
Sabrina berlari kecil menuju pentas pelaminan sambil meneriaki nama Ran berulang kali. Semua mata tertuju pada tingkah gadis yang cukup berani itu.
Luna yang menyipitkan matanya melihat Sabrina, muncul perasaan kesal ketika melihat wajah perempuan itu.
Ulat bulu itu sedang menuju kemari.
Luna memaki dalam hatinya.
Ran masih dengan tatapan datar dan tak bereaksi apapun, ia hanya ingin tau seberapa jauh Sabrina berulah kali ini.
Sabrina menaiki panggung sendiri. Yao dan beberapa anak buahnya berdiri dibawah panggung mengawasi gerak gerik mantan asisten Ran itu.
Sabrina berjalan melewati orang tua Ran. Ia menyalami Bu Ratna dan Pak Roy secara bergantian. Bu Ratna masih sempat tersenyum ketika Sabrina menyalaminya. Ia hanya menganggap ini sebagai perpisahan terakhir. Sabrina yang disambut senyum oleh Mama Ran itu pun mulai besar kepala. Ia menganggap bahwa Mama Ran masih menyukainya. Dan berharap bisa mendukungnya dan menyingkirkan gadis yang berdiri disamping Ran itu nantinya.
Sabrina berdiri didepan Ran, meraih tangan pria itu. Awalnya Ran tidak ingin menyambut tangan gadis didepannya. Tapi begitu ia melirik kearah istrinya, ada isyarat dari Luna untuk menerima sambutan tangan Sabrina. Anggap aja ini tanda perpisahan. Begitu fikirnya.
"Selamat atas pernikahan kalian. Walau aku sempat terkejut dengan berita heboh ini, tapi aku akan selalu setia mencintaimu Ran." Sambil melirik sinis kearah Luna.
Apa apaan ini! apa maksudnya bicara seperti itu didepanku.
Memang perempuan tak punya malu!
Bisa bisanya masih terang terangan memproklamirkan cinta di depan suami orang.
Ya walaupun, dia adalah suami sementara, tapi setidaknya hargai keberadaanku dong!
Benar kata Mama, dia ini memang wanita yang cukup agresif.
Luna yang melihat tatapan sinis dari Sabrina, langsung memalingkan wajahnya dan langsung duduk di kursi pelaminan.
Sedangkan Ran masih tetap pada posisinya yang berhadapan dengan Sabrina.
Ran menyeringai melihat tingkah Luna yang seperti tidak suka interaksinya dan Sabrina. Tatapannya kini beralih pada wanita didepannya. Ia tak menyambut tangan Sabrina, melainkan menurunkan tangan itu perlahan sebagai tanda penolakan.
"Brina, cukup sampai disini. Sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak pernah mencintaimu. Dan jangan harap aku akan membalas perasaanmu hanya karna kau pernah dekat denganku! ingat, hubungan kita hanya sebatas rekan! Aku tidak suka wanita mencampuri urusanku sekarang, kecuali istriku!" Menoleh wajah Luna yang sedang menopang kepalanya dengan tangan.
Sabrina masih memasang muka sok tegar sekarang. Ia masih menanggapi perkataan Ran dengan senyuman. Entah apa yang dipikirannya saat itu. Kalau wanita normal diperlakukan seperti itu, semestinya sudah malu sampai ke ubun ubun. Bahkan lebih terhormat pulang dengan telanjang daripada ditolak mentah mentah seorang pria. Apalagi di sebuah acara pernikahannya.
"Kau kira aku percaya dengan pernikahan kalian ini, Tuan Ran!" Kali nada Sabrina menunjukkan sebuah penegasan.
"Apa maksutmu?"
__ADS_1
"Aku tak mungkin percaya begitu saja, apalagi mengenai penyakit langka mu itu. Kau kira aku lupa? Aku terima kalau kau tidak bisa mencintaiku, namun aku juga pastikan bahwa kau tidak akan mencintainya!" Lagi lagi melirik kearah Luna dengan wajah yang penuh kebencian.
Amarah Luna semakin memuncak, ia tak bisa terus tinggal diam dengan perkataan Sabrina yang makin menyakitinya. Memang benar Ran tidak mungkin bisa mencintainya. Namun tidak perlu juga ia lontarkan kalimat penegasan itu. Seperti menyudutkan hidup Luna yang menyedihkan.
"Nona! sebaiknya anda segera pergi, para tamu yang lain juga ingin bersalaman, dan mengucapkan selamat dengan tulus pada pernikahan kami!" Kembali berdiri dan menoleh arah kirinya, yang memang banyak para tamu yang antri menunggu giliran untuk bersalaman dengan pengantin.
"Cih! jangan senang dulu! Percuma kau menikah dengan orang yang tidak mencintaimu.. Hidupmu itu sudah menyedihkan!" Ucapnya pelan sambil menyodorkan tangannya.
Luna menerima tangan Sabrina dengan senang hati. "Setidaknya hidup saya tidak se menderita anda Nona. Faktanya Tuan Ran memilih saya sebagai Istrinya, bukan anda.!" Memeluk lengan Ran dengan tangan kirinya. Sambil tersenyum penuh arti.
Sabrina merasa malu sendiri mendengar balasan telak dari Luna. Ia pun menarik kasar tangannya dari genggaman wanita didepannya. Dan cepat turun dari panggung pelaminan dengan kaki yang menghentak.
Ran menunjukkan senyum bangga dibibirnya, menyaksikan secara langsung istrinya yang meng skakmat mantan asistennya itu sampai tak berkutik.
Kau pintar juga ternyata, tidak sia sia aku menikahimu!
Batin Ran sambil menatap kepergian Sabrina.
Acara pernikahan telah usai. Kini saatnya sesi foto foto santai. Luna memilih ke area belakang gedung bersama Luca.
"Mana sini kameranya"
"Yang bagus yah!"
"Siap!"
Luca memotret kakaknya itu sudah seperti fotografer profesional, karna ia sendiri menyukai photograpy dari kelas 1 Smp.
...
Kini semua keluarga berkumpul, Bu Ratna dan Pak Roy bersiap untuk pulang ke mansion. Sam dan Luca juga akan pulang ke rumah. Sedangkan pasangan pengantin baru itu telah di pesankan sebuah kamar hotel oleh Bu Ratna.
"Ran, Mama pulang dulu ya, kamu hati hati. Dan ingat! jaga baik baik menantu Mama yang cantik ini." Melihat Luna dengan senyum bangga.
__ADS_1
"Ma, kenapa Ran tidak pulang ke apartemen Ran saja, ngapain di booking in hotel segala!" Rengeknya pada Bu Ratna.
"Hussttg!! diamlah, nikmati dulu masa masa pengantin barumu. Dan berusahalah."
"Berusaha apa Ma?"
"Memberi Mama cucu yang lucu." Membisik ke telinga Ran.
Seketika Ran membulatkan matanya mendengar ucapan Mamanya sampai membuat sekujur tubuhnya merinding.
"Ma, Ran bel~" Ucapanya ditahan oleh Mamanya.
"Ssstt! Sudah sudah. Kalian cepat berangkat. Yao sudah menunggu tuh."
Menunjuk keberadaan Yao di pintu keluar gedung. Dan sedang berusaha menahan tubuhnya agar tidak terlentang karena menahan kantuk sedari tadi.
"Hemm."
"Baik, Mama tunggu usahamu secepatnya, bye!" Sambil mengedipkan matanya.
Sial! belum apa apa Mama sudah membahas hal menggelikan itu.
Sambil memegang tengkuknya.
Melihat kepergian mobil Mamanya. Kini ia berbalik berhadapan dengan Luna. Istrinya menunjukkan senyum manis, yang semua orang pun merasa terbuai ketika melihatnya.
"Kenapa Tuan?"
"Tidak apa apa! cepat masuk mobil, kita ke hotel sekarang!"
"Ho,hotel? ki,kita mau ngapain ke hotel Tuan?" Bertanya dengan gelagapan. Ia berharap perjanjian itu tidak mengandung dusta didalamnya.
"Kau memikirkan apa? Kita sudah di booking kan hotel oleh Mamaku, itu semua tanpa sepengetahuanku. Ya mau tidak mau aku harus menurutinya."
Kenapa sampai di booking in hotel segala sih. Lalu aku harus sekamar berdua dengannya? aaaaa aku bahkan membayangkan betapa canggungnya suasana itu nanti. Ingin rasanya aku kabur dari sini. Pulang kerumah. Ah aku kangen kamarku.
Bersambung...
Hai guys, seharusnya hari ini aku Up 3 eps. Tapi karena ada kesibukan yang mendadak banget seharian ini. Aku cuma bisa up 1 eps. Tapi tenang, besok di usahain bakal Up kok. Pasti penasaran sama kegiatan Ran dan Luna di hotel yaš...
Kira kira mereka ngapain yaš¤
__ADS_1
Jangan lupa vote ya guys. Terus like dan Komen juga untuk support novel IAPš¤