Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 42


__ADS_3

Malam mulai larut. Luna masih tidak bergeming dari posisinya sekarang. Ia menahan pegal di leher maupun punggungnya, agar tidak menimbulkan gerakan apapun yang membuat pria disampingnya terganggu.


Tahan. Aku harus tahan.


Setidaknya aku hanya menahan nafas saja sampai dia tertidur kan.


Dibelakangnya, Ran justru memperhatikan tingkah istrinya. Menurutnya, posisi Luna itu sangat tidak nyaman. Apalagi sedikit saja ia bergerak, maka ia akan jatuh ke lantai. Ran menunggu seberapa lama istrinya itu menahan badannya.


Ngapain juga aku merhatiin dia. Lebih baik aku tidur. Sadar sendiri dengan apa yang ia lakukan.


Pagi hari telah tiba. Sinar matahari menembus gorden transparan kamar president suite yang ditempati penghuni pengantin baru itu.


Luna bangun duluan dari suaminya. Ia meregangkan otot ototnya. Ia merasakan posisinya berbeda dengan yang semalam. Luna diam sejenak.


Astaga! Kenapa aku disini?


Tubuhnya berada di tengah tempat tidur. Berdampingan dengan suaminya. Dan lengannya terlentang berada di atas perut Ran. Posisinya berubah total dengan yang ia pertahankan semalam. Entah apa yang terjadi, Luna segera beranjak dari tidurnya. Pelan. Pelan. Dan menuju kamar mandi dengan langkah yang mengendap endap.


Perlahan Luna menutup pintu kamar mandi. "Apa yang aku lakukan? Kenapa posisiku berubah gitu. Aaa aku pasti sudah gila!" Mengacak ngacak rambutnya di depan cermin, karena salah tingkah.


Kalian kira Ran tidak sadar? Salah besar. Justru Ran menyadari tingkah istrinya tidur dari semalam. Ran bahkan tidak bisa tidur karena selalu mendapat tendangan maut dari istrinya. Ran membiarkan lengan istrinya menimpa perutnya. Karena saat itu sudah tidak ada pergerakan lagi dari Luna sampai pagi. Ia melirik Luna yang sudah masuk kedalam kamar mandi.


Dasar wanita sirkus!


Apa dia selalu begitu kalau tidur?


Bisa bisa badanku lebam lebam karena terus ditendang.


Ran memijat badannya sendiri perlahan. Bukannya ia menghindar. Justru ia malah menikmati malam itu. Ia bahkan tidak bisa marah. Ran seperti tidak bisa berjauhan dengan istrinya. Kau unik juga ternyata. Aku bahkan baru menemui wanita sepertimu. Terlihat senyum miring dibibir Ran.

__ADS_1


Setelah mandi. Luna membuka pintu kamar mandi dan mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar. Ia hanya menggunakan handuk kimono yang terbalut di badannya. Ia tak melihat suaminya itu diatas tempat tidur.


Dimana bedebah itu?


Apa mungkin sudah bangun? Tapi dia dimana. Aku bahkan tidak punya muka untuk berhadapan dengannya. Karena tingkahku tadi. Semoga saja dia tidak sadar.


Luna berjalan menjijit menuju ruang ganti. Ia mencari kopernya yang dibawa oleh Yao. Tapi ia tidak menemukan dimana kopernya di letakkan. "Perasaan semalem pak Yao menaruhnya disini deh aku liat. Tapi kok gak ada?" Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang kau cari?" Ran melipat tangannya di dada. Berdiri di pintu ruang ganti menatap Luna sinis.Luna menghentikan pergerakannya. "Ko,koper saya Tuan. Saya mencari koper saya." Luna gelagapan menjawab Ran yang tiba tiba ada dibelakangnya. Ran melihat tubuh Luna dari atas sampai bawah. Terlihat jelas bagian dada Luna yang timbul meski memakai handuk kimono. Tiba tiba Ran merasakan ketegangan di bagian bawah tubuhnya.


Apa ini? Apa aku sedang bermimpi?


10 tahun setelah aku puber, dan dia baru bereaksi sekarang?


Aku laki laki tulen sekarang?


Luna yang merasa dirinya diamati merasa canggung.


Luna lantas menutupi bagian dadanya dan berbalik memunggungi Ran.


Kenapa dia melihatku seperti itu?


Dia tidak akan macam macam kan.


Pergilah laki laki jahat. Pergilah. Biarkan aku disini mencari pakaianku. Aku takut dengan tatapanmu yang tajam itu.


"Tuan saya mau ganti baju!" Akhirnya Luma memberanikan diri menegaskan pada laki laki dibelakangnya untuk meninggalkan ruang ganti.


"Ah, iya iya. Kalau begitu silahkan" Ran tersentak kaget dan segera menutupi bagian bawahnya dan pergi meninggalkan Luna. Ran menuju kamar mandi. Ia menatap cermin. Ia bergumam sendiri di dalam hati. Ia harap ini bukan sekedar haluan. Ia kira penyakitnya ini tidak akan pernah sembuh. Dan harus di terpa kesendirian dalam hidupnya, karena tidak memiliki hasrat pada perempuan manapun. Namun ini pertama kalinya ia bereaksi. "Ah tidak mungkin. Aku rasa ini hanya kebetulan saja." Mengibaskan tangannya ke udara.

__ADS_1


Setelah beberapa mencari. Akhirnya Luna menemukan kopernya yang ada di dalam lemari. "Disini kau rupanya. Pak Yao juga. Bikin bingung aja." Menarik kopernya. Dan memilah baju yang akan dipakainya.


Setelah ganti baju. Luna berjalan menuju tempat tidur. Ia merapikan ranjang. Sejenak ia berfikir dengan ucapan yang pernah dilontarkan majikan yang sekarang menjadi suaminya itu." Bukannya aku masih harus bekerja? menjadi asisten pribadinya? Jadi aku harus melakukan apa sekarang?" Luna sejenak termenung. Kemudian ia mengambil ponsel yang ada di nakas.


"Baiklah, mungkin aku harus melakukan kewajiban sebagai istri sekarang. Ya walau sebenarnya aku ini asisten berkedok istri." Luna mengetikkan sesuatu di ponselnya. Mencari informasi di internet tentang apa saja tugas istri dipagi hari.


Luna membulatkan matanya. Pasalnya di artikel yang ia cari. Apa saja yang dilakukan seorang istri di pagi hari seperti, Memberi morning kiss, Bermesraan di ranjang sebelum beranjak, menyiapkan pakaian kerja suami, memberi ciuman semangat dll.


Gadis itu merinding sendiri membaca artikel di ponselnya. "Apa ini? Morning kiss? mustahil aku melakukannya. Yang ada aku ditoyor duluan. Dan apalagi ini. Bermesraan?. Asal kau tau ya. Baru bangun tidur saja sudah seperti atraksi. Gak mungkin juga kalo ini." Terus scrolling kebawah. "Ha! Ciuman semangat. Hahaha Luna sebaiknya kau sadar diri saja. Kau ini dinikahi hanya sebagai alat pelarian saja. Mana mungkin bisa melakukan adegan suami istri sungguhan. Kau harus ingat pria yang kau nikahi itu seperti apa. Laki laki yang kaku, dingin seperti frozen." Luna ngedumel sendiri.


Sebaiknya aku melakukan hal yang lebih masuk akal aja deh. Cari aman aja.


Luna lantas memilih opsi yang ketiga yaitu menyiapkan pakaian kerja. Itu merupakan hal yang lumayan lazim baginya untuk melayani laki laki seperti Ran.


Ran keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti. Namun ada satu panggilan menghentikan langkahnya. "Tuan, baju anda sudah saya siapkan. Ada di gantungan depan lemari." Tidak melihat sumber suara. Terus berjalan.


Tak lama, Ran keluar dengan baju yang berbeda dari yang Luna persiapkan. Ia memakai baju santai berbahan kaos dan juga celana pendek. "Loh, Tuan kok gak pake baju kerja?" Luna terdiam. "Kau lupa? kita ini baru menikah! dan Mama memesan kamar ini untuk 3 hari kedepan. Dan kau seenaknya menyuruhku kerja?. Lantas apa kata orang orang nanti, kalau belum sehari menikah sudah kerja?" Bicara dengan nada ketus andalannya.


I,iya juga ya. Kenapa aku melupakan itu.


Anggap aja aku ini sedang berlibur. Huuuhhhh hampa sekali rasanya berlibur dengan si frozen. Bukannya enjoy. Malah tertekan mulu!


"Sebaiknya kita turun." Ran tidak menghiraukan Luna yang berdiri mematung. "Mau kemana Tuan?"


"Breakfast lah. Perutmu gak lapar?. Kalau enggak yasudah." Lanjut pergi.


"I,iya Tuan saya ikut." Buru buru menyusul Ran. Pagi pagi udah makan ati! Tega banget si. Aku kan juga butuh asupan pagi untuk menghadapi hari ini denganmu sialan!.


Jangan lupa vote nya. Like dan komen ya🤗 Untuk Terus support novel IAP❤️

__ADS_1


__ADS_2