Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 25


__ADS_3

Wina pun melanjutkan mimpinya yang tertunda karena suara Ran yang membangunkannya. Ia tidur dengan posisi membelakangi dua orang itu.


Kenapa aku jadi iri melihat kak Luna begitu diperhatikan oleh Tuan Ran, aaa mereka kenapa serasi sekali.


Tuan, kenapa anda tidak berpacaran saja sih, selama aku bekerja di perusahaan ini aku bahkan tidak pernah melihat pimpinan itu tertarik dengan perempuan. Padahal banyak wanita wanita yang berlomba lomba mendekatinya. Ah, kenapa aku jadi mikirin mereka berdua, lebih baik aku tidur saja. Mimpi apa aku tadi yaa....


"Tuan, sebaiknya anda tidur saja, saya sudah tidak apa apa kok." Ujar Luna dengan suara pelan, karena takut membangunkan Wina kedua kalinya.


Ran tidak bergeming, ia menatap Luna lekat dengan tatapan datar.


Kenapa lagi dia ini?, tatapannya seperti ingin mengeksekusiku saja, padahal tadi aku sudah terlanjur senang karna dia mengkhawatirkanku.


"Kau tidur dimobil Van saja." Hanya mengutarakan satu kalimat itu, kemudian Ran beranjak dari berlutut dan hendak meninggalkan Luna.


"Ah Tuan jangan!."


Lagi lagi tangan Ran ditahan oleh Luna.


"Saya tidur disini saja, saya akan pakai kantung tidurnya." Ucapnya memohon.


"Kau pikir dengan jempol kakimu yang seperti itu nyaman tidur dengan kantung tidur, eoh." Ran kesal sendiri dengan sifat Luna yang sedikit ngeyel.


Tuan ini kenapasih!


"Tapi Tuan tidur dimana?."


"Jangan fikirkan aku dulu, yang penting kau tidur dengan nyaman dan tidak menyusahkan!."


Ternyata aku hanya menyusahkannya?, hemm memang aku yang harusnya tidak terlalu GR melihatnya cemas padaku. Memang aku mau berharap seperti apa ke laki laki tempramen ini.


"Kau tidak mendengarkanku?." Kali ini suara Ran lebih ketus.


"Baik Tuan baik!." Luna segera bangkit dari duduknya, namun rasa nyeri di telapak kakinya membuatnya meracau.


"Awww!!."


Ran langsung membalikkan badannya yang sudah keluar tenda duluan dan langsung melihat Luna.


"Kau kenapa?." Terlihat wajah cemas Ran yang tidak dibuat buat.


"Kaki saya nyeri sekali Tuan." Sambil meringis menahan sakit.


Ran berdecak dan langsung membopong Luna keluar dari tenda itu menuju mobil Van, tempat Ran beristirahat. Luna terkejut dengan perlakuan Ran itu.


Aku bingung mengartikan ini semua, tindakannya seperti tidak singkron dengan ucapannya.


Entah kenapa di hati Ran sebenarnya tidak tega melihat Luna seperti itu, ia justru ikut merasa sakit ketika melihat gadis itu merintih, namun ia tidak bisa mengenali perasaannya sendiri seperti apa, ia terlalu kaku dan hanya menyimpulkan bahwa ia hanya kasian pada Luna tidak lebih.


Ran menurunkan Luna pelan pelan untuk menidurkannya di tempat tidur mobil Van nya yang sangat rapi dan wangi.


"Terimakasih Tuan." Ran tidak menggubris ucapan Luna.


Sudah biasa...


Setelah itu Ran keluar dari mobil itu entah kemana.


Wahh ternyata isi mobil ini nyaman juga ya, kasurnya juga tidak terlalu sempit dan nyaman. Tapi Tuan ketus itu nanti tidur dimana ya..

__ADS_1


Ada perasaan iba ketika melihat Ran yang rela keluar dari sarangnya sendiri demi dirinya.


Ah bodo... yang penting aku tidur saja, aku sudah mengantuk dari tadi. Persetan dengan laki laki kaku sepertinya.


Ran mengintip Luna dari ujung pintu mobil, ia memastikan bahwa Luna benar benar tidur dengan nyaman.


Syukurlah, dia tidur juga, semoga kau mimpi indah.


"Kenapa aku ini?. Kenapa malah terus memikirkannya?, dan kenapa aku sampai rela tempatku yang di tidurinya. Padahal aku yang beresin setengah mati tadi." Gumamnya.


Terkadang Ran telat menyadari perlakuannya pada Luna, di satu sisi ia merasa tak ingin Luna jauh dari pandangannya dan ikut merasa sakit ketika Luna kesakitan, tapi disisi lain Ran ia tak bisa mengontrol ucapannya yang sesuai dari hatinya. Ia selalu ketus dan cuek pada gadis itu.


Ran jadi bingung sendiri dengan sikapnya sekarang sejak bertemu dengan Luna. Ia pun meninggalkan mobil Van, dan bergabung dengan tim yang masih terjaga sambil memainkan gitar.


"Eh Tuan, anda belum tidur?." Menghentikan aktivitasnya.


"Lanjutkan saja". Memberi aba aba dengan tangannya.


"Di dalam mobil ada asistenku, dia habis diesengat kelabang, jadi aku mengalah."


"Bagaimana bisa disengat kelabang Tuan?." Tim 1


"Sekarang bagaimana keadaannya Tuan?." Tim 2


"Ah, untungnya dia bisa mengatasinya sendiri, katanya disekolahnya dulu pernah mempelajarinya dan dia juga tidak manja padahal sudah mau ku telfonkan dokter, tapi ia kekeh mengatasinya sendiri." Ucap Ran sambil menyilangkan kakinya ikut duduk lesehan bersama para tim.


"Asisten Tuan sekarang mandiri sekali, kalau si onoh, pasti sudah heboh."


"Jangan kau membahasnya lagi.!" Ucap Ran tegas.


"Baik Tuan."


"Iya Tuan?." Sautnya sopan.


"Kau punya kekasih?." Ran tiba tiba melontarkan kalimat yang sebenarnya sedikit tabu baginya.


"Punya Tuan."


Kenapa tiba tiba Tuan menanyakan hal ini.


"Apa kau sangat mencintainya?." Entah apa yang ada dipikirannya saat itu.


"Sangat Tuan, saya sangat mencintai nya, saya rela melakukan apa saja demi dia, asal dia tersenyum bahagia karena saya." Zeka menceritakan perasaannya dengan wajah merona.


Cih.


"Memang kau pernah melakukan apa saja?."


"Saya pernah membawanya ke tepi pantai, kami duduk bersama menikmati senja di sore hari, saya memainkan gitar dan menyanyikan lagu untuknya, dan saya melihat kekasih saya sangat bahagia saat itu." Ujar Zeka dengan wajah semu.


Mungkin sambil membayangkan mereka ulang adegannya kali yak? hahahaha.


Kenapa aku jadi geli sendiri. Ran


"Hanya itu?." Ucap Ran sambil mengangkat alisnya.


"Sebenarnya masih banyak lagi Tuan, apa saya ceritakan keseluruhannya?." Entah apa yang difikirkan Zeka saat itu didepan pimpinannya.

__ADS_1


"Cukup!." Saut Ran cepat sambil mengangkat telapak tangannya mengisyaratkan.


Itu saja cukup membuatku merinding.


"Yahhh, sebenarnya banyak yang lebih romantis daripada itu Tuan, namun terkadang meski hanya cara yang sederhana saja bisa membuat pasangan kita tersenyum bahkan tertawa lepas, itu sudah menjadi momen yang berharga."


Kita?, Loe aja kali, aku mah enggak, siapa juga yang mau melakukan itu, kurang kerjaan saja.


Tapi nanya.... wkwkwkwk Ran Ran...


"Lantas apa yang membuatmu untuk memutuskan memiliki kekasih?." Jiwa kepo nya masih belom berhenti.


Zeka yang ditanya perihal hubungan memang ahlinya, ia antusias menjawab semua perkataan Ran.


"Saat itu kita satu kampus, waktu itu saya sudah semester 6, sedangkan dia masih semester 3 saya kenal dengannya disaat kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan kampus, lalu kita ber.." Terpotong.


"Stop!."


"Kenapa Tuan?." Zeka bingung sendiri.


"Kenapa kau malah menceritakan kisah awal mula pertemuanmu dengan kekasihmu itu?, aku hanya ingin tau kenapa kau bisa punya niatan untuk menjadikannya pacar dan menembaknya. Itu saja, kenapa malah curhat." Menujukkan Raut muka julid.


"Ah hehehe, maafkan saya Tuan." Cekikikan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya ingin menjadikannya pacar karena suka Tuan, saya merasa kagum padanya karena kemandiriannya, dia ramah tidak menye menye seperti wanita lainnya, saya tidak ingin jauh dari pandangannya, dan ketika dia pernah terluka karena jatuh dari motor hati saya ikut sakit Tuan, saya sangat khawatir ketika melihat wajahnya yang menahan sakit."


deg.


Kenapa aku jadi teringat Luna.


"Apakah hanya karna itu saja kau bisa menganggap bahwa kau benar benar cinta padanya?." Ran sedang mode serius.


"Cinta itu tidak bisa diprediksi dari awal Tuan, itu bisa datang dengan sendirinya kapan saja, tapi kita bisa merasakannya. Ketika kita tidak bisa jauh darinya, selalu memikirkannya,


dan selalu ingin tau apa yang dia lakukan. Dan kekuatan cinta itu hebat loh Tuan."


"Hebat apanya?." Tanya Ran remeh.


"Disaat kita berjauhan dengan orang yang kita cintai, hati kita seolah mengirimkan sinyal, sinyal yang menyambungkan ikatan dari hati kita dan hati orang yang kita cintai,


jadi ketika kita jauh dari pasangan kita, dengan adanya ikatan hati itu, kita bisa merasa selalu dekat dengannya bahkan bisa menemukannya."


Ran manggut manggut mendengar penjelasan Zeka, Ran seperti mendapat siraman rohani dari tim nya itu, sebelumnya, bahkan ia tak pernah tertarik dengan cerita percintaan, karena ia sendiri tak pernah merasakan jatuh cinta, dan anehnya selama ia mendengar Zeka bercerita entah kenapa sosok Luna selalu bergentayangan di otaknya. Ia membayangkan Luna yang sedang tersenyum bahagia karenanya.


"Tuan?, kenapa anda senyum senyum sendiri?." Zeka terheran heran melihat Tuannya yang selama mendengarkan ceritanya tadi, hanya dengan tatapan kosong dan sering timbul senyuman tipis di bibirnya.


"Haaa?. Ohh maaf." Ran sadar dari lamunannya dan terlihat plonga plongo.


Kenapa Tuan terlihat seperti orang yang sedang kasmaran?, apa mungkin?? Tapi siapa??. Gumam tim 2.


"Apa tuan sedang jatuh cinta dengan seseorang?." Tanya Zeka penasaran.


"Ah apa?! jatuh cinta?? Cih, mana mungkin." Seraya mengibaskan tangannya.


Jangan bohong Tuan, itu jelas dari mimik wajah anda.


"Ya sudah, kalian lanjutkan saja, aku mau tidur dulu." Ran berdiri dan berpamitan pada tim yang sudah memberinya cerita cintanya tadi.

__ADS_1


"Selamat malam Tuan." Ran hanya menganggukkan kepalanya.


Ran berjalan menuju mobil Van dan melihat Luna sudah tertidur pulas meraih mimpinya.


__ADS_2