
Setelah 3 hari berlalu, Ran dan Luna akhirnya pulang dari hotel. Sekarang mereka berdua akan pulang ke apartemen Ran. Sejak Ran mengambil alih perusahaan Papanya, ia memutuskan untuk tinggal di apartemen. Apalagi semenjak kedatangan kakaknya dari luar negeri, Ran merasa sangat risih satu rumah dengan Rama. Tak jarang mereka sering adu mulut meski perkara sepele. Karena itu, Ran memutuskan untuk mengalah dan tinggal diluar rumah.
Ran membeli sebuah unit apartemen di kawasan Elite pusat kota A. Dimana di kawasan itu rata rata penghuni atau pemilik unit adalah seorang konglomerat, pejabat dan orang kaya raya.
Luna mengemasi barang barangnya. Tak lupa juga barang barang dan pakaian suaminya. 3 hari itu ia lalui seperti biasanya, namun sedikit beda. Karena perlakuan Ran sudah sedikit melunak pada istrinya, artinya bicara tanpa nada ketus, sorotan mata tajam dan komunikasi layaknya manusia normal pada umumnya. Namun tetap, soal perjanjian di tempat tidur mereka berdua masih sama. Bahkan Ran memilih mengalah untuk tidur di sofa. Karena setiap malam tingkah istrinya membuat Ran tidak bisa tidur karena selalu mendapat tendangan maut.
"Suamiku, semuanya sudah beres. Sekarang mari kita turun kebawah."
Bahkan aku masih belum terbiasa memanggilnya begitu.
Suamiku suamiku.
Haha. Kenapa aku geli sendiri ya.
"Baiklah, ayo."
Mereka di bantu oleh bodyguard Ran. Yang ia panggil sebelum mereka pulang.
Dan manager Yao sudah menunggu di depan pintu keluar dengan mobilnya.
Luna melihat di seberang hotel ada jajanan kesukaannya yaitu tahu bulat.
"Suamiku, apa saya boleh membeli sesuatu sebentar?."
Cih, bahkan aku sudah fasih memanggilnya begitu sekarang
"Beli apa?."
Luna menunjuk gerobak kaki lima didepan hotel. "Makanan apa itu?." Dahinya mengerut.
Padahal digerobaknya udah ada banner segede gaban masih aja nanya.
"Itu tahu bulat suamiku. Boleh ya boleh?." Merengek seperti anak kecil memohon pada ayahnya. "Apa itu, aku tidak pernah mendengarnya."
Ya iyalah. Orang kaya higienis sepertimu mana pernah memakan jajanan seperti itu.
Yang ada pedagangnya stress mendapat pembeli sepertimu. Yang selalu menanyakan. Apa ini higienis? Hahaha.
"Yao, apa jajanan itu menyehatkan?." Bertanya pada Yao yang sedang memasukan koper ke bagasi.
Sudah kuduga.
"Kalau menyehatkan si aku belum berani mengatakannya. Tapi jajanan itu menjadi favorit hampir semua orang sekarang."
__ADS_1
"Kalau begitu tidak usah."
Luna langsung menekuk wajahnya. "Suamiku, saya mohon kali ini aja ya?." Memasang muka melas.
Kenapa kau malah terlihat imut begitu.
aku jadi tidak tega.
"Baiklah, tapi awas kalau sampai terjadi apa apa." Jawabnya cuek sambil masuk kedalam mobil duluan.
Dengan perizinan Ran, akhirnya Luna berlari kecil menuju gerobak jajanan itu. Jajanan itu adalah favorit Luna ketika zaman sekolah dulu. Ia kadang memberhentikan setiap pedagang tahu bulat keliling yang lewat depan rumahnya.
Sudah memesan kini gadis itu duduk di kursi plastik yang ada disana. Tiba tiba ada seorang laki laki yang menyapanya.
"Luna?, kau Luna kan?." Sapa seorang laki laki yang tak asing diingatan Luna. Dia tertawa senang.
"Haikal?, kau sedang apa disini?"
Haikal adalah mantan pacar Luna saat dia SMA dulu. Mereka putus karena Haikal akan melanjutkan studi ke luar negeri. Dan menurutnya hubungan jarak jauh akan sangat tidak nyaman. Dengan pertimbangan yang sudah matang akhirnya mereka berpisah baik baik tanpa ada kebencian.
"Oh aku mau ke pantai. Kebetulan lihat ada yang jual tahu bulat. Jadi aku mampir untuk jadiin camilan nanti." Ikut duduk disamping Luna.
"Kamu apa kabar?. Sendirian aja?. Dan kenapa ada disini?." Haikal Menoleh ke arah samping kiri kanan Luna yang nampaknya mantan pacarnya itu sedang sendirian.
"Kabarku baik kok. Aku juga habis dari hotel dan kebetulan juga aku melihat jajanan ini." Tersenyum tipis.
"Hahaha. Iya kau sendiri tau kan ini adalah jajanan favoritku dari dulu." Memutar kenangan dimana dulu ia sering jajan makanan itu bersama Haikal.
"Hahaha. aku ingat aku ingat. Bahkan hubungan kita dulu aja aku masih ingat."
Seketika Luna terdiam mendengar ucapan Haikal. Sepertinya wajar aja dia bicara seperti itu. Tapi kenapa jadinya canggung begini ya. Apa lagi kalau dia tahu aku sudah menikah, dengan tuan Ran lagi. Bagaimana ya reaksinya.
"Oh maaf, kalau aku mengungkit masalalu kita." Melihat raut wajah Luna yang sedikit pias.
"Hemm gak apa kok." Memaksa tetap senyum.
"Tapi kamu makin cantik aja Na. Apa kamu udah punya pacar lagi sekarang."
Sejujurnya selama ini aku kadang memikirkanmu Luna.
Aku membayangkan kalau suatu saat kita bertemu kita bisa bersatu kembali.
Dan sekarang kita bertemu secara tidak sengaja begini, kau malah seperti tidak nyaman.
__ADS_1
"A,aku bahkan sudah menikah Kal."
deg
Haikal yang tadinya senang karena akhirnya bertemu wanita yang masih ada di dalam hatinya dan ingin berusaha kembali dekat dengan Luna, mendengar itu seketika keinginannya sirna. Bahkan lebih sakit dari perpisahannya dulu.
Padahal dulu Luna sempat meyakinkan tentang hubungan jarak jauh bahwa ia akan menunggunya kembali. Namun Haikal sedikit keberatan, karena kata teman temannya hubungan jarak jauh itu pasti akan membosankan. Sekarang bahkan perempuan yang masih ada di benaknya itu sudah menjadi milik orang lain dalam ikatan suci pernikahan.
"Me,menikah?."
"Iya, aku sudah menikah Kal."
Kalau saja waktu itu kau percaya dan yakin padaku, mungkin aku masih berada disampingmu. Dan tidak menikah dengan laki laki frozen itu.
Tapi kau malah mengikuti perkataan teman temanmu yang bahkan mereka sendiri belum pernah merasakan LDR.
Aku dulu sangat mencintaimu haikal, namun untuk sekarang, aku bahkan sudah tidak bisa membuka hatiku pada siapa siapa. Termasuk pada suamiku sendiri. Laki laki bedebah yang seenaknya sendiri itu.
Dari mobil. Yao memperhatikan mereka berdua, Ia melirik Ran sekilas yang ada di kursi belakang.
Siapa laki laki itu? Kenapa sepertinya mereka dekat sekali. Yao memutar otaknya mengingat ingat wajah laki laki yang duduk didepan istri Ran yang tak terlihat asing itu.
Ran memasukan ponsel kedalam sakunya. Sekarang ia melihat Yao yang seperti sedang memperhatikan seseorang. Dan benar saja ketika Ran melihat ke arah yang dilihat Yao. Dia menemukan istrinya sedang berbicara santai pada laki laki lain.
"Brengsek!, Siapa laki laki itu Yao?." Tangannya mengepal erat.
"Sepertinya dia mantan Luna Ran. Kalau tidak salah ha ha, Haikal. Iya dia Haikal. Mantan pacar istrimu saat SMA." Sebelumnya Yao sudah mencari tau tentang Luna jauh sebelum menikah dengan Ran.
"Kurang ajar!, lalu kenapa dia ada disana sekarang?. Dan lihat itu, mereka bahkan sangat santai sekali mengobrol, bahkan Luna bicara kepadaku saja tidak se santai itu." Menatap laki laki itu dengan sorot mata mengiris.
Itu ya salahmu sendiri. Bahkan aku sekedar bernafas disampingmu saja harus berhati hati. Kalau tidak habis aku dimaki olehmu.
"Oh ya, kamu sendirian aja Kal?."
"Aku sama temen, tapi dia udah jalan duluan tadi. Eh ngomong ngomong boleh minta kontak kamu gak. Setidaknya kita bisa berteman, kebetulan aku juga mempunyai sebuah pet shop, barangkali kamu mau lihat lihat hewan peliharaan atau mau mengadopsi bisa langsung hubungi aku."
"Sungguhan? kamu punya petshop? aaa aku juga dari lama ingin punya kucing." Tak terasa tangan Luna memegang paha Haikal saking antusiasnya.
"Lihat itu Yao! dia bahkan berani pegang pegang." Semakin mengepalkan erat tangannya.
Wah gawat, jangan sampai monster dibelakangku ini sampai meledak.
Luna, kau juga ngapain si pegang pegang segala. Eh, tapi kenapa Ran memanas begitu?
__ADS_1
apa mungkin dia sudah mulai cemburu?.
Bersambung...