
"Papa, Rama. Kalian sudah datang."
"Mana Ran Ma?."
"Anak itu sudah Mama telfon tadi.
Sebentar lagi juga pulang."
Rama berjalan malas menuju sofa. Tika melihat Rama yang datang dengan raut muka masam. Kemudian dia berinisiatif untuk membawakan sebuah teh hangat untuk rama.
"Saya buatkan teh Tuan." Bicara dengan nada lembut seraya meletakkan secangkir teh itu di meja.Tika melirik sekilas laki laki itu. Dia tak bergeming. Masih memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar nyaring. Andi bergegas membuka pintu lagi. "Selamat datang Tuan Muda." Menunduk sopan, tak lupa juga dengan laki laki dibelakangnya. Yang masih memegangi dahinya yang sedikit nyeri.
"Zhuran. Akhirnya kau sampai." Menghampiri putra bungsunya. Ran membalas pelukan Bu Ratna.
Ran mengeryitkan dahinya ketika melihat ruang meja makan penuh dengan segala macam makanan. Ia tak habis pikir oleh kerjaan Mamanya itu. Ada apa ini. Seperti mau hajatan saja. Dan lihat, apa itu. Kenapa cake nya dikasi bendera segala. Begitu fikirnya.
Pandangannya kini beralih pada kearah sofa, ia melihat Rama yang sedang santai selonjoran di kursinya sambil memangku sebuah toples berisi camilan. Rama mengemil tanpa melihat kearah Ran meski ia tau adiknya sedang melihatnya dengan sorot mata dingin.
"Ma, kenapa dia ada disini juga?." Masih menatap lekat tubuh Rama dari belakang. Bu Ratna mengerti arti tatapan dari putra bungsunya itu. "Sayang, bagaimanapun dia adalah kakak mu. Ini adalah acara untuk menyambut kehadiran anggota keluarga baru kita, jadi gak salah dong Mama ajak kak Rama."
"Tapi aku tidak sudi mengundangnya Ma." Memalingkan wajahnya. "Sayang, sudah dong. Sampai kapan kamu seperti itu pada kakakmu. Mama tuh ingin sekali melihat kalian akur. Mama harap dengan ini kalian berdua bisa saling memperbaiki hubungan saudara satu sama lain." Beralih menatap sendu wajah Mamanya. "Baiklah, Ran ijinkan dia, asalkan dia tidak membuat kekacauan dirumahku." Berjalan meninggalkan Bu Ratna. Melirik sekilas Rama yang sedang memeluk toples.
"Apaan sih." Juga melirik Ran dengan tatapan sinis.
"Lo mau?. Bilang aja gausah sinis begitu." Seraya mengangkat toplesnya.
"Cih."
Ran memilih tidak menghiraukan manusia disampingnya. Ia berjalan ke kamarnya.
Terdengar suara siulan dari ruang wardrobe. Ran perlahan berjalan mendekati arah sumber suara, sebenarnya ia tahu itu ulah siapa. Namun ia hanya ingin mengerjai seseorang yang dibalik ruang wardrobe itu.
"Di kamar ini tidak ada burung, untuk apa kau bersiul seperti itu." Suara Ran berhasil mengejutkan Luna yang sedang memakai baju. Seketika ia membulatkan matanya mendengar suara Ran. Ia terdiam mematung memunggungi Ran sambil menahan handuk yang masih melilit di pinggangnya agar tidak jatuh dari tubuhnya.
"Su,suamiku, anda sudah pulang?, kenapa tidak mengetuk pintu dulu tadi." Tubuhnya masih membelakangi Ran. Berusaha menahan agar tidak memutar tubuhnya. Jadi hanya suaranya saja yang berceloteh gemas karena sebal dengan kedatangan mendadak Ran. "Ini kamarku, suka sukaku lah!." Menjawab ketus.
"Tapi saya sedang ganti baju suamiku, hehe."
Keluar kau sekarang! Keluar!
__ADS_1
"Kau kenapa, malu?."
Luna terdiam. " Hahaha aku ini suamimu, jadi kau jangan berlagak pemalu seperti itu. Waktu itu saja kau sendiri yang dengan tanpa berdosanya melucuti seluruh pakaianmu didepanku kan."
Mengingatkan kembali kejadian yang membuat Luna seperti ingin menghilang saja dari situ sekarang juga.
Kenapa diingetin segala sih.
Ahh aku ingin punya ilmu menghilang saja kan rasanya.
Kenapa laki laki ini pintar membuatku canggung.
"Cepatlah, lalu kita keluar." Setelah mengatakan itu Ran meninggalkan Luna yang masih berpegang erat pada handuk ditangannya.
"Baik suamiku."
Luna dengan cepat segera memakai baju, sebelum laki laki itu tiba tiba masuk lagi.
Kali ini Luna memakai baju dan celana panjang santai dengan motif yang kalem alias tidak norak. Luna tetap terlihat cantik dan natural walau begitu.
"Hei, kau kenapa pakai baju itu?." Ran memprotes outfit istrinya. Luna mengernyitkan dahinya.
"Apa dilemarimu tidak ada gaun atau dress yang bisa kau pakai?." Bicara dengan tatapan dingin.
Apa?! jadi aku benar benar disuruh pakai gaun?. Lagian inikan hanya untuk makan malam saja. Sama seperti kumpul kumpul keluarga saja kan. Aku dirumah pun begitu.
"Emm kitakan hanya makan malam dirumah suamiku, apa harus pakai gaun?." Sautnya polos. Hei kenapa kau menatapku seperti itu.
"Kau tidak lihat, perjuangan Mama memasak di dapur untuk menyambut dirimu dirumahku?. Jarang loh Mama melakukan itu kecuali momen momen special. Kau tidak menghargai kerja keras mama?, setidaknya tampil yang lebih anggun kek."
Ni laki ruwet amat sih perkara baju doang. Gak sekalian dia sewakan MUA untukku juga. Mama juga pasti tidak menginginkan hal seperti itu. Toh yang aku pakai tidak terlalu buruk juga.
"Baik, Suamiku. Saya akan ganti baju saya." Akhirnya mengalah.
"Cepat!."
Melirik Ran dengan tatapan kebencian.
Setelah beberapa menit. Luna muncul dengan balutan longdress berwarna pastel, serta rambut yang hanya diikat setengah dari rambutnya menggunakan pita. Itu membuat Luna terlihat sangat anggun dan elegan.
"Sial, dia cantik juga. Tidak sia sia aku menyuruhnya dandan. " Tersembul senyum miring di bibir laki laki itu. Sebenarnya itu hanya akal akalan Ran saja yang ingin mengerjai Luna.
__ADS_1
"Bagaimana kalau ini Suamiku?." Yang ditanya menatap lekat tidak berkedip.
"Suamiku?."
"Eh, iya?."
"Bagaimana?." Sambil memutar mutar tubuhnya.
"Cantik, cantik. " Sambil tersenyum kecut.
Mendengar itu pipi Luna seketika merona karena malu. Dia menyembunyikan senyum dibalik telapak tangannya.
"Ehemm. Maksudku baju yang kau pakai cantik, beli dimana?." Raut muka yang tersipu kini berubah menjadi masam. Bisa bisa nya dia tadi hanya memuji baju. Sedangkan aku mati matian berdandan agar kau puas. Begitu fikirnya.
"Saya menemukannya dilemari." Bicara dengan nada sedikit sebal.
"Kau kesal padaku?."
"Ah, tidak tidak suamiku, mana mungkin saya kesal pada anda. Saya tadi hanya sempat tersipu waktu anda memuji saya. Saya senang sekali hehe."
Aku pasti sudah gila, bagaimana mulutku bisa keluar kalimat bualan indah seperti itu.
Luna menutup bibirnya rapat. "Hemm."
Ternyata seleramu bagus juga Yao. Ran
Ya, segala perlengkapan Luna sudah disediakan Yao sebelum gadis itu datang. Dari baju, make up, alat mandi, skincare dll. Luna hanya perlu membawa dirinya saja. Enak ye wak kalau punya suami modelan begitu haha.
Mereka pun menikmati makan malam sederhana. Hanya terlihat anggota keluarga inti, namun kebahagiaan yang mereka rasakan sungguh luar biasa. Menyambut keluarga baru sekaligus ucap syukur karena pernikahan Ran yang menjadi doa orang tuanya kini sudah terwujud. Baginya, ini adalah sebuah anugrah yang diturunkan oleh tuhan pada anak bungsu mereka. Seorang Nalexa Zhuran kini akhirnya menjadi seorang suami. Senyum kebahagiaan tak henti henti nya terlukis dari kedua orang tua mereka.
Kecuali sosok laki laki yang duduk diujung meja makan. Raut wajah muram, tanpa ekspresi, menyelimuti wajah tampannya. Ia hanya fokus pada makanan didepannya. Tidak peduli dengan apa yang dibicarakan orang orang didepannya.
Aku ingin cepat cepat pulang saja.
Bersambung....
Author minta maaf kalau akhir akhir ini slow update😭 Namanya juga manusia. Punya kesibukan juga di real life bunda. Tapi tetap staytune terus ya.. Doain semua IAP bisa Crazy Up🤗
Terus pantengin update an selanjutnya ya...
Jangan lupa vote nya komen dan like. Biar author juga semangat buat update nih❤️
__ADS_1