
"Mau kemana kau?" Tegus Abi pada Fia.
"Maaf tuan, saya mau kembali ke kamar." Ucap Fia menunduk, ia tahu jika posisinya tidak akan pernah berubah.
"Hem, ingat. Bersikaplah selayaknya sepasang suami istri hadapan kedua orangtuaku, selebihnya kau sama seperti yang lainnya."
"Saya paham tuan, permisi."
"Tunggu, ambil ini. Gunakan jika perlu, jangan sampai papa dan mama tahu, jika aku tidak memberi nafkah padamu." Abi menyerahkan sebuah kartu debit biasa pada Fia, dimana pin nya tertulis pada kartu tersebut.
Fia berdiri dan terdiam, ia tidak ingin menerima kartu tersebut. Hanya saja, diterima atau tidaknya akan tetap sama saja. Menerima kartu tersebut dalam keadaan yang terpaksa, rasanya ia begitu berat. Abi meninggalkan Fia begitu saja tanpa ada ucapan sedikitpun, pada normalnya orang yang baru saja menikah akan berjalan beriringan menuju kamarnya. Tapi ini tidak, mereka berpisah menuju kamar yang sebelumnya sudah ditempati sendiri.
Kehidupan pasangan baru itu tidak berubah sedikitpun, tetap seperti biasanya. Hanya saja, Fia lebih memperhatikan setiap jengkal kebutuhan dari suaminya. Mulai dari Abi membuka mata hingga ia pulang dan tertidur lagi, Fia sendiri yang memastikan hal tersebut.
"Selamat siang mbak, seperti biasa. Ini ada untuk mbak, diterima ya." Fia menyerahkan sebuah kotak makanan kecil kepada Tyas dan ditambah dengan senyuman.
"Wah, apa ini Fi? Hem, dari aromanya saja sudah membuat perutku lapar." Tyas yang begitu senang mendapat hadiah makanan dari Fia.
__ADS_1
"Mbak bisa saja, saya masuk ya mbak." Fia permisi untuk menghantarkan bekal untuk Abi.
Mempersilahkan Fia untuk segera masuk ke dalam ruangan Abi, lalu ia segera menikmati makanan tersebut. Sebelumnya Fia mengetuk terlebih dahulu ruangan tersebut, membuka pintu perlahan yang disambut oleh Ronal beserta Abi yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Silahkan, makanannya sudah siap." Fia mempersilahkan dua pria itu untuk segera makan siang.
Menghentikan sejenak dari pekerjaan yang mereka hadapi, Abi dan Ronal langsung bersiap untuk menyantap makanannya. Akan tetapi, Ronal menatap Abi dengan sebuah tanda. Ia merasa tidak enak dengan posisi Fia yang berdiri dan tidak ikut bergabung bersama mereka.
"Anggap saja tidak ada orang, cepat habiskan. Pekerjaan kita masih banyak, jangan coba-coba kabur dari ruangan ini." Abi menikmati makanan miliknya tanpa memperdulikan Fia.
Mendapatkan ultimatum seperti itu dari tuannya, Ronal segera saja menghabiskan makanannya dan segera kembali mengerjakan tugasnya. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Abi.
Meninggalkan Abi yang masih menikmati makanannya, Ronal menyambar beberapa berkas dan keluar dari ruangan tersebut. Tidak perduli dengan ancaman yang diberikan oleh Abi padanya, ia tidak ingin mengganggu pasangan tersebut.
"Duduklah, tidak ada orang lain lagi disini. "
"Biar saya disini saja tuan." Tolak Fia yang merasa aneh.
__ADS_1
"Duduk atau orangtuamu akan kubuat sengsara." Ancaman Abi membuat Fia lemah.
Merasa tersudutkan dengam ancaman tersebut, membuat Fia tidak bisa mengambil cara lain lagi selain menuruti apa yang Abi katakan. Tiba-tiba saja Abi memberikan suapan dari sendok yang ia gunakan untuk Fia, kedua mata itu menatap Abi.
"Apa kau tidak mau memakannya? Baguslah kalau begitu, memang tidak pantas seorang pelayan untuk mendapatkan hal spesial seperti ini." Abi menarik tangannya dan meneruskan makannya.
Setelah itu Abi meninggalkan Fia begitu saja untuk kembali pada pekerjaannya, ingin rasanya Fia berteriak dna lari dari tempat tersebut. Mengingat kembali semuanya, membuat dadanya terasa sesak. Menangis pun terasa tidak pantas lagi bagi dirinya, karena air mata itu begitu berharga untuk menanggisi kisah hidupnya.
Merapikan semuanya dan bersiap untuk pulang, Fia berpamitan pun hanya mendapatkan gerakan tangan dari Abi agar ia segera pergi. Fia meninggalkan gedung besar itu dengan perasaan yang sudah tak berbentuk, mengingatkan kondisi dari keluarganya dan terutama sangat ayah. Membuat air mata itu akhirnya mengalir.
.
.
.
Kepulangan Fia membuat Abi menghelas nafasnya, tangan itu berhenti bergerak.
__ADS_1
...Apa yang sudah ku perbuat padanya, apa ini sudah keterlaluan? Bahkan ia tidak sedikitpun membela dirinya sendiri, benar-benar wanita bo**h. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupannya....