Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Mencari kepastian.


__ADS_3

Pulang dalam keadaan hati yang teringat hancur, membuat Fia hanya bisa menjadi pribadi yang sangat pendiam. Tidak banyak mengeluarkan suara, menjalankan kewajibannya seperti biasanya sebagai seorang muslimah dan juga seorang istri. Menunggu kepulangam suaminya dan berharap mendapatkan penjelasa tentang apa yang ia saksikan hari ini.


Hingga pukul menunjukkan jam sebelas malam, sosok seorang Abi tidak kunjung pulang. Membuat hati Fia semakin tidak berbentuk, menanggis pun tidak akan membantu membuat dirinya tenang. Mengalihkan semua beban pikirannya dengan membasuh anggota tubuhnya dengan air, menunaikan sholat sunnah dua rakaatnya. Duduk termenung menatap kosong kain sejadah yang ia kenakan, terasa sesak didalam dada yang ia dekap dengan erat.


Ingin rasanya ia mengadukan semua beban yang ia rasakan saat ini kepada Rabb-Nya, akan tetapi ia merasa malu jika harus mengadukan semua aib dari seseorang yang seharusnya ia jaga. Tanpa Fia sadari, janin yang berada didalam kandungan ikut merasakan apa yang dialami oleh ibunya. Janin itu bergerak dengan begitu aktif, seakan ingin mengatakan jika ibunya tidak sendirian.


"Maafkan Bunda ya nak, karena terlalu mementingkan diri sendiri. Bunda sampai melupakanmu, lebih baik kita beristirahat saja ya nak. Semoga saja Ayah dalam keadaan baik-baik saja, Bunda harap dimana pun Ayah berada. Semoga selalu dalam lindungan-Nya."


Tangan Fia mengusap-usap permukaan perutnya yang sudah semakin membesar dengan perlahan, membereskan peralatan yang ia gunakan dan segera mengistirahatkan tubuhnya dengan baik.


.


.


.


Mendapati dirinya yang terlalu lelah, ketika kedua mata terbuka. Fia segera menunaikan kewajibannya yang sudah hampir habis waktunya, dalam keadaan yang rapuh. Menatap ruangan itu begitu senyap dan tidak ada orang lain selain dirinya, dimana ia berharap kehadiran suaminya sebagai obat dari kerapuhannya saat ini.

__ADS_1


Dari dalam kamar, terdengar suara keributan yang cukup keras. Fia segera menrapikan semuanya dan keluar menuju lantai bawah, dengan perlahan ia menuruni anak tangga untuk sampai ke lantai dimana terjadinya kegaduhan itu.


Disana terdapat kedua mertuanya beserta adik iparnya, Yasmin. Mereka sedang terlibat cekcok mulut dengan Abi, namun sudut mata Fia mendapati seseorang yang begitu asing berdiri disamping suaminya itu. Soraya, wanita itu kini telah menginjakkan kakinya memasuki mansion tersebut.


Dari kegaduhan itu dapat disimpulkan, jika Abi membawa Soraya untuk ikut tinggal di dalam mansion miliknya. Hal itu mendapat pertentangan dari kedua mertuanya dan adik dari suaminya, akan tetapi yang membuat Fia tidak habis pikir adalah. Abi sangat membela dan mempertaruhkan seluruh jiwa dan rasanya untuk Soraya, tanpa memikirkan statusnya saat ini.


"Ingat Abi, sampai kapanpun mama tidak pernah setuju kamu kembali bersama wanita ini. Jangan lupa nak, statusmu itu sudah berubah dan sebentar lagi buah cintan kalian akan lahir. Pikirkan itu semua Abi." Mia begitu emosinya saat berhadapan dengan putranya.


"Tapi ma, sebenarnya Soraya itu tidak seperti apa yang kita tuduhan selama ini. Dia pergi karena tidak mau melibatkan kita dalam akal licik dari Nick, bahkan Soraya merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan kebencian dari semua orang. Tolong mama maafkan dan biarkan Abi kembali bersamanya."


"Lagian, pernikahan ini terjadi hanya karena kesalahpahaman dan bukan karena kami saling mencintai. Untuk anak yang akan lahir nantinya, Abi akan sepenuhnya bertanggung jawab atas semua kehidupannya ma."


Semuanya terdiam, tangan yang menimbulkan suara itu bergetar dengan sangat hebat. Kedua bola mata ikut memerah, kemarahan itu nampak sekali pada raut wajah pada pria paruh baya itu.


"Mulai detik ini, kau bukan lagi pemimpin perusahaan. Silahkan nikmati semua perbuatan yang sudah kalian lakukan, dan ingat. Hanya milikmu yang bisa digunakan, selebihnya akan papa tarik. Berbuatlah sesuka hati kalian berdua." Surendra mengepalkn kedua telapak tangannya dengan sangat kuat.


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Surendra, membuat Abi kaget begitu pula dengan Soraya. Tapi tidak pada Mia dan juga Yasmin, mereka benar-benar sangat kecewa dengan kelakuan serta sikap Abi saat ini.

__ADS_1


"Dan satu lagi, Fia kan kami bawa dari sini. Jangan pernah menemui ataupun menghubunginya, sebelum kamu menyadari semua kesalahan dan memperbaiki semuanya." Tegas Surendra.


"Pa." Abi mencoba untuk membela diri.


Ketika emosi itu sudah menguasai diri seseorang, maka sangat ditakutkan akan terjadi sesuatu hal yang tidak, di inginkan. Tangan itu sudah melayang di udara, siap terlepas untuk mendarat pada wajah sang putra.


"Pa, jangan!"


Mempercepat langkah kakinya dan menahan perutnya yang sedikit mengalami keram dengan tangannya, Fia menghampiri Surendra. Abi nampak kaget mengetahui jika Fia berada disana, namun pergerakan tubuhnya terhenti saat lengan kokohnya telah ada tangan yang melingkar disana.


"Nak, kamu?" Mia mendekati Fia.


"Tidak apa-apa ma, doakan saja Fia sehat selalu."Senyum Fia disaat luka hatinya semakin membesar.


"Pa, ma. Fia mohon, jangan sampai kita semua dikuasai oleh emosi yang ada. Fia tahu kita semuanya kecewa, tapi jangan sampai hal itu membuatnya semakin rumit."


"Dengar itu Abi, apapun yang sudah kamu lakukan seluruhnya selama ini pada Fia. Tidak pernah sedikitpun ia mau membuat kamu semakin jelek dimata kami semuanya, dengar itu wahai wanita!" Surendra meninggikan suaranya dan menekannyan sedikit ucapannya pada Soraya, dengan menggunakan 'wanita' sebagai kata pengganti.

__ADS_1


"Ma, pa. Bolehkah Fia berbicara berdua dengan mas Abi?"


__ADS_2