
" nisa, makan dulu nduk, kamu pasti capek"
" enggeh bu"
" istirahat dulu nanti lanjut bersih bersih lagi"
" enggeh bu"
nisa pun duduk di bangku yang ada di pekarangan rumahnya tepat berada di bawah pohon mangga yang kini sedang berbuah lebat
" sari, mbak mau belanja ke pasar, kamu ikut gak??"
" ikut mbak"
" y wes ayo"
terlihat bulek sari yang kelar dari dalam rumah dengan membaw sebuah tas belanja
" nis, ibu tinggal dulu mau belanja, kamu istirahat saja, nanti lagi bersih bersih "
" iya bu,nisa gak capek kok, nanti nisa lanjutkan lagi "
" y sudah, ibu berangkat dulu sama bulek mu, assalamualaikum"
" waalaikumussalam "
ibuk sri dan bulek sari sudah berjalan menuju pasar yang memang bisa di tempuh dengan berjalan kaki, bukan pasar besar hanya pasar kecil yang memang setiap pagi akan selalu ramai orang berjual beli namun bila sudah sore pasar itu akan sepi
sudah 2 hari nisa kembali tinggal di desanya ini, tempat dimana ia dilahirkan, nisa memandang sekeliling rumah, rumah peninggalan almarhum sang ayah, rumah yang penuh dengan kenangan dengan sang ayah, rumah yang beberapa tahun lalu di ambil paksa oleh rentenir untuk melunasi hutang ibunya
namun sekarang rumah itu sudah kembali ke pemilik aslinya, dengan tabungan yang dikumpulkan dikota dari hasil jualan sang ibu dan hasil kerja buleknya bisa melunasi hutang pada rentenir, selain bisa membeli kembali rumah yang disita juga bisa membeli sawah yang tak seberapa besar namun cukup untuk bercocok tanam
beberapa tahun meninggalkan desa ini banyak yang berubah , jalan yang dulu masih tanah bila hujan akan becek dan sulit dilalui kini sudah berganti dengan aspal juga lahan lahan kosong yang ada di sekitar rumah kini sudah berganti dengan rumah rumah yang baru di bangun, mungkin desa ini banyak kedatangan orang baru
__ADS_1
nisa menutup matanya saat angin menerpa wajahnya, menikmati semilir angin yang semakin terasa sejuk saat ia duduk di bawah pohon mangga,karena berada di lingkungan yang asri yang dikelilingi pegunungan,membat udara di disini masih segar dan bersih, sangat berbeda saat nisa masih tinggal di jakarta
jakarta
mengingat nama itu membuat nisa sedih, dia merasakan rindu pada teman temanya, bagaimana kabar mereka? apa mereka tahu kalau aku sudah pindah dan tidak tinggal di jakarta lagi? apakah mereka akan marah padaku?
apakah mereka akan melupakanku? apakah kita akan bertemu lagi ?
banyak pertanyaan yang muncul di benak nisa, kehidupanya di jakarta memberi kenangan tersendiri di hidupnya, disana ia bisa bertemu teman teman yang tulus berteman denganya walau ia bukan anak orang kaya, di jakarta juga ia bertemu dengan orang yang bisa membuatnya jatuh cinta
reinan
nama yang sampai saat ini masih tersimpan rapat di hati nisa, lelaki pertama yang ia kenal dijakarta,lelaki tampan dengan sejuta pesonanya yang mampu membuat kaum hawa terpikat, lelaki yang bukan hanya wajahnya seperti malaikat namun juga hatinya yang baik,yang mampu membuat nisa menjatuhakn hatinya,namun ia sadar tak mungkin ia miliki karena begitu banyak perbedaan di antara mereka
" bahkan aku belum mengungkapkan perasaanku pada mas reinan "
" mungkin lebih baik seperti ini, biar saja rasa ini cukup aku dan Allah yang tahu " monolog nisa pada dirinya sendiri
*************
" APA?? PINDAH??"
ucap 4 orang itu bersamaan sehingga membuat beberapa pengunjung cafe melihat ke arah mereka
" biasa aja kali" ucap reno
kini reinan, reno, sania, riko, aldi, biam dan sekar tengah berada di cafe,setelah sebelumnya reinan mengubungi riko cs dan sekar untuk membahas tentang nisa
" tau dari mana lo rei?"
" kemaren gue kerumah nisa, rumahnya terlihat sepi dan kata tetangganya nisa dan keluarganya udah pindah balik kampung"
" kok nisa gak ngomong apa apa sih ke kita??" tanya bima yang tidak mendapat jawaban karena semuanya juga tidak tahu alasan nisa pergi tanpa pamit
__ADS_1
" apa dia udah gak anggap kita temen??"
" nisa gak mungkin kaya gitu" ucap sekar
" terus kenapa??"
" dia pasti punya alasan "
" apapun alasnya harusnya dia bilang ke kita" ucap bima dengan emosinya
" terus sekarang gimana??" tanya riko yang sedari diam, dia juga terkejut nisa sudah pindah
" gue gak tahu"
" udahlah biarin aja ngapain kita peduliin nisa, dia aja gak anggap kita temenya " ucap bima
semenatar yang lainya hanya diam
" lo yakin gak mau peduli soal nisa?? " ucap aldi
" iya, biarin aja dia, mau balik kampung, mau kemana juga bukan urusan kita"
mereka diam dengan fikiran masing masing, mereka membiarkan bima mengelurkan semua keluh nya, mereka tahu bima hanya kecewa dengan keputusan nisa yang peri tanpa pamit, mereka tahu bima sebenarnya peduli dan sayang pada nisa, terbukti walau dia berkata tidak peduli namun dimatanya tersirah ke khawatiran walau tatapan kecewa mendominasi
gimana gue bisa lupain nisa kalau separuh hati gue di bawa pergi batin reinan
# hay...author up lagi
kemaren gak up karena uthor kecapekan dan ketiduran hehehe
gimana menurut kalian part ini??
selamat membaca
__ADS_1