
Eh, ayah mau ngapain? Kok berlutut didepan bunda?"
Surendra dan yang lainnya menepuk jidatnya, saat mendapati anak kecil itu lepas dari pengawasan mereka. Hal itu membuat rencana yang disusun agar menjadi romantis, akhirnya gagal.
Baik Abi maupun Fia tersipu malu, mereka akhirnya membawa Abian untuk duduk bersama mereka berdua.
"Abian mau tidak jika kita tinggal bersama dan merencakan adik untuk Bian?" Ujar Abi tanpa menyaring ucapannya lagi.
Hal itu seketika mendapat tatapan tajam dari Fia dan juga ya g lainnya, Abi langsung membungkam mulutnya dengan tatapan seperti itu.
"Bukan seperti itu nak, maksud ayah. Kita akan hidup bersama dan ikut ayah dimanapun nantinya. Apa Bian mau?" Terang Fia kepada putranya.
"Benar Bian, nanti aunty akan kasih kado dan mainan yang banyak."
"Oma dan opa juga."
Ucapan provokasi kepada anak kecil, membuat Abi dan Fia menghela nafas panjang. Namun siapa disangka, ucapan tersebut berhasil membuat Abian menganggukkan kepalanya.
"Bian mau, mau dan mau!" Ucapanya dengan lantang.
Semuanya tersenyum bahagia, hanya menunggu jawaban Fia sebagai penentuan dari semuanya.
"Maaf mas, dan semuanya. Jika aku menerima kembali pernikahan ini, apa boleh Ahmad dan nek Ida ikut bersama kita?" Dengan ragu-ragu Fia mengatakan hal tersebut, ia takut jika anggota keluarga yang lainnya tidak bisa menerima kehadiran keduanya.
"Benar bunda, kak Ahmad sama nenek harus ikut. Bian nggak ikut kalau kak Ahmad sama nenek nggak di ajak." Bian mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Tidak ada suara apapun setelah Fia mengutarakan keinginannya, dimana Fia merasa hidupnya akan hampa dan betapa pentingnya kehadiran Ahmad dan nek Ida disisinya.
"Semuanya akan ikut dan tidak ada yang terpisahkan lagi, kita semua akan tetap bersama." Surendra mengeluarkan suaranya ketika harus memutuskan sesuatu yang akan menjadi bagian dari keluarga besarnya.
"Kamu dengar sendiri kak, semuanya akan ikut. Bagaimana?" Abi menatap Fia dengan cukup lembut.
Mata Fia melihat pemandangan yang belum pernah ia saksikan, semua orang yang ia cintai kini hadir dan bersama. Hanya saja, ia belum memberikan keputusan atas ucapan Abi padanya.
Ingin rasanya Fia egois dengan apa yang ia rasakan, rasa sakit yang terlalu dalam belum sepenuhnya hilang dari dalam ingatannya. Tidak hanya fisik yang sakit, namun juga raga yang semakin lelah menghadapinya.
"Sayang, bagaimana?" Abi mengulang kembali ucapannya.
Menghapus air mata yang sudah mengalir dari pelupuk mata, menatap orang-orang yang ia cintai tersenyum. Senyum itu akan hilang jika ia menjawab dengan apa yang ia rasakan, menyampingkan keegoisan yang ada.
"Benarkah sayang? Ah, terima kasih. Terima kasih sayang." Abi memeluk Fia dengan erat.
Mengungkapkan rasa bahagianya yang kini semakin besar, menemukan kembali belahan jiwanya yang sempat hilang. Menyatukan keping-keping kenangan bahagia mereka yang berantakan, kini Abi sudah yakin untuk siapa yang berhak menjadi belahan jiwanya.
Sruth!!
"Jangan main peluk-peluk sembarangan ya, kamu harus mengikrarkan kembali akad kalian. Makanya, jangan terlalu kelepasan." Mia menarik Abi dari sisi Fia.
"Hahaha, rasain. Emang enak." Ketus Yasmin yang mendapati wajah sang kakak seketika menjadi polos.
"Mama." Keluh Abi.
__ADS_1
"Sstth, sudah tua tidak boleh ngambek. Malu sama anak." Goda Surendra yang berhasil membuat semua orang tertawa melihat kekonyolan abi.
Gelak tawa terdengar sangat keras, Abi merasa malu dihadapan Fia. Ia baru ingat jika ada buah hati mereka yang kini sudah mulai mengerti akan apa disaksikannya, Abi beralih memeluk Abian untuk menutupi rasa malunya.
"Biarkan semuanya papa dan mama yang mengaturnya, kalian Persiapkan saja diri kalian. Dan harus di ingat, kalian dilarang bertemu sampai waktu hari dimana akad akan diucapkan kembali."
"Hah? Kenapa seperti itu pa, kita kan bukan bercerai." Protes Abi.
Tak!
"Auw, sakit pa." Sentilan mengenai kening Abi dari Surendra.
"Kalian sudah lama berpisah, Abi. Hukumnya kalian harus mengulang pengucapan akad, agar bisa berhubungan kembali. Dasar bucin, maunya langsung saja."
"Auw! Mama." Kini bergantian Surendra yang berteriak.
"Bapak sama anak, sama saja. Mulutnya nggak bisa di filter, Ahmad dan Abian kalian racuni dengan kata-kata yang belum pantas mereka dengar." Mia menatap tajam kedua pria itu.
"Hahaha."
"Hahaha."
"Kenapa semuanya hari ini lucu sekali ya aunty, Bian sakit perut nih." Kepolosan anak kecil itu memecah suasana yang canggung.
Abi menatap Fia, kini wanita yang Sudah mencuri jiwanya akan bersatu kembali dengan dirinya.
__ADS_1