Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Firasat.


__ADS_3

"Mas, boleh tidak aku menemui abah?" Sudah berapa lama Fia tidak mendapatkan kabar mengenai abahnya.


"Jangan sekarang ya, nanti akan mas temani." Abi masih menatap berkas yang berada ditangannya kala itu.


"Baiklah." Fia mengistirahtkan tubuhnya untuk berlanjut ke dunia mimpi.


Sengaja semua pekerjaan yang sedang dihadapi oleh Abi saat ini, ia bawa pulang dan lebih nyaman untuk mengerjakannya dimansion. Dengan adanya laporan dari Ronal, jika Emilia sedang berbuat ulah di perusahaan. Mengatasnamakan jika dia adalah tunangan dari Abi, maka ia bersikap arogan dan semena-mena disana. Tidak ingin jika Fia mengetahuinya, maka Abi mengambil keputusan seperti ini.


Dret dret dret...


Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, ponsel milik Fia bergetar seperti ada panggilan yang masuk. Abi yang kala itu masih terjaga, mengambil alih ponsel milik istrinya. Bukan tidak pernah digunakan, Fia hampir tidak pernah menyentuh ponsel tersebut terkecuali saat Abi menghubunginya ataupun disaat Fia ingin menghubungi Abi.


"Ibu?" Abi melihat nama kontak dari sang penelfon.


Kening Abi nampak berkerut, ia tidak ingin menganggun tidurnya Fia, beranjak dari tempatnya untuk menerima panggilan telfon. Abi ingin tahu, ada apa sebenarnya.


"Hallo Fi, kamu cepat kerumah ya. Abah, abah..." Ucap mona dengan terbata-bata.


"Abah sekarat Fi."


Tut...


Panggilan itu dihentikan sepihak oleh Abi, bukannya tidak mau mendengarkan apa yang Mona sampaikan. Namun Abi sudha terlebih dahulu mengetahui kebenarannya, Ronal mengutus seseorang untuk selalu melaporkan aktivitas dari semua orang yang berada di rumah abahnya Fia.


"Dasar pen***lat! Apa tidak cukup dengan menguras semua isi deposit milik istriku, ini apalagi maunya." Abi sejenak menatap Fia yang terlelap.


Semenjak ia menjadi bucin pada istrinya, apa yang tidak diketahui oleh Abi mengenai Fia. Membiarkan ibu mertuanya itu larut dalam dunianya sendiri bersama putrinya, menguras semua uang yang ia berikan pada Fia melalui kartu debit miliknya. Namun, itu semua mereka pergunakan untuk urusan pribadinya dan mengabaikan abahnya.

__ADS_1


"Akh!" Terdengar suara ringisan dari Fia.


Segera menghampiri istrinya yang terlihat menahan perut bagian bawahnya, itu membuat Abi menjadi panik.


"Sayang! Ada apa?"


"Perutku tiba-tiba saja terasa keram mas." Fia bersandar pada sandaran tempat tidur dibantu oleh Abi.


"Minum dulu." Menyerahkan segelas air pada Fia, agar dapat memberikan ketenangan.


Perlahan Fia meneguk air dari gelas yang Abi berikan, menatap wajah suaminya yang terlihat begitu lelah.


"Mas belum tidur?" Tanya Fia yang sudah merasa baikan.


"Belum sayang, sudah mendingan?" Abi mengusap perut Fia yang sudah begitu besar dari kehamilan normal, karena didalamnya terdapat dua janin yang merupakan buah cintanya.


"Besok kita kerumah abah, berisitrahtlah."


"Benarkah mas?" Fia menarik dirinya dan mantap Abi dengan begitu penasaran.


"Hem, ayo istirahat. Mas sudah mengantuk, anak-anak ayah jangan rewel didalam sana ya. Lihat Bunda, ayah tidak tega melihatnya merasa kesakitan." Abi mengusap dan memberikan kecupan pada puncak perut Fia. Kedua bersama larut dalam rasa lelah dan terlelap.


.


.


.

__ADS_1


Menjelang subuh, Abi yang terlebih dahulu terbangun. Menatap wajah Fia yang masih terlelap, walaupun hanya sebentar ia tertidur namun ia sudah membuatnya merasa segar.


"Sayang, sudah subuh." Abi perlahan mengusap wajah Fia dan sedikit memberikannya morning kiss pada puncak kepala sang istri.


"Hem, iya mas. Sstth." Kembali Fia meringgis menahan perutnya.


"Keram lagi?" Tanya Abi yang mengusap perut Fia.


"Iya mas, mungkin karena aku terlalu kepikiran sama abah. Mereka jadi ikutan kepikiran. " Fia juga mengelus perutnya, berharap rasa sakit itu menghilang dengan cepat.


Tidak ingin membuat Abi menjadi khawatir dan tidak tenang, Fia menguatkan dirinya agar terlihat baik-baik saja. Mereka segera mengerjakan kewajibannya di waktu subuh, walaupun Abi dalam peralihan dari yang dulunya begitu enggan. Dan sekarang, perlahan semuanya itu bisa ia kerjakan dengan baik.


Bersiap untuk berkunjung ke rumah mertua, Abi nampak begitu khawatir dengan keadaan Fia. Ingin rasanya ia membatalkan kungjungan mereka, namun saat melihat wajah istrinya yang begitu ceria, Abi pun mengurungkannya. Setibanya mereka disana, sambutan yang cukup berlebihan jika menurut Abi.


"Fia! Akhirnya kamu datang nak. Eh, ada menantu juga. Ayo masuk." Mona menyambut keduanya.


Mata elang Abi menangkap jika istrinya seperti kesulitan dalam melangkah, karena Mona menarik tangan Fia begitu erat. Abi mengejarnya dan mengambil alih tangan Fia, menatap tajam pada Mona.


"Biar Fia bersama saya." Abi semakin merasa curiga dengan apa yang terjadi.


Mendapati tatapan seperti itu, membuat Mona berdengus kesal dan memilih meninggalkan mereka begitu saja. Hal tersebut membuat Fia merasa ada yang aneh, namun itu ia tepis.


"Jangam pikirkan, ayo masuk. Abah pasti sudah menunggu." Abi menyadarkan Fia dari lamunannya.


"Ah iya mas."


Dengan begitu hati-hatinya, Abi mendampingi Fia berjalan menuju kamar dimana Abahnya berada. Akan tetapi, perasaan Fia semakin tidak tenang.

__ADS_1


__ADS_2