Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 23


__ADS_3

"Luna,


kau pegang yang di ujung sebelah kiri itu, dan kau," Sambil menunjuk Wina.


"Carilah batu yang agak besar untuk menancapkan pasak."


Wina mencari beberapa batu yang berukuran agak besar, kemudian berlari kearah Ran.


"Ini Tuan."


Ran memilih sebuah batu yang seukuran tangannya, kemudian Ran mematok sebuah pasak untuk memperkuat sisi sisi tenda tersebut.


Lagi patok patok aja ganteng, pengen deh jadinya ngelap keringatnya


Wina begitu terpesona dengan visual bos nya itu. Luna yang mengamati Wina sedang menatap Ran begitu dalam pun langsung berdehem, membuat perempuan itu terlonjak.


Dalem bener mbak natapnya!


Tak lama, tenda mereka pun sudah siap, terlihat kucuran keringat dipelipis Ran yang menetes, Luna yang melihat itu tanpa basa basi, langsung mengelapnya pelan.


Ran hanya diam dan memandangi wajah gadis mungil dihadapannya itu.


Manis sekali


Wina yang melihat pemandangan itu, langsung menutup mulutnya, meski ia sering melihat Ran yang diperlakukan seperti itu dengan Sabrina dulu, Wina kali ini merasa ada sesuatu yang berbeda ketika melihat Luna yang melakukannya.


"Baiklah, hari mulai sore, sebaiknya kita memasak makanan untuk makan malam sebelum gelap." Perintah Ran pada tim dan kru nya.


Sedangkan untuk para member, mereka melakukannya sendiri, masing masing saling membagi tugas. Ada yang bagian memasak, merakit kursi, mempersiapkan meja, dan lain lain.


Luna dan Wina kebagian untuk memasak, mereka membuat menu sup ayam jahe, karena suasana saat itu di tepi hutan sangat dingin, Luna fikir ada baiknya jika ia memasak menu yang hangat untuk malam pertama mereka camping itu.


Ran merapikan mobil van, sejenis mobil camping yang dilengkapi tempat tidur yang tidak terlalu sempit dan nyaman. Ran akan tidur disitu.


Di perkemahan ini Ran memang sedikit mandiri, karena semua tim ada tugasnya masing masing.


Setelah ia membersihkan mobil van dan menata tempat tidurnya, Ran lalu merakit beberapa kursi lipat untuk makan bersama nanti. Dan tim yang lain memasang lighting untuk penerangan di area camping mereka.


Luna menghampiri Ran yang sedang duduk di kursi yang dirakit nya tadi.


"Tuan, sedang apa?"


Ran hanya melirik sekilas.

__ADS_1


Jawab kek, ngelirik doang, Kayak ke musuhnya aja.


"Memang kau lihat aku sedang apa?"


"Duduk Tuan." Jawab Luna.


"Kenapa masih nanya"


Hihh ngeselin banget sih, lagian ngapain juga aku nyamperin dia, lebih baik aku nemenin Wina lagi aja.


Ketika Luna hendak beranjak, tangannya ditarik oleh Ran sampai ia terjatuh dalam pangkuan laki laki dingin itu.


Mereka adu tatap sebentar, kemudian dikagetkan dengan teriakan Wina.


"Kak lunaa!, Sup nya sudah matang, ayo kita makan!."


Sontak Luna sadar apa yang sedang terjadi dengannya.


Astaga, kenapa aku duduk diatasnya.


Luna langsung berdiri dan salah tingkah sendiri. Begitu juga Ran yang berdehem untuk mencairkan suasana.


"Eh, Tuan, mari kita makan sama sama" Ajak Luna yang masih salah tingkah.


Ran tidak menjawab, dan langsung beranjak ke meja yang sudah disiapkan untuk makan malam mereka. Dan mereka makan dengan tertib dan hening.


Sementara itu di sebuah kursi taman di tengah kota A, duduk seorang wanita yang tengah depresi karena merasa dirinya telah dicurangi, sedang merencanakan sesuatu.


Tak lama kemudian datanglah Sabrina yang sedang menghampiri wanita itu.


"Kau sudah datang?"


"Kenapa kau memanggilku kesini?"


Wanita itu adalah Vera, salah satu karyawan terbaik yang bekerja di perusahaan entertaiment milik Ran. Ya, dia juga salah satu kandidat yang pernah ditunjuk untuk menggantikan posisi Sabrina, namun ia gagal dengan alasan yang menurutnya tidak logis, bu Sinta dan manager Yao yang akhirnya memilih Luna sebagai asisten Ran, menurutnya gadis itu tidak pantas untuk lolos, karena Vera merasa dirinya lebih pantas untuk berada dipisisi itu, secara dia bekerja di agency itu sudah lama, lebih lama dari Sabrina, tapi kenapa manager Yao lebih memilih Luna sebagai asisten Ran yang tanpa tau asal muasal nya itu. Hal itu membuat Vera menjadi dendam dengan Luna, selama ini Vera memang sudah mengincar gadis mungil itu ketika sedang bertugas bersama Ran. Entah kenapa setiap ia melihatnya, ia semakin benci dengan Luna.


Dan kali ini, Vera mengajak Sabrina bersekongkol untuk menyingkirkan Luna.


"Apa?, Kau mau menyingkirkan gadis sialan itu?, Dan meminta bantuanku?"


"Benar sekali, kau tau kan, aku ini masuk dalam jejeran pekerja dengan kinerja yang baik di perusahaan itu, tapi kenapa justru gadis sialan itu yang lolos dalam seleksi saat itu. Padahal tidak sembarang orang bisa terpilih dengan posisi itu Brina."


"Jadi maksutmu, kau mau aku menyingkirkan gadis bodoh itu dan kau bisa merebut posisinya?". Sabrina menatap Vera kesal.

__ADS_1


Kenapa dia malah terlihat kesal begitu?,


Oh, apa jangan jangan, dia masih menyukai Tuan Ran dan juga ingin kembali?.


"Tunggu!, jangan bilang kau masih ingin kembali di agency itu?."


"Ya, iyalah! kau tau kan, Ran itu cinta matiku Ver, aku rela lakuin apa aja demi dia, termasuk kembali lagi ke agency itu."


"Tapikan Brina, akses mu untuk kembali ke gedung itu sangat mustahil."


"Itu masalahnya, tapi setidaknya kita bisa bekerja sama dan kita saling menguntungkan?."


"Maksudmu?."


"Aku tidak masalah kalau tidak kembali ke agency itu, yang aku butuhkan itu adalah Ceo nya, alias Ran. Dan kau akan kubantu untuk membalaskan dendam mu pada gadis itu untuk menyingkirkannya, dan kau bisa berada diposisi itu." Sabrina meyakinkan Vera, seraya memegang kedua pundaknya.


"Tunggu, tapi kau bagaimana bisa berfikir seperti ini? kau tidak cemburu aku menjadi asistennya?."


"Hahaha, asal kau tau diri aja, dan jangan mengkhianatiku. Logikanya begini, kalau nanti Luna kita singkirkan, otomatis manager sialan itu susah lagi untuk mencari penggantinya, dan dia pasti akan langsung menunjukmu, secara kau juga pernah menjadi kandidatnya."


Vera masih tak paham bagaimana alur rencana Sabrina itu.


"Aku masih bingung dengan rencanamu" Vera seraya menggaruk kepalanya.


"Yaelah, kurang cerdas banget si, katanya pegawai terbaik!." Sabrina menyilangkan tangannya sambil memandang wajah Vera dengan tatapan remeh. "Jadi gini, ketika kau sudah merebut posisi gadis itu, giliranmu yang bantu aku untuk dekat lagi dengan Ran."


"Jadi, ketika kau mendekati Tuan Ran, nanti kau juga akan merebut posisiku?"


Sabrina menoyor kepala Vera.


"Aduh sakit"


"Makanya jangan sotoy, dengerin dulu!."


Hu ribet banget si.


"Aku akan membujuk Ran untuk tidak membutuhkan asisten lagi, karena aku ada disisinya, jadi aku suruh aja Ran untuk memberimu posisi tinggi di agency itu sebagai gantinya."


"Wahhh, bagus juga rencanamu Brina, kenapa aku gak kepikiran kesana ya!"


"Ya itulah diirimu, kebanyakan halu ingin jabatan tinggi tapi otak gak dipake!"


Sialan kau Sabrina.

__ADS_1


*Halo temen readers, maaf ya up nya agak lama, karena author juga beberapa hari ini lagi sibuk banget, hari ini 2 eps dulu ya, dan terus staytune di IAP untuk kelanjutannya..❤️*


Jangan lupa, like, komen dan Vote nya juga biar makin semangat up nya🤗


__ADS_2