
"Apa!! Jadi Sabrina menemui Ayah Luna dan mengatakan bahwa Luna yang telah merebut pekerjaannya?" Dengan suara geram Ran sambil mengepalkan tangannya mendengar berita dari Yao penyebab penyakit Ayah Luna kambuh dan akhirnya kollaps.
"Dari pengakuan adiknya memang seperti itu Ran, katanya tiba tiba rumah mereka didatangi seorang perempuan yang tiba tiba marah marah didepan ayahnya. Karena Luna telah merebut pekerjaannya dari Kau dan bahkan mengatai Luna dengan sebutan j*l*ng. Siapa lagi kalau bukan Sabrina." Ucap Yao menjelaskan.
Wajah Ran berubah merah padam, emosinya sudah tak bisa ia tahan lagi. Ia harus cepat bertindak. Ia sangat hafal dengan sifat Sabrina. Ia akan terus mengejar apa yang dia mau sampai dapat walau dengan cara apapun.
"Yao, sepertinya aku sudah punya solusinya. Ya meskipun aku tidak terlalu yakin untuk menjalaninya tapi aku akan mencobanya." Yang diujung telfon heran mendengar ucapan Ran, sembari mengerutkan alisnya. "Solusi apa yang kau maksud Ran?"
Menarik nafas dalam dan membuangnya
perlahan. "Aku akan menikah dengan Luna." Yao seketika membeku dengan ekspresi melongo, mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Ran itu.
"Ran?"
"Hemm?"
"Kau tidak sakit?"
"Tidak!"
"Kau sadar kan sekarang? atau kau sedang mengigau?"
"Aku sadar, aku tidak mengigau Yao!, kau tak salah dengar! iya, aku akan menikah dengannya Yao Zhang." Ran meyakinkan Yao dengan keputusannya, ya walaupun dia sendiri tidak yakin.
Yao yang sekali lagi mendengar ucapan Ran sontak menjatuhkan ponselnya.
Nalexa Zhuran... Apa ini benar kau?
Memang aku ingin merencanakan ini untukmu, tapi aku tak menyangka kau sendiri yang memulai dengan pernyataan yang bahkan mustahil kau katakan dari mulutmu itu.
Yao mengambil kembali ponselnya yang tergeletak di lantai sambil tangannya ikut gemetar.
"Ran?"
"Hemm!" Jawabnya cuek.
"Kau yakin dengan keputusanmu ini? kau tau kan ini soal pernikahan! Tentunya tidak main main."
"Aku akan berusaha Yao, Aku sendiri mengalami beberapa reaksi yang berbeda selama dengan Luna."
"Reaksi apa yang kau maksud Ran?" Yao penuh dengan tanda tanya dikepalanya.
"Sejak kecil aku tidak pernah merasa aku ini tertarik pada perempuan, kau tau sendiri kan?"
"Hmm lalu"
"Aku hanya ingat dulu disaat usiaku 7 tahun aku pernah bertemu dengan anak teman mamaku, dia mengajakku bermain, entah kenapa aku merasa senang waktu itu. sepertinya itu saat pertama kalinya aku tertarik untuk bermain dengan teman perempuan. Dan sekarang perasaan itu kembali lagi disaat aku bertemu dengan Luna." Ran menjelaskan situasinya saat ini.
Author Pov*
Saat kecil Ran pernah di diagnosa mengalami gangguan disfungsi seksual, dimana pada kondisi itu Ran tidak punya rasa tertarik pada lawan jenis, tak jarang kadang Ran juga pernah jijik didekati perempuan, membuatnya tak pernah menjalin hubungan special dengan perempuan sampai saat ini.
Namun diusianya yang waktu itu berusia 7 tahun. Ia pernah bertemu seorang gadis kecil, seorang anak teman mamanya. anak itu sangat manis dan ceria. Ia berhasil memancing perhatian Ran. Disitu pertama kalinya Ran bisa akrab dengan perempuan bahkan bermain bersama dengan gembira. Namun selang beberapa lama, ia tak bisa menemukan gadis kecil itu lagi. Kabarnya, gadis itu beserta keluarganya pindah ke kampung halamannya yang ia sendiri tak tau keberadaannya.
Mulai saat itu Ran tidak pernah lagi berteman dengan perempuan manapun, ia sempat menjadi korban bully saat disekolah karena ia tak punya teman. Saat itu temannya hanya ada Yao seorang.
Dan pernah menolak cinta salah satu perempuan yang saat itu menyukainya. Perempuan itu tergila gila pada Ran mulai saat Ran pindah ke sekolah barunya. Bagaimana tidak, Penampilan Ran sedari dulu memang tampan, cool dan misterius membuat para wanita terbuai dengan kharismanya.
Sampai akhirnya dia bertemu Sabrina, teman kuliahnya. Sabrina anak dari seorang pengusaha batu bara. Ia sekelas dengan Ran. Saat itu ia terpisah dari Yao karena berbeda kampus. Ia tak memiliki teman. Hanya Sabrina saat itu satu satunya teman yang mau membantunya. Sebenarnya Ran merasa tidak nyaman berteman dengan teman perempuan, namun lama kelamaan Ran mulai terbiasa dengan kehadiran Sabrina.
Tentu saja dengan menganggapnya sekedar teman, tak pernah memiliki perasaan apapun. Sampai akhirnya Ran lulus kuliah dan melanjutkan bisnis papanya. Dan sebagai tanda terimakasih Ran selama ini karena Sabrina sudah banyak membantunya. Ia menjadikannya sebagai asisten Pribadinya.
Namun hal itu justru menjadi kesempatan bagi Sabrina, untuk berada disisi Ran selamanya.
..
Luna dan Ran telah sampai di bandara, ia diantar oleh tim pemandu. Zeka juga turut mengantar mereka berdua. Dengan berbalut jaket tebal dan bawahan piyama karakter domba. Ia tak malu mengantar Atasannya itu sampai ke kota.
__ADS_1
"Zeka" Panggil Ran dengan nada datar. "Iya Tuan?" Zeka mendekat pada Ran. " Tolong urus semua disini, aku percayakan padamu, jangan kecewakan aku!" Sambil menepuk bahu Zeka.
"Baik Tuan, saya akan pastikan semua akan aman." Sambil mengacungkan 2 jempolnya. "Dan pastikan para member bersenang senang sampai pulang dengan selamat!"
"Ye Tuan" Sambil menundukkan kepalanya.
"Oh ya, dan aku mau minta maaf padamu perihal kemarin."
Bisa tidak si, gausah dibahas sekarang. Aku sudah benar benar ingin melupakannya. Mata pandaku, baju basahku, pantat nyeriku.
"Jangan dipikirkan Tuan, saya baik baik saja!"
"Ngomong ngomong, motif celanamu bagus!" Sambil melirik bawahan piyama Zeka dengan senyum mengejek.
Sialan kau tuan, aku sudah mengumpulkan keberanianku dengan memakai celana ini untuk sampai sini, demi mengantar kalian berdua. Ini juga karena ulahmu disungai!
Gumamnya sambil merapatkan kakinya dan menyembunyikan motif domba terbang itu dengan tangannya, dengan wajah yang merona karna malu.
"Sebaiknya anda masuk Tuan, pasti Luna sudab menunggu didalam." Sambil mendorong tubuh Ran dari belakang.
"Cukup kau yang berani kurang ajar padaku Zeka." Sambil terus berjalan.
Zeka tak menggubris Ran dan masih mendorong pelan Ran seperti anak kecil yang sedang main kereta keretaan.
"Dadah Tuan!" Ucap Zeka sambil melambaikan tangannya melihat Ran masuk kedalam gate pemberangkatan.
Di dalam gedung Rawn.
Yao mematung di depan komputer sambil mengetuk ngetuk mejanya dengan pulpen ditangannya.
"Zhuran, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa sampai keputusan itu datang dari mulutmu sendiri? Bukankah kau tidak nyaman dengan perempuan? Apakah Luna menjadi obatmu sekarang?"
Lamunan Yao buyar ketika mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
"Masuk!"
"Ah, tidak. Masuklah!" Nia masuk kedalam ruangan Yao dan menutup kembali pintunya.
Nia menyerahkan beberapa berkas project yang harus Yao tanda tangani. Setelah semua sudah, Nia hendak beranjak keuar dari ruangan Yao namun langkahnya terhenti ketika Yao tiba tiba memanggilnya.
"Nia tunggu!"
"Eh iya pak? Ada apa?"
"Duduklah sebentar!" Menunjukkan jarinya kearah kursi didepan mejanya.
Nia duduk di kursi itu dengan wajah heran.
Yao memajukan badannya, dan menempelkan tangan ke dagunya.
"Ada berita baru, tapi kau janji jangan sebarkan ini dulu" Nia mengerutkan dahinya.
"Berita apa pak?" Tanya Nia penasaran.
"Sepertinya Tuan Ran akan segera melepas masa lajangnya."
"Melepas masa la-" Tak sempat meneruskan, Nia membelalakkan matanya dan menoleh lagi kearah Yao.
"Maksud anda, Tuan Ran akan menikah." Ucapnya dengan nada antusias namun juga masih tak percaya.
"Diam bodoh, kau bisa membuat orang diluar datang kemari!" Menempelkan jari telunjuknya ke bibir Nia.
"Pak Yao serius?" Yao menganggukkan kepala pelan. "Omoo!! siapa wanita beruntung itu?" Nia greget sendiri menggigit jarinya. Difikirnya siapa perempuan yang berhasil menaklukan hati Tuan super kaku itu. Dia patut diberi penghargaan. Gumamnya.
"Kau mau tau siapa?" Ucap Yao yang membuat Nia semakin penasaran.
"Jangan kaget" Nia menganggukan kepalanya cepat.
__ADS_1
Pastilah kaget sialan
"Dia adalah Luna." Nia melongo mendengar nama perempuan beruntung itu yang ternyata adalah asisten Tuannya sendiri.
"Luna." Dengan nada tak percaya.
"Sssttt!" Menyuruh Nia berbicara pelan.
"Bu-bukannya Luna kekasih pak Rama?"
Nia semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Kekasih pak Rama?" Yao tak kalah bingung dengan ucapan Nia.
"Iya, waktu itu saya pernah diajak makan siang dengan Luna di kantin, dan saya melihat Luna dan pak Rama juga sedang makan siang bersama, saya pikir mereka sedang kencan. Tapi anehnya sepertinya saat itu Luna seperti uring uringan pada pak Rama." Ujarnya. "Mungkin sepertinya mereka lagi marahan." Ucapnya meneruskan.
Sontak Yao menoel kepala Nia.
"Bodoh!"
"Aw! Kenapa anda menoel kepala saya sih?" Sambil memegang kepalanya.
"Luna tidak berpacaran dengan pak Rama Nia!, Justru dia adalah musuh bebuyutan Luna!"
"Musuh bebuyutan? Kenapa?"
"Entah, dari awal Luna sudah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Rama, apalagi Rama sering menggodanya, mungkin Luna tidak nyaman. mungkin juga jijik." Yao membantah dugaan Nia yang menurutnya ngawur itu.
Oh jadi mereka berdua tidak pacaran.
..
Di bandara.
Luna dan Ran akhirnya tiba di tanah air. Luna dengan cepat menelfon seseorang untuk menjemputnya.
"Kau menelfon siapa?"
"Menelfon jemputan Tuan"
Ran merampas ponsel ditangan Luna.
Luna tersentak ketika ponselnya direbut.
"Tidak perlu!" Sambil mematikan sambungan telfon. Luna menatap wajah Ran sinis.
"Biar kuantar!" Ran berjalan sampai didepan bandara dan berhenti disebuah mobil mewah berwarna hitam.
"Ini mobil siapa Tuan?" Sambil memegang pintu mobil.
"Jangan banyak tanya, masuklah!" Luna segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil di kursi tengah.
Ini bukan mobil curian kan?
"Ngapain kau disitu?"
"Ya duduk Tuan?" Jawabnya enteng.
"Maksudku kenapa kau duduk dibelakang, kau mau aku terlihat seperti supirmu!"
Luna langsung keluar dan pindah ke depan, di samping Ran.
Melirik Ran. Gak bisa santai apa? ngomel mulu kaya ibu ibu.
Ran pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ayah Luna dirawat.
Ayo mana vote nya nih, Ditunggu ya🤗 Jangan lupa like, komen juga biar tetap semangat Up nih❤️❤️❤️
__ADS_1