Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Kepanikan.


__ADS_3

"Ma, ada kabar dari Abi? Surendra yang sedang menikmati secangkir kopi hangat bersama sang istri.


"Belum ada pa, mama telfon Fia juga tidak diangkat. Gimana habis makan siang nanti kita kerumah mereka?" Mia sudah sangat merindukan menantunya itu, apalagi dengan kehamilannya yang sudah membesar.


"Usul yang bagus ma, Yasmin beritahu saja. Biar nanti dia langsung menyusul. Ah, papa sudah tidak sabar menunggu mereka lahir."


"Mama juga pa, rumah ini akan ramai dengam tawa dna tangisan si kembar."


.


.


.


Merasa rasa keram pada perutnya tidak kunjung hilang, hal itu membuat Fia menjadi tidak tenang. Apalagi pergerakan dari janinnya tidak seaktif sebelumnya, ketika pintu kamar itu terbuka.


"A abah!"


Terlihat tubuh pria itu terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur, tidak ada pergerakan sama sekali dan kedua matanya tertutup begitu rapat. Begitu sesak yang Fia rasakan, air mata itu lolos begitu saja. Jika tidak ada Abi yang menopang tubuhnya, Fia sudah terhempas ke lantai.


"Ma mas, a abah mas." Dalam suaranya yang lirih, Fia mencoba menyakinkan atas apa yang ia lihat pada Abi.

__ADS_1


"Tenang sayang, kita pastikan dulu. Jangan menanggis." Abi memeluk Fia untuk menenangkannya.


Sebelum Fia mendekati abahnya, Abi terlebih dahulu memastikan keadaan dari ayah mertuanya. Beberapa saat kemudian, Abi memanah Fia untuk mendekat.


"Tenang sayang, abah sedang tidur. Kita akan membawanya kerumah sakit, jangan menanggis lagi." Abi begitu sakit saat mendapati Fia menanggis.


"Ta tapi, abah tidak apa-apakan mas?"


"Hem, mas hubungi Ronal dulu. Sebentar ya."


Menghubungi asistennya tersebut dan segera mempersiapkan apa yang ia perintahkan, sementara itu Fia menatap sendu pria yang berada dihadapannya kini. Ada rasa penyesalan didalam dirinya, meninggalkan abahnya sendirian dengan keadaan seperti ini. Ia tidak habis pikir dengan ibu sambung dan saudara tirinya, padahal uang sudah ia berikan untuk pengobatan abahnya.


"Argh!" Fia berteriak saat tangannya tubuhnya tertarik sangat keras.


"Fia! Apa yang terjadi, kamu tidak apa-apakan?" Abi segera menghampiri Fia dan membantunya untuk duduk.


"Sstthh, ti tidak apa-apa mas."


"Kalian berdua itu tidak pamer deh, kita perlu biaya untuk pengobatan abah. Cepet serahin." Ketus Leah dengan wajahnya yang tidak suka.


"Iya benar, cepet serahin dan pergi dari sini. Kehadiran kalian itu tidak akan membuat keadaannya membaik, justru malah akan semakin parah jika kalian tidak mau membantu kami." Mona ikut mengeluarkan taringnya.

__ADS_1


Kepalan tangan milik Abi sudah begitu erat, terlihat dari guratan wajahnya juga tampak memerah. Dengan keadaan seperti itu, Fia menggenggam tangan Abi dan mengusapnya perlahan. Mereka pun saling bertatapan, yang kemudian Fia menggelengkan kepalanya agar Abi tidak mudah terpancing emosinya.


Menarik nafasnya dengan cepat, Abi berusaha menetralkan emosinya kala itu. Namun kedua wanita itu terus menekan mereka dengan kata-kata yang membuat Abi semakin murka, emosi itu tidak bisa ia kendalikan lagi.


"Diam! Tutup mulut kalian atau aku akan memasukkan kalian berdua ke dalam penjara!" Suara Abi begitu tinggi, sehingga membuat semuanya terdiam.


"Jangan kira aku tidak mengetahui semua kelebihan yang kalian berdua lakukan! Bahkan aku bisa membuat kalian membusuk di dalam penjara selamanya." Tegas Abi.


Mendapati ancaman dari Abi, tidak membuat Mona maupun Leah menyerah. Awalnya mereka juga kaget dan takut akan ucapan Abi, namun jiwa dan pikirannya sudah dipenuhi dengan rencana-rencana yang bisa membuat Fia menderita.


Disaat Abi lengah dengan kedatangan Ronal disana, Mona dan Leah memanfaatkannya untuk segera menyerang Fia. Dalam posisi duduk yang tidak begitu kokoh, Mona dengan mudah mendorongnya hingga terjerembab membentur mera kecil yang sering digunakan untuk menaruh makanan untuk abahnya.


Bukh!


"Fia!"


"Nona!"


"Rasakan kau, berani-beraninya kau tidak mau menuruti perkataanku." Mona segera bergegas untuk melarikan diri.


Pendarahan di alami oleh Fia, aliran dari cairan berwarna merah itu mengalir dari kaki dan membasahi gamis yang ia kenakan. Hal itu membuat Abi begitu panik, Fia menahan rasa sakit yang kini menderanya.

__ADS_1


"Kau urus mertuaku, cepat!" Abi mengintruksi Ronal lalu mengendong Fia untuk segera ke rumah sakit.


__ADS_2