
Dari belakang. Ran memandangi punggung istrinya yang sedang berdiri di balkon yang sedang nemandangi indahnya ombak pantai yang tenang. Terbesit ide di otakknya. Menurutnya, ucapan Yao ada benarnya juga. Ia harus mengurangi sifatnya yang cuek dan acuh yang sudah melekat lama pada dirinya itu.
"Na."
"Eh, tuan."
"Kau mau ke pantai?"
Luna mengangguk cepat merapatkan senyumnya.
"Kalau begitu bersiaplah, kita kesana sekarang."
Eh, dia mengajakku?
"Baik tuan."
Luna terlonjak senang. Akhirnya ia keluar juga dari sarang singa. Ya meski keluar bersama singa nya. Tetapi setidaknya bisa jalan di bibir pantai kan. Membayangkannya saja sudah senang.
"Ayo tuan."
Berdiri dibelakang Ran.
Luna yang mau memegang handle pintu dicegah oleh Ran. Akhirnya suaminya yang membukakan pintu untuknya. Luna tersenyum kaku.
Mereka berdua akhirnya sampai di tepi pantai yang telah diantar oleh guide hotel. Luna langsung berhambur ke tepian ombak. Berlarian dan merentangkan tangannya. Suasana hatinya sangat senang kala itu. Ia melepaskan semua stress yang ia rasakan. Melupakan sejenak semua kesedihan dan tekanan yang ada pada dirinya. Ia memejamkan matanya sambil menghirup udara yang begitu segar. Saat itu pantai lumayan sepi, Luna memanfaatkannya untuk berteriak, berlarian seleluasa mungkin.
"aaaaaaa senangnya." Memutar mutar tubuhnya sambil setengah loncat.
Ran memperhatikan istrinya dari bawah payung yang tersedia di tepi pantai. Ia memilih untuk duduk di tepian sambil merebahkan tubuhnya di sebuah kursi panjang. Perasaannya kini ikut senang ketika melihat istrinya yang nampak begitu bahagia ketika bertemu pantai. Ran lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
Cekrekk cekreekk
Ran memotret momen itu. Dimana Luna yang masih terlihat anggun meski berlarian menyusuri pantai. Ditambah ia memakai dress warna putih yang membuat gadis itu sangat manis.
Timbul senyuman yang terukir di bibir laki laki cuek itu. Sekarang yang ia rasakan hanyalah kebahagiaan. Melihat perempuan yang menjadi istrinya itu tertawa.
"Tuan." Panggil Luna.
"Sini, seru loh."
"Gak ah."
"Ayo tuan, ini seru banget." Gadis itu terus merayu Ran untuk bergabung dengannya.
Tiba tiba Luna menghampirinya dan menggandeng tangannya ke bibir pantai. "Tuan. Awas air." "Hahahaha, kaki tuan basah." Luna tertawa lepas saat itu. Seolah dia sudah tak ingat siapa laki laki yang ia seret tadi. Mereka akan bersenang senang sekarang.
"Tuan. Ayo kita mencari kerang!"
"Kerang? gimana caranya?"
"Eh. Sebentar!"
Luma berlari ke tepi. Mengambil sebuah keranjang yang ada di pinggiran.
"Ayo tuan."
__ADS_1
Ran mengikutinya dari belakang. "Yaa ini kerangnya." Mengambil dan menunjukkannya pada Ran. Tak lupa sembari menunjukkan wajah kegirangan. Ran pun ikut tertawa dengan tingkah istrinya. "Ayo, cari lebih banyak lagi!" Ucap Ran menyauti. Mereka berdua menyusuri bibir pantai untuk menemukan apa saja hewan laut yang sedang terlihat disana.
Ran kembali memotret istrinya dari belakang. Pesona indah yang muncul dari tubuh belakang Luna membuat tangan Ran gatal ingin memotretnya lagi. Secara diam diam pastinya.
Ran kembali memandangi foto yang barusan ia ambil. Bibir itu seperti tak ada habisnya menampakkan senyum ketika melihat foto foto Luna yang ia ambil dari tadi. Lalu Ran kembali menyimpan ponselnya, dan berlari menyusul istrinya yang jaraknya sudah jauh didepannya.
"Sudah dapat banyak?"
"Lumayan tuan."
Risih dengan panggilan Luna padanya. Laki laki itu menggandeng tangan istrinya menuju kursi panjang yang dia tempati tadi. "Ini kalau dimasak pasti enak tuan."
"Hei bisa tidak, kau itu jangan memanggilku Tuan,tuan. Aku ini suamimu." Bicara dengan wajah kesal.
Loh emang kenapa?
Bukannya dia sendiri yang bilang, kalau setelah menikah aku masih seperti asistennya. Berarti dia masih Tuan ku kan.
Kenapa dia kesal begitu.
"Lantas saya harus memanggil anda siapa.?"
"Terserah. Asal jangan Tuan lagi."
"Tapi bukannya anda sendiri yang bilang, saat dulu sebelum menikah kalau saya masih tetap asisten tuan. Dan itu tandanya saya masih memanggil anda tuan kan?." Bicara sesuai fakta.
"Tapi aneh kalau kau sekarang sudah menjadi istriku dan masih memanggil seperti atasanmu begitu. Kau saja dengan gampangnya memanggil Yao Zhang dengan sebutan kakak. Apalagi kau bisa bicara santai dengannya." Masih dengan raut wajah kesal. Karena merasa dibedakan.
Kenapa jadi iri pada Kak Yao.
"Baiklah. Anda mau dipanggil apa?." Ujarnya menawarkan.
"Darling mungkin." Luna membulatkan matanya mendengar ucapan Ran yang terdengar menggelikan itu.
Da,darling? Hei dapat kosakata darimana dia ini. Kenapa dia jadi norak begini. Aku bahkan jijik mendengarnya.
Luna meraba tengkuknya sendiri. "Darling?, Apa harus itu tuan?" Melirik lagi mendengar kata tuan. "Eh, iya iya maaf."
Sensitif amat sih ni laki.
"Kalau tidak mau ya sudah."
Eh, kok jadi marah.
"Bagaimana kalau saya panggil suamiku saja."
Aku pasti sudah gila!
"Boleh juga. Mulai sekarang kau harus panggil aku seperti itu. Jangan tuan tuanan lagi." Tersenyum tipis.
Eh, dia mau lagi. Duh aneh sekali rasanya memanggilnya suamiku. suamiku.
"Eh, tunggulah sebentar!" Ran tiba tiba menghampiri seorang guide yang tadi mengantarnya. Terlihat guide itu sedang asyik bernyanyi sambil memainkan gitar. Ran berniat ingin meminjam gitar itu.
Luna melihat Ran kembali dengan memegang sebuah gitar. Ia bergumam sendiri. Mau diapakan gitar itu, begitu fikirnya.
__ADS_1
"Kau bisa bernyanyi?"
"Bi,bisa sih tuan."
"Tuan!." Kali ini nada bicaranya semakin menekan.
"Ah suamiku. Maaf."
"Baiklah, sebutkan lagu apa yang kau suka?"
"Eum, ada sih. Pelangi pelangi." Ran membulatkan matanya.
"Hei. Maksutku lagu orang dewasa, kenapa malah lagu anak TK." Kembali bicara dengan raut kesal.
Hihi, puas sekali aku mengerjainya.
"Never gonna change my love for you."
Ran menatap wajah Luma setelah menyebutkan kalimat itu. "Eh. Itu judul lagunya suamiku." Ucapnya menjelaskan.
"Oh." Ran manggut manggut mengerti. Padahal ia sempat salah tingkah ketika mendengarnya.
Mereka terlihat menikmati momen itu, dimana Luna sedang bernyanyi dan Ran mengiringinya dengan suara gitar yang sangat merdu. Awalnya Luna sedikit canggung. Namun karena suasana pantai yang saat itu sangat mendukung. Akhirnya Luna tenggelam dalam ketenangan dan menikmati aktivitasnya.
Di belakang guide hotel yang mengamati kegiatan pasangan didepannya. Ia ikut terhanyut dalam suasana itu. Ia bersangga tangan sambil menikmati nyanyian Luna. Ditambah iringan musik gitar yang di petik oleh Ran.
"Mereka serasi sekali. Yang cewek cantik yang cowok tampan dan cool." Gumamannya dalam hati. Pria itu lantas memotret kebersamaan Ran dan Luna.
Perlahan matahari sudah semakin terbenam. Langit juga sudah mulai gelap. Ran dan Luna memutuskan untuk kembali ke hotel.
Akhirnya mereka sampai didepan kamar hotel. Luna sudah masuk duluan, ketika Ran hendak masuk menyusul istrinya. Ia dipanggil oleh pria yang mengantarnya tadi.
"Eh. Tuan tuan tuan!"
Ran menoleh kearah suara. "Ada apa mas?"
Kenapa dia mengikutiku sampai didepan kamarku.
"Tadi saya tidak sengaja memotret kebersamaan kalian di pantai. Abis Tuan dan Nona tadi sangat serasi. Saya saja iri melihatnya."
"Lalu.?" Ran menunjukkan raut tidak senang.
"Eh, ini fotonya. Semoga anda suka." Menyodorkan sebuah foto polaroid, dimana dirinya yang sedang bermain gitar dan Luna disampingnya. Ditambah view senja di pantai yang menjadi objek background foto itu, menambah ke estetikan momen tadi. "Saya iseng mencetaknya barusan, buat kenang kenangan kalian."
Ran menerima foto itu. Terlihat senyum bahagia di bibirnya.
Teryata iseng nya jatuh di moment yang pas
"Baiklah, saya terima ini. Dan.."
Ran mengambil 5 lembar uang berwarna merah di dompetnya. Dan menyerahkannya ke tangan guide itu. "Apa ini tuan?" Terlihat raut kebingungan.
"Ambillah, sebagai ucapan terimakasihku." Menepuk bahu laki laki itu.
"Te,terima kasih tuan." Ran hanya menganggukkan kepalanya dan langsung masuk kedalam kamar.
"Wahhh iseng iseng berhadiah nih. Hahaha." Mengipas ngipaskan uang pemberian Ran.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan Lupa Vote, komen dan like nya ya..Terus dukung novel IAP selalu❤️🤗❤️