
Di sebuah cafe.
Seorang gadis bertubuh ramping nan tinggi sedang duduk manis didalam cafe sambil menikmati secangkir kopi di mejanya. Ia terus sibuk dengan ponsel ditangannya, sampai tak sadar bahwa ada seorang laki laki yang sedang mengawasinya sedari tadi dengan tatapan dingin.
Laki laki itu kemudian menghampiri mejanya, dan duduk didepan gadis itu.
Dia masih tak sadar dengan kehadiran laki laki didepannya karena asyik membaca komentar di postingan media sosialnya. Apalagi kalau bukan komentar saling lempar pujian sesama perempuan.
*Brakkk!!!
Yao menggebrak meja secara tiba tiba dan sampai mengagetkan semua pengunjung isi cafe itu. Gadis didepannya itupun juga tak kalah terkejut sampai ponselnya terlempar dari tangannya.
"Kau!!" Menunjuk laki laki didepannya.
"Asyik sekali sampai tak menyadari ada manusia ganteng ini di depanmu!" Kini wajah laki laki itu tampak dingin dan datar.
"Cih"
"Mau apa kau kesini Yao?" Sabrina merespon malas, sambil memungut ponselnya yang jatuh ke lantai.
Yao hanya mendengus. "Jangan pura pura tak tau, atau aku yang akan memberitahumu lagi tentang perbuatanmu kemarin, sampai membuat orang hampir mati karna syok!"
Sabrina tak mengerti apa yang dimaksud dengan ucapan laki laki didepannya itu.
"Hampir mati? memang siapa yang hampir mati?" Tanyanya enteng.
*Brakkk!!
Hantaman meja kedua dari Yao terdengar. Kali ini lebih keras dari yang pertama. Membuat gadis itu tersentak untuk kedua kalinya.
"Hei jangan gila dong! kalau meja ini rusak gimana?. Dan lihat tuh!"
Melirik para pengunjung yang sedang memperhatikan mereka.
"Lihat! orang orang melihat sinis kearah kita! jadi kau cepat katakan apa maksudmu, jangan buat onar!"
"Kau bilang apa? Onar? Bukannya kau yang biang onarnya?" Yao sembari menatap Sabrina tajam.
Sebenarnya apasih maksud dia ini?
memang aku ada salah apa sama manusia ini?
Manager sialan!
"Ayah Luna masuk rumah sakit, dan kondisi jantungnya semakin parah karna syok, saat kau membuat kekacauan disana!"
"Apa? Aku membuat kekacauan?. Hei kenapa aku? aku tidak tau apa apa soal itu!" Menjawab acuh. Yao mendekatkan wajahnya dihadapan Sabrina. Membuat gadis itu perlahan memundurkan badannya.
"Jangan sampai aku bertindak lebih kejam padamu Brina! jawab aku? kenapa kau sampai mengatakan hal bodoh mu itu didepan Ayah Luna, bahkan kau memfitnahnya merebut posisimu!?" Kali ini Yao tidak main main dengan ucapannya.
Maksud dia apasih!
"Yao, aku sungguh tidak tau! aku bahkan tidak pernah menemui Ayah gadis itu, aku juga tidak pernah melakukan itu. Dan atas dasar apa kau menuduhku Yao!" Kali ini Sabrina mempertahankan argumennya, yang benar benar merasa dituduh.
Sepertinya memang bukan dia.
Jelas dari raut wajahnya yang benar benar tidak tau apa apa.
Sial! lalu siapa dia?.
"Dan mulai sekarang, jangan ganggu Ran lagi, dia akan segera menikah!"
Sabrina terdiam kaku, aktivitasnya yang sedang menggeser geser menu di ponselnya itupun berhenti mendengar perkataan Yao. Bagaikan petir di sore hari terang tanpa hujan. Sabrina tak berkutik mendengar apa yang baru keluar dari mulut Yao.
..
__ADS_1
Siulan terdengar merdu di ruang tengah mansion kediaman orang tua Ran.
Kini Rama tengah menuju dapur untuk mengambil minuman dingin, namun ketika ia melewati ruang kerja papanya ia mendengar sesuatu hal, yang sampai membuatnya menempelkan telinganya ke pintu.
"Mama serius Ran bilang akan menikah?"
Pak Roy dengan mata berbinar memastikan perkataan istrinya.
"Iya pah, cius, gak boong! Ran bilang sendiri!" Sembari memegang tangan pak Roy.
"Papa gak nyangka dengan anak itu, ternyata perlahan dia mulai normal ma, tapi?" Belum selesai meneruskan.
"Tapi kenapa pa?"
"Apa dia serius sama ucapannya ma? apa anak itu benar benar mencintainya?" Menatap Ratna.
Ratna memalingkan wajahnya, ia sendiri masih sedikit ragu, ia takut kalau anaknya akan menyakiti perasaan Luna nantinya. Karena sebelumnya Ran tidak faham akan hubungan laki laki dan perempuan, bahkan Ratna sempat tak percaya saat Ran mengatakan kalau dia sudah berpacaran dengan Luna.
"Mama juga tidak yakin, tapi mama melihat antusias Ran sepertinya dia serius pa, lebih baik kita doakan saja yang terbaik untuk anak kita, dan semoga mereka bisa saling mencintai dan hidup bahagia." Mengelus lengan suaminya.
Whats? Ran menikah? Seriusly?
Wahh!! Kesambet apa anak itu.
Ngomong ngomong, siapa yang mau menikah dengannya?
Rama manggut manggut sambil memegang dagunya, berpikir keras siapa perempuan yang mau menikah dengan adik kakunya itu.
"Akan kuberi penghargaan perempuan itu." Muncul senyum miring, dan lanjut berjalan menuju dapur.
Seminggu telah berlalu, hari ini adalah hari dimana jadwal Ayah Luna berangkat ke negara X untuk melakukan operasi transplatasi jantung. Semenjak kecelakaan yang membuat fungsi jantungnya rusak, Sam susah untuk beraktivitas banyak. Dia tidak boleh lelah.
Sekarang Luna membopong Ayahnya ke kursi roda. Setelah itu ia mendorong kursi roda Ayahnya menuju mobil yang sudah disiapkan Yao.
"Sama sama, tak usah sungkan. Kau juga sebentar lagi akan menjadi nyonya Ran. Jadi sewajarnya aku membantumu." Yao terkekeh pelan.
Luna yang mendengar perkataan Yao itu langsung tersipu. Pipinya merona karena malu. Namun ia fikir pria didepannya itu terlalu berlebihan. Dirinya juga tak benar benar menjadi istri yang dicintai.
..
"Ayah, sebelum Ayah berangkat Luna mau selfie dong sama Ayah." Rengeknya sambil memegang lengan ayahnya.
"Iya ayo." Jawab Sam sambil mencubit pelan hidung mancung putrinya.
"Ayah kok keliatan ganteng banget ya Nak?" Seru Sam sambil cengar cengir memandang wajahnya sendiri di ponsel anaknya.
"Ahahahaha. Ayah memang ganteng! Makanya aku cantik." Memegang kedua pipinya dengan telunjuk."Anak Ayah memang cantik!"
Setelah mereka puas berselfi ria, Sam pun harus segera berangkat.
Luna membantu Ayahnya untuk masuk kedalam mobil. Kali ini dirinya tidak ikut, karena masih ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan. Ayahnya ditemani oleh Luca dan beberapa perawat yang ditugaskan Ran untuk menjaga Ayahnya selama diluar negeri. Luna memegang pintu mobil erat. Lalu meletakkan tangannya ke kaca mobil dan menyandarkan dagunya.
"Ayah, jangan lupa jaga kesehatan ya! Jangan telat makan, minum obat tepat waktu. Terus jangan lupa selalu berdoa, supaya proses operasinya lancar dan ayah segera pulih seperti dulu." Menatap sendu ayahnya yang ada dikursi belakang.
"Iya Nak!, Ayah janji, kalau Ayah akan pulang dengan kondisi sehat dan sudah pulih." Tersenyum lebar sembari mengelus rambut Luna.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan dua orang yang sedang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit. Luna terus menatap mobil Ayahnya sampai menghilang dari pandangannya. Tak terasa bulir krystal bening jatuh dari pelupuk matanya.
3 Hari berlalu. Aktivitas Luna masih seperti biasanya. Ia berangkat kerja pagi pagi buta karena akan ada pertemuan dengan investor asing yang akan datang. Ia mempersiapkan segala berkas untuk meeting, dan membersihkan ruangan Ran.
Ketika ia tengah menyusun setumpuk berkas yang ada dimejanya, Luna menemukan sebuah kertas dari sebuah rumah sakit, disitu tercantum nama Ran yang telah mengunjungi seorang psikiater.
" Seksual Desire Disorder? Penyakit apa ini?. Tuan sakit?. Tapi kok malah ke psikiater bukan ke dokter?" Diam membaca lembaran itu.
__ADS_1
"Atau mungkin dia punya penyakit mental kali ya? Kan selama ini marah mulu. Eh, tapi kok ada seksual seksualnya?" Memalingkan wajahnya dan berfikir kira kira penyakit apa yang sedang dialami Tuannya.
"Ah aku cari di internet aja deh!" Luna memutuskan mencari jenis penyakit itu di internet, namun ketika ia tengah merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, tiba tiba terdengar seseorang membuka pintu
"Tuan!" Segera meletakkan lembar diagnosa itu.
"Disini rupanya, ayo segera keluar menyambut Tuan Ling." Mengangkat tangannya mengisyaratkan Luna untuk mengikutinya. Tuan Ling adalah investor asing asal China yang hendak melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan label milik Ran.
"Ah baik Tuan!" Luna pun bergegas mengikuti Ran dari belakang.
"Kau hubungi Nia!"
"Nia? tim kreatif Tuan?"
"Hem!"
Luna segera mengambil ponsel disakunya dan hendak menghubungi Nia.
"Kalau boleh tau hubungi untuk apa ya Tuan?"
Menoleh kebelakang dengan tatapan dingin. Luna menelan salivanya ngeri melihat tatapan dingin itu tertuju padanya.
Santai santai aku hanya bertanya,
bisa tidak matamu itu jangan seperti orang yang akan membunuhku!
Menoleh lagi kedepan. "Dia translator ku, tamu kita kali ini dari China. Hanya Nia yang menguasai bahasa China." China?" Gumamnya lirih sambil menunjukkan senyum miring.
"Tuan, Nia tidak bisa dihubungi." Ran tak menghiraukan dan terus berjalan dengan tempo lebih cepat.
"Kalau gitu aku akan pakai bahasa Inggris saja."
"Apa tamu Tuan bisa bahasa Inggris?"
"Ntahlah!"
Mereka berdua pun sampai di pintu masuk gedung bersama beberapa karyawan dan staff lainnya tak lupa juga Yao yang menyusul dari ruangannya. Tak lama, datang gerombolan mobil berwarna serba hitam dan berhenti didepan gedung megah itu.
Dari mobil kedua, turun seseorang berkacamata hitam sangat tinggi, putih dan juga tampan. Semua orang terpukau melihat kedatangan pria itu. Dia adalah Tuan Ling Zhi.
"Good-" Ucapan Ran terpotong.
"Nihao, huanying lai dao women gongsi ling xiansheng." ( Halo, selamat datang diperusahaan kami, Tuan Ling). Membungkukkan badannya.
Seketika itu Ran dan Yao terkejut dengan Luna, ia tak menyangka gadis itu bisa bahasa China. Mereka berdua pun ikut membungkuk.
"Wa, xiexie ni yong women de yuyan huanying women."( Wah terimakasih sudah menyambut dengan bahasa kami). Tamu itu berdecak kagum pada Luna, ia menurunkan kacamata hitamnya seraya menyalami tangan Luna. Tak lupa juga Ran yang turut menyalami Tamunya.
"He líng xiansheng yiyang, women jìnqu ba." ( Sama sama Tuan Ling, mari kita masuk kedalam). Ujar Luna mempersilahkan.
Ran dan Yao tak berhenti memandangi wajah Luna masih tak percaya.
"Kau bisa bahasa asing ternyata?" Bisik Ran ditelinga Luna. Luna mengangguk pelan.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Karena Tuan tidak bertanya." Ujarnya sambil terkekeh pelan.
...
Bersambung
Hai semuanya!!! gimana? udah kangen dengan Luna dan Ran?? Akhir akhir ini lagi sibuk banget, belum lagi tugas kuliah menumpuk😭 Semoga kalian memaklumi ya.. Oh iya untuk ketentuan Up mingguan, sudah aku tulis di deskripsi yaa. Disarankan dibaca kembali, karena novel ini sudah aku revisi sebelumnya... Terimakasih semuanya yang masih setia dengan IAP🤗😘
Jangan lupa vote nya, komen dan juga like yahh❤️
__ADS_1