Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 44


__ADS_3

Di sebuah kamar.


Yao mondar mandir didepan TV. Menggigit jari. Keringat yang terus membasahi wajahnya. Ia siap menerima amukan raja singa setelah ini. Karena perbuatannya yang ceroboh. Seharusnya ia menyiapkan Ran kopi. Bukan susu. Bahkan sekarang ia tak punya nyali untuk keluar kamar.


Tak lama gedoran pintu kamar Yao terdengar menggelegar. Seakan akan seseorang mencoba membobol pintu hotel itu. Nyali Yao semakin menciut. Seolah paham siapa orang diluar pintu kamarnya itu.


"Mampusss! Pasti si Ran. Sial aku harus bagaimana ini?. Aku lebih baik berkelahi dengan 10 preman daripada berhadapan dengan amukan kapten thanos itu." Menggigit kuku jarinya.


"Yao!! Buka pintu! Cepat! atau aku dobrak pintu ini?" Suara Ran terdengar seperti ledakan nuklir yang bisa membuat gendang telinga siapapun yang mendengar akan bergema.


"Mati aku! Harus gimana ini?. Okey okey. Yao, kau pasti bisa." Menenangkan diri sendiri sambil menarik nafas panjang. Dan setelah terkumpul sedikit nyali. Yao melangkahkan kakinya. Berjalan tegap sambil membusungkan dada.


Masih beriringan dengan suara gedoran pintu yang seperti akan copot dengan engselnya. Yao perlahan mengangkat tangannya sembari bergetar.


//Ceklek//


Pintu terbuka. Yao perlahan mendongakkan kepalanya. Penampakan yang pertama muncul di depan wajahnya yaitu aura wajah yang sangat mencekam. Dengan tatapan tajam yang sangat menusuk. Seperti banteng ngamuk yang siap menyeruduk mangsanya.


//Glup//


Yao menelan ludah kasar.


" Katakan kalau kau yang melakukannya!." Bicara dengan nada pelan namun menekan. "M, maksudmu apa bestie?. Melakukan apa?." Nyengir seperti orang tak bersalah. Berusaha mengelak dari kesalahan. Ran menghembuskan nafas kasar. "Kali ini aku serius!.Katakan, sebelum satu kakimu menghilang Yao!" Dengan nada yang sedikit meninggi.


Pura pura berfikir. Memutar bola matanya. "Sepertinya aku ti-" Tiba tiba tangan Ran menyambar lehernya. "Kau tau kan aku tidak suka basa basi hemm?" Mendekatkan wajahnya. Mengeratkan giginya.


//Glupp//


Yao berkali kali menelan ludahnya sendiri. Kini bulu kuduknya yang merinding. Seketika ia mengeluarkan benda kecil yang ada disakunya. Menempelkan ke jidatnya. Dengan tangan gemetar.


Mama?


Benda kecil itu adalah foto Bu Ratna. Mama Ran sendiri.


"To, tolong lepaskan dulu Ran. Dengar penjelasanku!" Meringis menahan sakit yang ada dilehernya. Ran pun menghempaskan tangannya kasar.


"Uhukk uhukk." Terbatuk akibat tekanan lehernya yang tadi. "Kenapa sampai Mama menyuruhmu melakukan ini?"


"Tenang dulu bray. Mending masuk dulu. Malu diliatin mas mas tuh." Menunjuk seorang staff hotel yang sedang membawa peralatan kebersihan. Yang kebetulan lewat dan melihat kejadian mencekam tadi. Ran menoleh kearah laki laki yang ditunjuk Yao. Menatap dengan tatapan maut.


Ya Tuhan.


Tuan itu serem amat.


Serasa mau dibunuh Gue.


Seketika laki laki itu langsung kabur menuju lift dengan kecepatan tinggi.


Kembali menatap target. Yao mempersilahkan Ran masuk dengan senyum semanis mungkin. Meski di dalam hatinya memaki.


Ran menjatuhkan tubuhnya kasar di sofa. Yao yang melihat itu memilih berdiri. Memberi jarak agak dari Ran. "Katakan! Apa rencana Mama?!"


"B,bos madam bilang. Kalau aku harus memberimu obat perangsang. U,untuk memberimu reaksi terhadap hormon seksualmu. Apalagi kau sudah menikah. Bos Madam berfikir kalau kau tidak akan bisa melakukan itu tanpa bantuan obat itu." Menjelaskan dengan nada gemetar tanpa menatap laki laki di depannya.

__ADS_1


"Melakukan apa?"


Yao mengangkat tangannya dan mengepak gepak kedua telapak tangannya.


Sebuah bantal melesat tepat di wajah tampan Yao. "Kau tau apa hah!" Kembali menatap dengan sorot mata membunuh.


"Ma,maafkan aku Ran. Aku hanya menuruti perintah." Yao akhirnya terkulai lemas. Lututnya menyentuh lantai. Seakan kakinya sudah tak mampu lagi menopang badannya.


"Lalu kenapa kau mau sialan! Dan akibat perbuatanmu yang bodoh itu. Luna terkena getahnya! kau tau Luna men-" Menghentikan bicaranya.


Jangan! jangan sampai orang lain tau. Apalagi cunguk didepanku ini.


Yao mendongakkan kepalanya. Penasaran dengan apa yang dikatakan Ran. Mengharap Ran meneruskan perkataannya.


"Haissshh!" Mengibaskan tangannya ke udara.


"Ran. Tolong maafkan aku kali ini Ran." Memasang raut memelas. "Ubah raut wajahmu! jijik aku melihatnya." Seketika wajah Yao berubah datar.


"Kau di janjikan apalagi oleh Mamaku?. Apa selama ini gajimu kurang ha! Apa perlu aku naikkan gajimu 5 kali lipat?"


"Bu,bukan itu Ran. Gajiku saat sudah lebih dari cukup kok. Hanya saja waktu itu bos Madam berjanji akan menyiapkan kencan buta untukku dengan seorang wanita. Anak dari teman Bos Madam." Menjelaskan lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Jadi kau melakukan hal gila ini demi seorang wanita!" Yao hanya terdiam.


"Bukannya selama ini kau selalu menggoda semua staff wanita yang di gedungku?. Kenapa kau bertindak seolah olah kau ini tidak laku?"


Yao hanya terdiam pasrah. Bagaimanapun tindakannya kali ini sangat berisiko. Dan pada akhirnya, hari inilah ia menerima ganjarannya. Apalagi sasarannya luput dari rencananya.


Di kamar President Suite


"Kenapa aku malah tidur disini. Bukannya tadi aku mau ke pantai?" Menyingkap selimut yang ada diatas badannya. Luna membelalakkan matanya, terkejut bukan main melihat tubuhnya yang bugil tanpa menggunakan sehelai kain pun. Ia menutup kembali selimutnya cepat.


Astaga!!


Apa yang terjadi? Kenapa aku ketiduran dengan tanpa baju begini.


Berusaha mengingat ingat kejadian sebelumnya. Matanya kembali mendelik. Menyadari apa yang sudah terjadi ketika ia hendak ke pantai tadi pagi.


Ja,jadi aku tadi telanjang didepan Tuan Ran?.


Dan tadi juga aku menciumnya!!


aaaaaaa


Menutup wajahnya malu. Ia menjerit tanpa suara mengingat apa yang sudah dilakukannya tadi. Membuat Luna semakin tak punya nyali untuk bertemu Ran lagi.


Aku pasti sudah gila!


Kenapa bodoh sekali! aku sudah lancang mencium bibir keramat itu!.


Ya meski aku sudah menjadi istrinya. Tapi ingatlah dengan perjanjian itu. Apalagi perlakuannya selama ini. aku harus ingat. aku ini hanya istri pelarian. Bukan istri sungguhan


Tapi, kenapa tadi dia tidak menolak. Dan malah membiarkanku menciuminya.

__ADS_1


Dia juga menggendongku waktu aku telanjang kan??


aaaa aku ingin lari sekarang! Aku ingin pulanggg!!


Luna mencak mencak sendiri di ranjang. Tidak tau betapa besar rasa malunya itu. Pipinya sampai berubah menjadi merah tomat. Mengingat kejadian tadi membuatnya ingin hilang dari bumi detik ini juga.


//Ceklek//


Suara handle pintu membuatnya terhenti. Ia menduga kalau itu laki laki yang sangat tidak ingin dia temui sekarang. Luna kembali menelungkupkan badannya kedalam selimut.


"Bagaimana ini?. Aku bahkan enggan menatap matanya. Aku malu setengah mati." Sambil menggigit kukunya.


Laki laki itu berjalan. Dan mengetuk pintu kamar. Merasa tidak ada sahutan. Laki laki itupun langsung masuk membuka pintu kamar Luna.


"Tuan Ran?. Anda didalam?." Suaranya nampak asing ditelinga Luna. Yang pasti itu bukan suara Ran.


"Ya udah deh. Taruh makanannya disini aja." Menaruh nampan berisi makanan dan minuman diatas nakas samping tempat tidur.


Tanpa terasa Luna menggerakkan kakinya. Yang membuat pergerakan dibalik selimut.


"Tuan?. Anda masih tidur?" Ucap laki laki itu.


Dia bukan laki laki sialan itu.


Lalu siapa laki laki ini? kenapa dia bisa dengan mudah masuk ke kamar ini?


"Eh, saya bukan Tuan Ran mas. Anda siapa ya?" Tanya Luna menyelidik.


"Oh saya Andi Nona. Pelayan yang bekerja di apartemen Tuan Ran, yang diutus untuk kemari. Dan mengantarkan makan siang."


Pelayan Rupanya.


Apa! Dia sampai sampai membawa pelayan nya yang di apartemen kesini!


"I, iya sudah taruh saja disini." Mengeluarkan tangannya dibalik selimut.. Menunjuk nakas disebelahnya.


"Sudah Nona. Kalau begitu. Saya pamit pergi. Maaf sudah mengganggu istirahat anda." Menundukkan kepala sopan.


"Iya"


Suara langkah kaki Andi kini sudah terdengar menjauh, bahkan hampir hilang. Luna memastikan bahwa pelayan itu sudah keluar dari kamarnya. Mengintip dari balik selimut. Melihat pintu sudah tertutup. Ia berencana ke kamar mandi untuk ganti baju.


"Aku harus cepat! Sebelum bertemu singa gila itu." Mengikat selimut tebal itu ke seluruh tubuhnya. Berjalan cepat menuju kamar mandi.


"Hah. Akhirnya." Luna mengunci rapat rapat pintu kamar mandi.


Ia melihat beberapa pakaian yang ia pakai tadi berserakan dipinggiran bathtub. Ia kembali mengingat momen dimana ia melepas semua bajunya didepan Ran. Lua kembali mencak mencak dan menutupi wajahnya karena malu tak tertahan.


Sial! dia bahkan sudah melihat tubuhku yang telanjang. aaaaaa


Bersambung.


Ayo ayo kencengin Vote nya. Novel IAP bakal up tiap hari loh!🎉

__ADS_1


Jangan kasi kendor... Jangan lupa like dan komen juga yaa.. See you tomorrow❤️🤗


"


__ADS_2