
Vera kembali ke meja kerjanya. Meraih ponselnya dan mengetikkan pesan pada seseorang. Lalu kembali menaruh ponselnya dan kembali fokus ke depan komputer.
Di apartemen.
"Silahkan Nona. Ini kamar anda dan Tuan muda." Ucap Andi mempersilahkan Luna masuk.
Aku harus sekamar lagi dengan dia.
Apartemen seluas ini bisa saja mempunyai kamar lebih kan.
Coba saja aku bertanya.
"Eh Mas Andi, di apartemen ini ada berapa kamar ya?."
"Disini sebetulnya ada 3 kamar dan 1 gudang Nona. Namun setelah tuan muda menambah pelayan lagi. Gudang itu kini di rombak menjadi kamar untuk pelayan baru kami." Bicara dengan ekspresi datar.
Kenapa auranya gak jauh beda sama si laki laki frozen itu ya.
Sama sama dingin. Apa mungkin dia sudah terkontaminasi virus judes tuannya itu ya.
"Kalau 3 kamar yang lainnya?."
"1 kamar tempat saya, 1 kamar lagi adalah kamar tamu. Dan satunya lagi kamar utama yang ada didepan anda sekarang." Lagi lagi wajah andi tidak terbalut senyum sama sekali. Dia bicara dengan wajah tanpa ekspresi.
Sebaiknya aku tinggal di kamar tamu aja deh. Daripada sekamar berdua dengannya.
"Ah kalau begitu antar saya ke kamar tamu aja deh mas." Luna seraya menenteng paperbag yang dibawanya.
"Untuk apa anda ke kamar tamu Nona. Kamar anda ada disini bersama tuan muda." Nada bicara andi kini seperti mempunyai artian, Hei ngapain kau tidur dikamar yang berbeda dengan suami anda. Jangan buat masalah Nona.
Mukanya ga bisa santai lagi.
Aku benar benar seperti menghadapi 2 elsa frozen di rumah ini.
__ADS_1
1 aja udah bikin nyebut eh malah nambah lagi.
"Aku hanya liat liat saja kok hehe."
"Baiklah ikut saya." Ucapnya lagi.
Luna mengekori Andi dibelakangnya menuju kamar tamu yang ada di sebelah kamar utama.
Cih, padahal kamar ada disampingnya, tinggal nunjuk doang apa susahnya sih. Pake di anter segala lagi.
"Silahkan Nona." Membuka pintu kamar.
"Terimakasih Mas Andi. Bisa tolong tinggalkan saya."
"Baik Nona." Mengangguk hormat.
Pergi. Pergi yang jauh sana.
Apartemen mewah milik Ran memiliki 2 lantai, dimana lantai 1 terdiri dari ruang TV, Ruang Tamu, Dapur, 2 kamar tidur, dan 1 set meja bar. Sedangkan dilantai 2 terdiri dari kamar tamu, kamar utama, ruang kerja, tempat gym, balkon utama yang lumayan luas disertai privat pool. Apartemen yang di desain sangat mewah dan elegan ditempati oleh seorang pimpinan perusahaan label tersukses di negeri ini. Bahkan unit Ran satu satunya paling mewah dan paling mahal diantara unit elite di sekitarnya. Fasilitas yang sangat lengkap, nyaman, interior yang klasik tapi modern dirancang sesuai keinginan Ran, yang menyukai nuansa eropa.
Suara bel berbunyi, Andi membuka pintu. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang membawa beberapa kantung belanjaan didampingi beberapa asisten dibelakangnya.
"Nyonya, selamat datang." Membungkuk sopan. "Dimana menantuku Andi?." Mengedarkan pandangannya. "Nona berada di kamar tamu." Sontak Bu Ratna sedikit terkejut, kenapa menantu cantiknya itu bisa berada di kamar tamu.
"Kenapa menantuku di kamar tamu." Sambil berjalan keatas menuju lantai 2. "Nona sendiri yang meminta Nyonya, katanya melihat lihat saja."
Bu Ratna mengetuk kamar tamu. Namun tidak ada sahutan dari dalam, ia pun perlahan membuka pintu yang memang tidak terkunci. "Sayang." Pandangan Bu Ratna tertuju pada seseorang yang sedang tidur di ranjang kamar itu. "Dia tidur rupanya. Yasudah, sebaiknya aku biarkan dia istirahat dulu." Berjalan menghampiri Luna, dan mengecup sayang kening menantunya itu. "Semoga kau membawa kebahagiaan dirumah ini dan di hidup Ran sayang." Gumamnya lirih.
"Baiklah Andi, kamu dan tika bantu saya ya. Beberapa asistenku juga akan membantu."
"Memangnya ada apa Nyonya?."
"Aku ingin masak besar hari ini, dalam rangka menyambut kedatangan menantuku dirumah ini." Bicara dengan nada antusias.
__ADS_1
Bukan hal yang mengagetkan kalau di keluarga Nalexa Bu Ratna sering ikut sibuk di dapur. Karena Bu Ratna sendiri dulunya adalah mantan chef di sebuah restoran di luar negeri, tak heran ia juga sering bergelut didapur, memasak untuk keluarganya. Namun itu tidak sering, hanya beberapa momen tertentu saja. Seperti sekarang, kedatangan keluarga baru nalexa. Ia menyambutnya dengan suka cita, selain menganggapnya menantu, Bu Ratna justru menganggap Luna sepertu anak kandungnya, karena setiap ia melihat wajah gadis itu. Ia selalu teringat tentang mendiang sahabatnya.
"Baiklah tika, kamu menyiapkan bahan bahan untuk omelet ya, dan kamu Dini, tolong cuci semua buah dan sayuran, dan untuk kamu Lilis bantu saya memotong daging ya." Memberi instruksi ke masing masing pelayan.
Keramahan Bu Ratna tidak usah diragukan lagi. Tak heran banyak pelayan yang dekat dengan wanita yang berusia hampir 52 tahun itu. Meski kedudukannya di mansion sebagai Nyonya, ia menganggap semua pelayan adalah sebagian dari keluarganya, ia tidak pernah memandang kasta para pelayan. Para pelayan pun begitu menyegani kerendahan hati Nyonya Roy itu. Tak jarang Bu Ratna menyempatkan waktu didapur bersama beberapa pelayan wanita di mansion untuk belajar memasak aneka menu, mulai dari Western, lokal, tradisional, Timur tengah, Korean food dll.
Kali ini tema meja makan mereka adalah Korean food. Bu Ratna dan para pelayan akan menghidangkan beberapa menu korea seperti, Ttoppokki, Kimchi, sundubu jiggae, Ddak Galbi, Ayam goreng saus pedas, bulgogi, omelete dan juga beberapa dessert lainnya.
"Kita makan enak kali ini. Dalam rangka menyambut hadirnya keluarga baru Nalexa dirumah ini." Memberi senyuman tulus pada pelayan.
Tak jarang kadang pelayan wanita sangat iri pada Nona muda mereka, selain mendapat suami setampan dan sekaya raya Zhuran, dia juga mendapat sosok mertua yang sangat baik, tulus dan rendah hati, sangat paket komplit. Sungguh impian bagi semua wanita dimuka bumi ini.
Satu persatu masakan sudah terhidang di meja makan, kini Bu Ratna dan Tika sedang menghias sebuah cake yang berkarakter wajah Luna. Dihiasi dengan butter cream. Kelihaian Bu Ratna memang tidak usah diragukan. Ia menggambar wajah menantunya diatas cake sangat lah detail dan mirip.
"Wah, mirip banget sama wajah Nona Nyonya." Ucap Tika sambil tepuk tangan kecil.
"Iya dong, siapa dulu."
Di sebuah kamar.
"Bau apanih?." Sambil mengendus endus aroma yang membuat perutnya keroncongan. "Ah aku laper banget." Membuka matanya dan perlahan duduk. Ngumpulin nyawa dulu gaes.
"Capek banget, sampai ketiduran gini." Meregangkan otot ototnya, mengangkat tangannya ke udara.
"Sebaiknya aku makan aja deh, baunya menggoda banget, pelayan lagi masak apa ya?." Menyeret kakinya keluar kamar.
Ketika Luna hendak menuju dapur, ia terkejut dengan isi yang ada di meja makan. Luna membulatkan matanya. "Buset banyak amat makanan. Apa setiap harinya memang begini? Boros banget. Lagipula siapa yang akan makan, penghuni rumah ini kan hanya ada 4 orang, tapi kenapa pelayan memasak seperti orang yang sedang tasyakuran aja. Apa ada yang ulang tahun mungkin ya." Menggaruk kepalanya.
Ketika hendak menuju dapur ingin mengambil air dingin, Luna dikejutkan lagi dengan seseorang yang tengah berdiri menghias sebuah kue.
"Mama!."
Bersambung...
__ADS_1