"Jadi dia Luna, Sin?" Bertanya sambil terus memandangi Luna.


Memegang bahu Ratna. "Iya Na, dia adalah duplikat Risa. Mereka sama sama berhati mulia kan?" Ikut melihat kegiatan diseberangnya. Ratna tersenyum melihat Luna yang persis dengan Risa.


Luna yang saat itu ikut duduk bersila di kelompok anak jalanan yang sedang beristirahat, dan ikut bermain beberapa alat musik serta membagikan bingkisan yang berisi makanan, minuman dan jajanan. "Makasih kak Luna" Ucap salah satu anak jalanan itu yang bernama riky. Terlihat tawa bahagia dan senyum, serta doa yang terucap dari anak anak terlantar itu pada gadis muda yang sudah 2 tahun bersama mereka. Bersama dalam arti, selalu menghampiri kediaman mereka untuk memberi sedikit uang jajan. "Semoga kakak banyak orderan ya, dan rejekinya makin banyak!" Mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


Luna sering mengajari anak anak itu untuk membaca dan menulis dan memberikan pengetahuan seperti anak anak disekolah pada umumnya, ia memanfaatkan ilmu yang dia dapatkan untuk para anak anak yang tidak mampu bersekolah. Dia ingin suatu saat nanti ia bisa mendirikan sekolah gratis untuk masyarakat duafa.


Meski bantuannya tidak sebanyak seperti dulu, disaat perusahaan ayahnya belum bangkrut, namun Luna masih tetap membantu mereka semampunya. Menyisihkan uang dari gajinya menjadi kurir dan terkadang orderan makanan yang tiba tiba di cancel tanpa alasan yang jelas, ia berikan kepada teman kecilnya itu.


Baginya, hidup yang sedang dijalaninya meski menjadi kurir pengantar paket. Namun ia lebih bersyukur karena masih diberi keluarga dan tempat untuk pulang, serta pekerjaan sebagai sumber penghasilannya.


Luna sering mendapat cibiran dari tetangga tetangganya bahkan kerabatnya


sendiri mengenai pekerjaannya.


"Padahal sudah dapat gelar sarjana, tapi kok malah jadi kurir!"


"Kasian orang tuanya susah payah buat biayain kuliah tapi malah jadi kurir!"


"Kalau anakku yang begitu, mending gausah aku kuliahin sekalian!"


"Iya! minimal kantoran kek biar ada gunanya tuh ijazah S1!"


"Sok sok an lanjut S2, apa cukup tuh sambil menjadi pengantar paket?"


Semua kata kata yang dilontarkan para tetangga julid di rumahnya itu sudah seperti sapaan Luna setiap pagi dan sepulang kerja. Ia tak begitu ambil pusing dengan omongan pedas tetangganya pada dirinya, toh ia juga selama ini berusaha sendiri, tanpa meminta belas kasihan mereka. Dan selama ia menjalani pekerjaannya dia enjoy, senang itu sudah cukup baginya. Asal pekerjaan yang dilakoninya itu halal dan tidak merugikan bagi masyarakat, kenapa tidak.


Baginya, hidup itu bagaimana kita mencari jalan kebahagiaan untuk diri kita. Jangan pernah menganggap bahwa suatu saat nanti, ketika tiba tiba dalam hidup kita tidak menemukan jalan keluar, bukan berarti sedang terjebak dan kita hanya bisa pasrah dan berfikir semua adalah akhir.


Namun juga kita sebagai pejuang seharusnya membuat jalan baru untuk mencapai titik tujuan dari perjuangan kita.


Dan untuk pendidikan bagi Luna, itu seperti hal nya bagaimana kita bisa bermanfaat pada orang lain atas ilmu yang kita punya, bukan semata mata hanya untuk mencari pekerjaan yang enak saja.


Tapi juga untuk kita sendiri, kalaupun dari itu semua bisa mendapat pekerjaan yang bisa dibilang impian semua orang, itu adalah bonus. Itu adalah nasib dan rejeki setiap orang selama kita berusaha yang terbaik.


..


Jangan bersedih hanya karena pekerjaanmu tidak bergengsi ataupun tidak berkelas, yang terpenting adalah, bagaimana kamu bisa bahagia dengan apa yang kamu lakukan. Hargai perjuanganmu sendiri. Mulailah mencintai diri sendiri. Komentar orang biarlah menjadi acuan semangat kita untuk menjadi yang terbaik. Selamanya yang mengerti kamu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. ^_^


Halo... Jangan lupa vote nya ya:) Komen dan Like juga untuk support author🤗

__ADS_1


__ADS_2