Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 52


__ADS_3

Wanita paruh baya itu ikutan terkejut dengan suara Luna. Gadis itu mendekati mertuanya. Menatap kue didepannya, seperti tidak asing dengan gambar yang di hias oleh mertuanya itu.


"Kok seperti wajah Luna Ma?." Memandangi kue didepannya dengan raut muka heran. "Hahaha ini memang wajahmu sayang " Mengusap kepala menantunya gemas. "Ini semua Mama loh yang masak buat menyambutmu sebagai anggota baru keluarga nalexa." Tersenyum lebar.


Mereka sampai segitunya padaku.


Gimana ya reaksi Mama kalau tau aku dan Tuan Ran hanya menikah kontrak.


"Iya Non. Ini semua ide Nyonya untuk Non. Saya jadi pengen deh punya mertua seperti Nyonya." Eh, keceplosan. Tika, menutup mulutnya setelah mengatakan itu.


Bu Ratna yang mendengarnya pun hanya bergelak. Menepuk bahu Tika seperti mendoakan semua dia juga bisa dapat mertua baik sepertinya. "Kalau kau mau, kau bisa menikah dengan putra pertamaku Tika." Dari nada nya sih agak serius, tapi Tika menanggapinya sebagai sebuah candaan saja. Ia tau siapa Rama dan bagaimana sifatnya. Berbeda jauh dengan Ran. Meski Ran begitu dingin dan cuek, itu lebih baik daripada Rama yang sangat suka menggauli wanita apalagi sifatnya yang sedikit angkuh dibanding Ran. Apalagi ia sadar posisinya sekarang. Menikah dengan putra sulung Bu Ratna itu adalah titik ketidak masuk akalan yang paling besar di hidupnya.


"Sayang kamu bersihin badan kami dulu gih, setelah itu kita tunggu suami kamu datang dan makan bersama."


"Habis ini aja Ma. Luna mau bantuin Mama aja dulu."


"Eh gausah, sudah hampir selesai kok, lagipula banyak pelayan yang membantu Mama. Tenang aja, Mama gak mau menantu cantik mama kecapek an."


Luna pun menurut. Kecapek an apanya, baru juga bangun tidur. Luna makin merasa tidak enak pada mertuanya. Ia takut kalau kenyataan dari permainan rumah rumahan ini sampai terbongkar dan diketahui Bu Ratna. Rasanya sangat berdosa sekali kalau ia sampai mengecewakan mertua sebaik Bu Ratna. Tapi masalahnya disini adalah Tuan Ran. Semuanya gara gara laki laki bedebah itu.


Di Ruang kerja Ran


Laki laki itu daritadi hanya fokus dengan komputer didepannya. Meski sorot matanya menatap layar komputer, tapi kedua tangannya juga aktif. Yang sebelah kanan memegang pulpen untuk menandatangani berkas yang sudah menumpuk karena cuti nikahnya. Dan tangan yang satunya lagi sedang menata tumpukan berkas yang sudah ia tandatangani.


Ketukan pintu terdengar, Ran masih tidak berkutik dari kegiatannya. Ia hanya mempersilahkan seseorang dibalik pintu itu untuk masuk.


"Tuan."


"Hemm. Ada apa?."


Vera berjalan mendekat menuju meja Ran. "Saya ingin mengantarkan ini saja." Menyodorkan sebuah map. "Taruh saja dimeja." Jawabnya singkat. "Tuan tidak mau melihat dulu.?"


Ayo lihatlah, lihatlah hasil kerja kerasku.


Anda pasti bangga dengan usaha saya.


"Nanti aku lihat. Kau tidak lihat tanganku sedang sibuk?." Jawabnya dengan nada ketus. "Tapi Tu.." Ran menatap dingin Vera. Seperti mengartikan, kalau kau banyak bicara sebaiknya kau keluar dari ruangan ini. "Ada perlu apa lagi?."


"Tidak ada Tuan, saya hanya menyerahkan itu saja."


"Kalau begitu keluarlah dari ruanganku, dan lanjutkan kerjaanmu."


"Baik Tuan."


Vera pun berjalan keluar ruangan Ran dengan langkah malas. Rencananya untuk mencari perhatian Ran gagal lagi kali ini. Vera menuju meja kerja nya dengan langkah kaki yang menghentak hentak, membuat para staff yang wara wiri bertanya tanya. Kenapa dia ini.


"Sial. Kenapa Tuan gak lihat laporanku sih. Padahal aku sudah rela melembur berhari hari mengerjakannya. Tapi apa tadi?. Dia bahkan tidak melirikku sama sekali." Gerutunya sebal.


Ponsel Ran berdering di meja. Laki laki itu masih tetap fokus dengan pekerjaannya. Semakin lama bukannya berhenti, ponselnya terus berbunyi.


"Haisshh! Siapa sih.?" Meraih ponselnya.

__ADS_1


"Mama. Tumben."


"Halo iya Ma?."


"Nak kamu bisa pulang sekarang?."


"Ck, Ran sibuk Ma, banyak kerjaan yang harus Ran selesaikan setelah Ran cuti kemarin."


"Pulanglah sebentar Nak, Mama udah di apartemen kamu ini. Mama udah siapin makanan."


Kenapa Mama ada di apartemenku.


Dan jarang jarang Mama masak di tempatku.


"Mama mohon Ran. Pulang ya. Serahin dulu kerjaanmu pada orang kepercayaanmu Nak." Ucapnya sedikit memelas.


"Hmm baik baik. Ran pulang setelah ini."


"Mama tunggu lo ya. Jangan lama lama."


"Iyaa."


Ran menutup telfon. Ia menghela nafas kasar. Kenapa Mamanya tiba tiba menyuruhnya pulang. "Yao! panggilkan Vera kemari." Tak ada sahutan dari Yao.


Sedangkan Yao asyik menggoda para staff wanita yang bertugas di depan ruangan Ran.


"Yao Zhang!!!!"


bluaarrr


"Waduh, ada apa lagi tuh."


Gawat Ran mode iblis


Yao langsung melesat segera menuju ruangan Ran. "Darimana saja kau Yao?." Kali ini raut muka Ran benar benar merah padam.


"A,anu, i,itu aku lagi ee.." Belum menyelesaikan perkataannya, tiba tiba sebuah bolpoin melesat sempurna tepat di dahinya.


"Aww!!" Yao mengaduh sambil menyentuh dahinya.


"Bisa bisanya disaat aku sibuk begini bukannya bantu tapi malah asyik godain perempuan diluar!." Bicara dengan sorot mata membunuh.


"Bu,bu,bukan seperti itu Ran. Tadi salah satu staff perempuan itu hanya menanyakan sesuatu masalah pekerjaan saja kok. Siapa yang menggodanya." Berusaha ngeles.


"Alasanmu saja!."


"Panggilkan Vera kembali!."


"Bukannya dia barusan masuk keruanganmu?."


Ran tak menjawab. Kembali menatap Yao dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Yao paham arti dari sorot mata itu. Seperti lakukan saja apa yang diperintahkan. Jangan membantah.


"Ba,ba baik Ran." Langsung lari kocar kacir.


Setelah Yao memberitahu Vera, gadis itu pun langsung beranjak dan berjalan dibelakang Yao.


Tadi aku dicuekin. Sekarang dipanggil lagi.


Memang susah menebak jalan pikiran Tuan Ran.


"Ada apa Tuan?." Membungkuk hormat.


"Selesaikan yang dimejaku. Terserah kau kerjakan di mejamu atau disitu. Yang penting hari ini harus selesai!."


"Baik Tuan."


Apa! Baru saja aku menyodorkan laporanku saja anda tidak meliriknya sama sekali. Dan sekarang dia memberiku kerjaan lagi?. Dan lihat. Kenapa menumpuk seperti itu.


Sial, aku melembur lagi nanti.


"Yao! siapkan mobil."


"Mau kemana?."


"Pulang."


Kenapa pulang.


"Mama memintaku untuk pulang. Entah ada apa." Bicara dengan raut wajah datar.


Ran meraih jas nya di sebuah manekin. Setelah memakainya ia langsung turun. Yao menyusul dibelakangnya.


Kenapa buru buru sekali sih.


sebenarnya ada apa ini.


Kenapa bos madam menyuruhnya pulang.


Yao pun tidak berani bersuara lagi. Ia tau kalau sampai dia banyak bertanya, ia akan menerima sorotan mata membunuh lagi dari Ran.


Yao membukakan pintu belakang. Setelah Ran masuk mobil, Yao turut masuk dan perlahan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Di apartemen.


Setelah selesai mandi, Luna kembali menghampiri penghuni apartemen yang ada di dapur dan ruang makan. "Sudah selesai Ma?." Melihat semua makanan terhidang rapi diatas meja.


Suara bel pun berbunyi. Andi menghampiri pintu dan membukanya.


"Tuan besar, Tuan Rama." Menunduk sopan.


Pak Roy membalas senyuman Andi. Namun tidak dengan Rama. Ia memasang raut wajah masam dan ditekuk semenjak perjalanannya ke apartemen Ran.

__ADS_1


*Kalau saja papa tidak mangancamku, mana sudi aku menginjakkan kakiku disini.


Bersambung*...


__ADS_2