
Posisi Yao masih sama. Terkulai dilantai. Bertumpu pada lututnya. Tak berani menatap pria didepannya yang masih berkabul asap dikepalanya.
Ran menuju cermin di depan ruang ganti di kamar milik Yao. Menatap wajahnya, juga sesekali melihat kebawah tubuhnya. Memandangi sesuatu yang ada dibalik celana.
Apa benar aku sudah sembuh.
Rasanya aneh sekali ketika dia tiba tiba berfungsi. Apalagi didepan Luna.
Tubuhku juga ikut gerah dan seperti tersengat listrik. Dan dia menciumku?
Dan kenapa rasanya tadi aku malah ingin melakukan lebih dari itu?
Ah. Lupakan! bagaimanapun juga tujuanku menikahinya hanya sebagai pelarianku pada Sabrina.
Aku tidak boleh egois. Dari mulutnya sendiri aku mendengar bahwa dia juga ingin bahagia. Menikah dengan laki laki yang mencintainya.
Cih, Cinta? gimana sih rasanya cinta?
Orang pun bisa bodoh karena cinta.
Masih mematung di depan cermin, menyeringai. Menerka nerka tentang cinta. Cinta seperti apasih yang orang orang ini mau. Sampai ada yang rela mempersusah diri sendiri dengan sebutan perjuangan. Lantas apa yang diperoleh dari semua itu?. Terkadang kalau tidak sesuai dengan apa yang kita mau, tak sedikit dari mereka akan depresi. Menyalahkan diri sendiri bahkan orang lain yang tak turut menyemangati. Tapi juga tidak salahnya kita berjuang demi cinta, demi mendapatkan sang pujaan hati. Namun kita juga harus bisa mengukur batas kemampuan kita sendiri dalam sebuah pengorbanan. Dan kalaupun memilih untuk melakukan lebih atau melampaui batas kemampuan sendiri. Pilihannya hanya ada 2. Harus benar benar yakin kalau akan berhasil atau menyiapkan mental untuk menerima hasil yang tidak sesuai dengan harapan.
Keheningan terjadi beberapa lama di suasana kamar yang masih terasa mencekam bagi Yao itu. Sampai sebuah suara cekik terdengar dari mulutnya.
Ingin beranjak dari tempatnya. "mau kemana?" Suara dingin Ran kembali menghidupkan suasana horor. "a,aku ingin minum. Aku cegukan." Bicara lirih.
"tetap disitu!"
"tapi aku cegukan Ran." Berusaha merayu.
"cukup tahan nafas saja!"
"berapa lama?"
"selamanya."
"nanti kalau aku mati gimana?" Mencoba mencairkan suasana.
"setidaknya kau gak cegukan lagi!"
Ya gak gitu juga kali.
Ran membalikkan badannya. Kembali berjalan menuju sofa. Menjatuhkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Momen itu menjadikan kesempatan oleh Yao untuk mengambil air mineral di meja sebelah sofa.
Yao berhasil meraih botol air mineral itu dan meminumnya cepat. Ia menghabiskan 1 botol penuh hanya dengan itungan detik.
Ahhhhh leganya...
"Yao!" Panggil Ran.
__ADS_1
"eum?."
"kau tau?."
"tidak."
"dengarkan dulu sialan!."
"i,iya iya."
"juniorku sudah bereaksi 2 kali hari ini. Apa itu artinya aku sudah sembuh?"
Oh ya?. Padahal dia tidak meminum obat perangsang itu. Apa itu artinya ia mendapatkan rangsangan alami karna Luna?.
Seharusnya ini menjadi kabar baik. Eh, tapi kenapa wajahnya seperti itu?. Dia tidak suka?
"tapi kenapa sepertinya kau tidak senang Ran?"
"entahlah. Awalnya aku sangat terkejut, antara senang dan aneh. Pagi tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Luna hendak ganti baju. Aku melihatnya menggunakan handuk kimono. Dan tiba tiba saja si kecil ini berubah tegang. Apalagi saat aku tak sengaja melihat dia melepas semua pakaiannya didepanku karena efek obat perangsang yang kau beri itu." Seolah olah di dalam kalimat yang Ran lontarkan masih terselip kata penegasan bahwa kesalahan Yao masih tak termaafkan.
"lalu?." Mendengar sok ngerti.
"rasanya aneh sekali Yao. Tubuhku serasa merinding, bahkan juniorku malah semakin menegang. Apa ini yang semua laki laki rasakan setiap melihat wanita wanita seksi diluaran sana? hhh aku bahkan baru merasakannya sekarang." Terselip senyum miring dibibirnya.
Hei hei! Apa maksudmu semua laki laki?
Aku saja jarang begitu.
Ya walau pernah juga sih. Tapi tidak sesering itu juga sampai setiap melihat wanita.
"lalu?. Apa akhirnya kau melakukannya?"
"Kau bodoh apa gimana? kau tau kan aku dan dia hanya pernikahan kontrak saja.
Sebelum itu aku juga pernah menegaskan padanya untuk tidak saling menaruh perasaan apapun pada kedua belah pihak.
Dan aku mendengar sendiri kalau nanti ketika hubungan perjanjian kontrak kita berakhir. Dia akan mencari laki laki yang mencintainya dan hidup bersamanya. Jadi aku tidak berani menidurinya, walau dia sekarang sah menjadi istriku. Aku tidak mau ketika itu terjadi dan ternyata dia diam diam menaruh rasa padaku. Lalu kontrak kita berakhir. Aku takut dia pergi dengan rasa sakit."
Kenapa aku dipertemukan dengan orang bodoh seperti dia sih.
Wajah boleh tampan, tapi otak gak main.
Kalau aku jadi dia. Aku sobek kertas perjanjian itu dan aku akan mulai belajar mencintainya dan memberikan kehidupan yang bahagia.
Toh Luna juga cantik, siapa sih laki laki yang tak suka padanya.
Kalau bukan karena perjanjian gila mu itu. Mungkin Luna sudah aku pacari sekarang.
"kalau menurutku, tidak ada salahnya kau mencoba mencintainya Ran. Berikan dia kebahagiaan. Aku yakin dia juga perlahan pasti menaruh rasa cinta padamu."
__ADS_1
"cih, cinta lagi cinta lagi. Aku bahkan tidak pernah mengenal begituan."
"makanya dari sekarang kau belajarlah mencintai seseorang. Apalagi statusnya sudah menjadi istrimu. Sayang kan kalau cuma dianggap main main. Ini pernikahan loh! Kalau kau mempermainkannya bukan hanya Luna yang kau sakiti, namun 2 keluarga yang juga kau kecewakan."
"tapi aku sendiri yang menciptakan aturan itu Yao. Aku yang mengatakan bahwa tidak ada yang boleh saling suka."
"lupakan itu Ran!. Jangan turuti ego mu. Kau harus melatih kepekaanmu. Belajarlah untuk mengerti perempuan. Lupakan dengan aturan aturan konyolmu itu. Buktikan pada semuanya bahwa kau adalah laki laki hebat."
"jadi selama ini aku payah?"
"bu,bukan begitu yang ku maksud." Menggaruk kepalanya sendiri.
Ran terdiam. Menelaah setiap perkataan Yao. Mungkin ada benarnya juga. Ia harus membiasakan diri dengan kehadiran orang baru dalam hidupnya, apalagi hubungan yang mereka jalani saat ini adalah pernikahan yang suci.
"tapi kalau ternyata dia tidak menyukaiku bagaimana?"
"hmmm" Mengelus elus dagunya. Yao
"begini saja. Kau jalani saja pernikahanmu ini. Anggaplah hubungan kalian masih seperti biasanya. Dan kau harus merubah sedikit sifat jutek mu itu." Langsung mendapat sorot mata membunuh.
"tenang tenang, dengarkan aku dulu."
"hemm"
Serem juga kalau mode monster.
"kalau sampai waktu yang kau tentukan, emm berapa ya?"
"8 Bulan."
"aahh itu dia. Kalau 8 Bulan hubungan kalian tidak ada perubahan juga. Atau Luna tidak menunjukkan kalau dia suka padamu. Ya itu semua tergantung padamu. Akhiri pernikahan kalian atau melanjutkan. Karena kau juga tidak bisa memaksanya mencintaimu."
"tumben kau cerdas begini."
"siapa dulu dong" Nyengir bangga.
"tapi aku masih marah padamu soal obat itu!. Kau masih harus menerima hukumanmu!"
Sial. Kenapa masih diungkit ungkit segala sih. Sia sia aku memberikan ceramah padanya.
Ran pun kembali ke kamarnya. Begitu membuka pintu kamar, ia tak melihat keberadaan Luna di tempat tidur. "dimana dia?" Mengedarkan pandangannya.
Sekilas Ran mendengar suara gemercik air dari balik pintu kamar mandi. "oh, mandi rupanya." Ran manggut manggut dan merabahkan tubuhnya di tempat tidur. Meraih ponsel disakunya. Membuka galeri, disitu masih tersimpan beberapa foto Luna yang pernah ia iseng memotretnya.
"Kau lumayan juga." Tersirat senyum tipis diujung bibirnya.
Bersambung...
Yo ayo Vote nya mana... Support terus novel IAP. Jangan lupa like dan komen kalau kalian suka. See you❤️🤗
__ADS_1