Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 46


__ADS_3

Yang di kamar mandi masih termenung sambil menekuk lutut di rendaman bathtub. Seperti tidak ingin keluar dari tempat itu. Air dari shower terus membasahi rambut indahnya. Kalau bisa pun dia akan tidur dikamar mandi malam itu juga, sayangnya ia tidak membawa alas dan bantal untuk tidur. Ia tak berani keluar, apalagi ketika melihat laki laki yang akan ia benci seumur hidupnya itu. Laki laki yang sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Dan laki laki yang akan ia layani sampai dia bosan lalu membuangnya. Ia berharap perjanjian rumah rumahan ini cepat berakhir. Dan hidupnya kembali normal.


Sudah 2 jam Luna tak kunjung keluar juga. Ran yang menyadari istrinya berlama lama dikamar mandi segera bergegas menghampiri.


"Na, apa yang kau lakukan didalam?"


Mendengar namanya dipanggil. Luna melejit menegakkan tubuhnya. "i,iya tuan. Sa,saya sedang berendam." Jawabnya dengan nada tinggi.


"Berendam? ini bahkan sudah lebih 2 jam. Kau berendam apa bunuh diri?" Tanyanya dengan nada yang menyelidik.


Bunuh diri? gila ya! aku aja belum menikmati hidupku. Aku masih mau bahagia.


Menunggu waktu agar berpisah denganmu dan mencari kebahagiaanku. Bisa bisanya mengataiku bunuh diri.


Hidupku juga tidak terlalu menyedihkan tauk!


"haha. Mana mungkin saya sebodoh itu tuan. Saya hanya ingin berendam lama saja." Mengerat kesal sambil melototi pintu.


"Cepat keluarlah. Aku tidak mau tanggung jawab kalau sampai badanmu biru semua ."


Memangnya aku korban tenggelam apa?


.


"Iya tuan sebentar lagi."


Tidaka da sautan lagi dari luar. Luna pun dengan langkah malas beranjak dari bathtub dan membilas badannya. Ia mengambil handuk kimononya.


Sejenak ia mengingat kejadian tadi pagi. Dimana Ran yang menatap dengan tatapan lekat dari atas sampai bawah tubuhnya ketika memakai handuk.


"Sial! aku jadi ingat lagi kan. Eh tapi, bukannya dia punya kelainan. seharusnya tidak bereaksi apa apa dong. Tapi kenapa tatapannya tadi pagi sangat beda."


"Ah iya. Aku juga lupa lagi bawak baju ganti. Masa harus keluar gini lagi sih." Luna kembali mencak mencak. Ia risih kalau harus ditatap seperti itu oleh Ran.


"Tuan??" Panggilnya dari dalam kamar mandi.


"Hemm."


"Anda bisa keluar sebentar?."


"Kenapa kau menyuruhku keluar."


"Sa,saya mau ganti baju tuan."


"ganti ya ganti saja lah. Ngapain menyuruhku keluar segala."


"Saya malu."


Malu? lalu tadi pagi itu apa?


"Kau malu? setelah telanjang didepanku kau baru bilang malu?"


Duh pake diingetin lagi. aaaaa


sepertinya aku ingin disini saja sampai besok. Aku bahkan tidak punya muka untuk bertemu dengannya.


"Tuan saya mohon." Suaranya memelas sekarang. "Apa yang membuat kau malu lagi. Aku bahkan sudah melihat lekukan tubuhmu itu. Jadi terbiasalah. Aku juga suamimu."


Suami? dia mengaku suamiku? haha kenapa aku merinding ya?


bukannya aku ini hanya pembantu yang berkedok istri.


Kenapa perkataannya kelihatan keren begitu.


Luna pun tidak punya pilihan lain. Lama lama bersemayam di kamar mandi pun cukup pengap. Andai ada AC dan bantal mungkin gadis itu sudah tidur disitu daritadi.

__ADS_1


Membuka pintu perlahan. Mengintip dengan menyembulkan kepalanya keluar. Ia melihat Ran sedang fokus dengan ponselnya sambil meluruskan kakinya ditempat tidur.


Semoga dia tidak melihatku.


Wusshhh🌬️


Luna berlari secepat kilat menuju ruang ganti. Ran masih tidak menyadari itu. Karna objek yang ada di ponselnya lebih menarik.


"Naaaa"


"Iya tuan?"


"Ambilkan aku air!"


"iya tuan sebentar." Memakai bajunya dengan tergopoh gopoh.


"Cepat!"


Huhh gak sabaran banget sih!


Luna segera menghampiri Ran. Saat ia akan mengambil air minum di dalam lemari es. Justru ia melihat sebuah gelas air disebelah laki laki itu.


Hei itukan ada air disebelahmu sialan!


Tanganmu kan ada!


Kenapa musti merepotkanku!


"Kenapa bengong! Cepat ambilin!"


Dia sedang mengerjaiku ya?


"Ini tuan"


Setelah meminumnya, Ran menyerahkan kembali pada Luna. "Aku ingin makan!"


"Itu kan disebelah anda ada makanan tuan." Sambil menarik senyum paksa dibibirnya. Mengutuki laki laki didepannya.


"tapi aku malas."


Yaudah gausah makan!


Luna mengambil 1 dari 2 piring berisi steak salmon yang juga menggugah seleranya itu. Karena ia sendiri juga lapar. Kemudian menyerahkannya pada Ran.


"Apa?" Melihat nampan ditangan Luna.


"Katanya tuan mau makan?" Seraya menyodorkan nampan.


"Kau tidak lihat tanganku sedang sibuk!"


Ya tuhan mending bunuh aku aja deh tuan.


"Suapin!"


Apa? suapin kau bilang?


Dengan terpaksa Luna menyuapi laki laki didepannya itu. Sembari mengoloknya di dalam hati.


Ran melihat istrinya yang memandang lekat makanan didepannya. Ia seakan tau kalau Luna sendiri tengah lapar.


"Sudah! aku kenyang!" Bicara singkat.


"Ini tapi masih ada tuan sayang kalo gak diabisin."


"Makanlah"

__ADS_1


"Tapi itu juga ada 1 porsi lagi kok, saya makan yang itu aja."


"Yakin kau akan kenyang?"


"Yakin kok tuan."


"Yasudah mana sini piringku!" Menarik piring yang ditangan Luna. Ran melahap habis semua steak itu tanpa sisa.


Dasar! tadi bilang kenyang.


Sekarang malah diembat tanpa sisa.


Dasar mulut keramat!


"Tunggu apa? makanlah!"


Luna tersentak dari bengongnya. Lalu mengambil piring makanannya. Luna memilih makan di ruang tv. Fasilitias di hotel itu sangat lengkap dan nyaman. Bahkan di kamar president suite yang mereka tempati itu terdapat ruang TV, ruang tamu, 1 kamar utama, dan sebuah balkon yang langsung menghadap laut.


Setelah makan. Luna memilih duduk di balkon. Ia melihat deburan ombak yang dihiasi pemandangan langit berwarna orange menampakkan matahari yang setengah terbenam. Sungguh pemandangan yang begitu menenangkan. Andai dia saat ini bersama orang yang ia cintai. Pasti akan terasa jauh lebih menyenangkan. Sayangnya ia seperti terkurung di kurungan singa. Dimana singa itu akan siap menerkamnya kapan saja.


Ponsel Ran berdering. Ran mengangkat sebuah video call yang masuk. "Halo ma?"


"Halo Ran, Bagaimana bulan madumu? apa menyenangkan?" Terlihat raut wajah yang sumringah di layar ponselnya.


Aku harus terlihat senang. Agar mama tidak menyuruh si cunguk sialan itu berbuat aneh aneh lagi.


"Ran seneng kok Ma, bahagia banget malah." Bicara sambil memperlihatkan senyum lebar yang ia buat buat.


"Oh, benarkah? bagus kalau begitu. Akhirnya anak Mama menikah juga ya. Dan bisa berbulan madu."


"Ini juga karna Mama"


Iya berbulan madu tapi bulan nya saja. madu nya enggak soalnya terasa hambar bagiku.


Rasa canggung yang terjadi, itu yang membuatku seperti ingin cepat cepat bekerja.


"Iya dong, apasih yang enggak buat anak Mama yang tampan ini. Eh ngomong ngomong, istrinya sudab di unboxing belum." Bu Ratna terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Apa sih Ma, jangan gitu dong. Bikin Ran malu saja." Saut Papa Roy yang kebetulan ada disamping Mamanya.


"Unboxing? Apa itu Ma?"


"Sudah sudah. Mamamu ini gak usah di gubris Ran. Kamu nikmati dulu jatah bulan madumu okey." Papanya melambaikan tangannya.


"Ih, Papa. Mama kan masih kangen sama Ran." Rengeknya disamping suaminya. "Ngomong ngomong dimana Luna Ran?"


"Lagi makan Ma."


"Makan? kok gak barengan?"


"Euummmm...." Mencari cari alasan.


"Tadi Ran makan duluan karna Luna masih main dipantai Ma. Terus perut Ran laper banget, jadi duluan deh." Semoga alasannya diterima.


"Oh, yaudah titip salam ya sama menantu Mama yang paling cantik." Seraya memberi senyuman indah.


"Baik Ma, nanti Ran sampaikan."


"Okedeh, see you sayang."


Ran hanya membalas dengan senyum tipis. Menghela nafas kasar, menelaah ucapan Mamanya tadi.


"Unboxing? Istilah apa itu?" Sambil mengelus dagunya.


Bersambung....

__ADS_1


Ayo jangan lupa vote nya ya... Komen dan like juga untuk terus support novel IAP.❤️🤗


__ADS_2