
"Apa semuanya sudah siap?" Abi menanyakan kesiapan Ronal dan juga para orang-orang yang mereka bawa, untuk mengepung sebuah bangunan yang mereka ketahui sebagai tempat persembunyian White.
"Semuanya sudah siap, menunggu perintahmu." Ujar Ronal yang sudah mengantongi beberapa senjata pada tubuhnya.
Begitu pula dengan Abi, ia membekali dirinya dengan beberapa senjata yang tidak terlalu tampak. Menambah keyakinan jika Fia berada dirumah tersebut, Abi menempatkan beberapa orangnya untuk menyelinap masuk ke dalam bangunan tersebut. Dan benar adanya, Fia berada disana.
Melihat gambar yang dikirim oleh orangnya, membuat Abi semakin ingin mempercepat pergerakannya. Namun semuanya ditahan oleh Surendra, ia tidak ingin jika Abi bertindak ceroboh. Dengan sedikit pengarahan darinya, Abi dan Ronal mulai menyusun fokus penyerangan.
.
.
.
"Nona, silahkan dinikmati." Seorang pelayan wanita menghidangkan makanan kepada Fia.
"Terima kasih, bolehkan aku meminta tolong sesuatu padamu?" Fia tersenyum dengan harapan pelayan tersebut bisa membantunya.
Dari kejauhan, White sedang memandangi Fia yang tengah tersenyum. Begitu lepas dan membuat dirinya merasa semakin menyukai wanita itu, tidak salah ia memilih Fia sebagai wanitanya.
Setelah berbicara pada pelayan tersebut, Fia mendapatkan bantuan darinya. Fia merasakan jika ia telah terlambat datang bulan, hal itu ia sadari pada saat White membawanya kabur. Dan benar saja, pelayan tersebut membantunya saat mendapatkan jadwal untuk pergi berbelanja.
Benda kecil itu menunjukkan dua garis merah, menandakan jika ia sedang dalam keadaan hamil. Air mata kebahagian itu menyelimuti dirinya, akan tetapi ia merasa bingung untuk menyampaikan pada suaminya kelak. Apakah ia akan mempercayai jika kandungannya adalah hasil buah cinta mereka atau tidak? Benda tersebut langsung Fia musnahkan, membuangnya pada saluran toilet.
...Selamat datang sayang, maafkan bunda sudah membawamu dalam situasi seperti ini. Bunda janji, akan menjagamu dengan nyawa bunda nak. Semoga ayah mendapatkan pesan yang sudah bunda titipkan....
Dor.
Dor.
__ADS_1
Dor.
Suara tembakan terdengar begitu jelas dan membuat Fia menjadi kaget, lalu ia melihat dari balik jendela kamar yang ia tempati. Banyak sekali orang berbaju hitam terlibat aksi serang menyerang dengan orang-orang White, Fia menyadari jika itu adalah pertolongan dari Abi.
Dari ruang kerjanya, White mendapatkan laporan jika mereka diserang dan dikepung oleh orang tidak dikenal. Dengan luapan emosi yang begitu besar, ia segera memerintahkan pada orangnya untuk langsung mengeksekusi semua orang yang menyerang mereka.
Berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Fia, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada wanitanya. Membuka pintu dengan paksa, White segera menarik Fia untuk bersamanya.
"Ada apa?" Tanya Fia yang juga panik.
"Ikuti saja dan jangan coba-coba kabur, aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu Fi." Suara bernada tinggi itu begitu menyeramkan.
Begitu kasar White menarik Fia, hampir saja ia jatuh karena ketinggalan langkah. Akan tetapi, belum, sempat White membawa Fia ke dalam ruangan yang ia anggap aman. Mereka telah dihadang oleh orang-orang yang berhasil menyusup, dengan bergetar Fia disembunyikan White dibelakang tubuhnya.
"Siapa kalian?" White mengeluarkan senjata yang berada di dalam saku jas ia kenakan.
"Argh!" Lengan White terkena sabetan senjata dari lainnya, membuatnya mengerang kesakitan.
Karena lengah, kini Fia berada dalam kuasa lawannya. Dengan begitu, membuat White semakin murka. Disaat ia akan merebut kembali Fia, saat itu juga Abi dan Ronal muncul dari balik tubuh orang-orang yang telah menyerang White.
Melihat hal tersebut, membuat akal sehat White tersisihkan. Dengan tatapan tajam, ia menggunakan senjatanya yang ia genggam. Gerakan tersebut diketahui, sehingga membuat White terkena serangan kembali.
"Sayang!" Abi meraih tubuh Fia yang hampir saja terjatuh saat bersenggolan dengan orang-orang yang Abi kerahkan.
"Mas Abi!" Fia menatap wajah pria yang sangat ia rindukan.
"Bawa Fia keluar, sebelum pria itu tidak terkendali." Ronal menepuk pundak Abi.
Mengerti akan situasi yang ada, Abi menggendong Fia agar lebih cepat untuk pergi dari tempat tersebut. Benar apa yang Ronal katakan, White berhasil melewati mereka semuanya dengan menggunakan senjata yang ada dan berhasil melumpuhkan Ronal serta yang lainnya. Kini, ia menyeringai dari balik tubuh Abi yang sedang menggendong Fia.
__ADS_1
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada siapa pun juga yang bisa hidup bersamanya!!" Teriak White menyadarkan Abi.
Bugh!
Tubuh Abi terpental bersama Fia dan membentur berbagai tumpukan kayu disana, benturan keras mengenai tubuh Fia bagian depan saat terjatuh.
"Sayang, kamu tidak apa-apakan?" Abi meneliti tubuh Fia.
"Tidak mas, aku tidak apa-apa. Awas mas!" Teriak Fia saat mendapati White yang akan memukul Abi dengan sebuah kayu besar.
"Argh!" Tubuh Abi terkena pukulan kayu tersebut.
"Mas."
Tidak berhenti sampai disana White terus mengayunkan kayu tersebut kepada Abi, tanpa memberikan kesempatan sedikitpun untuk menghindar.
Melihat Abi yang sudah terluka, tangisan Fia pun pecah. Ia merasa bersalah sudah membuat suaminya terluka seperti itu, tanpa berpikir panjang. Fia melaju dan memeluk tubuh Abi, pukulan pun tak terhindarkan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Tidak!! Fia!!" Teriakan Abi menyadarkan White.
Ia berhenti menganyunkan kayu tersebut, seketika tubuhnya menegang dan terhempaskan. Saat kedua matanya melihat tubuh yang sudah ia berikan pukulan.
"Fi Fia." Ucap White dengan lirih.
__ADS_1