Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Memantapkan Hati.


__ADS_3

Kehadiran Soraya di mansion milik Abi, membuat suasana menjadi berubah. Dimana Fia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, tanpa menunggu respon apapun tanggapan dari suaminya. Fia segera menjauh saat tugasnya telah selesai, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kedua sahabatnya di area belakang mansion.


"Pelayan!"


Teriakan yang cukup membuat seisi mansion menjadi geram, Soraya selalu saja bertindak sesuka hatinya. Mendapatkan lampu hijau dari Abi, membuat dirinya merasa seakan menjadi nyonya disana.


"Hei kalian, apa telinga kalian tuli, hah! Buatkan saya minuman dingin, cepat."


Sedang membersihkan ruangan keluarga, Ani saat itu sengaja tidak memperdulikan teriakan Soraya. Ia terus mengerjakan pekerjaannya, akan tetapi wanita itu menghadangnya dan merampas peralatan yang ia gunakan untuk membersihkan ruangan tersebut.


"Nyonya Soraya, saya ini hanya bekerja membersihkan mansion. Untuk membuatkan minum dan hidangan yang lainnya itu bukan tugas saya." Jawab Ani dengan ketus dan mengambil kembali peralatan miliknya dari tangan Soraya.


"Hei, beraninya kamu ya sama saya."


"Ya beranilah, situ siapa? Permisi, pekerjaan saya masih banyak." Ani meninggalkan Soraya yang masih mengumpat dirinya.


Keseharian Fia tidaklah banyak, ia lebih suka menghabiskan waktu untuk bersama para sahabatnya. Mendengar Ani datang dengan berbagai celotehnya, membuat Devi dan Fia menjadi tertawa. Walaupun bagaimana rupanya, Ani adalah pencair suasana dikala sedang gusar.


"Dasar wanita bermulut cabe, seenaknya saja memerintah orang. Mana teriak-teriak, sakit telingaku mendengarnya." Celoteh Ani yang baru saja tiba di area belakang mansion.


"Kamu kenapa? Datang-datang tapi malah ngomel-ngomel tidak jelas." Devi menghampiri Ani yang memasang wajah cemberutnya.


"Itu tu, wanita mulut cabe. Orang lagi kerja, malah minta dibuatnya minuman. Ogah deh, kayak majikan saja."

__ADS_1


Mengerti akan apa yang Ani maksud, Devi hanya tersenyum menanggapinya. Bahkan Fia tidak sama sekali terpancing dengan apa yang baru saja diceritakan oleh Ani.


"Layani saja dia, sebatas kemampuan kalian berdua. Jika tidak sanggup, kalian bisa mengatakannya kepada pak Basman." Dengan menikmati kue yang telah dibuatkan oleh Devi, Fia hanya menanggapi seperlunya saja.


Kedua sahabatnya itu kaget mendengar ucapan dari Fia, bahkan mereka menjadi saling pandang satu sama lainnya. Seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Fia barusan, bagaimana bisa wanita itu bersikap tenang.


"Jangan bingung dan kaget, kita harus memuliakan tamu yang datang berkunjung dengan kemampuan yang kita punya. Pahalanya besar loh, mau kan?" Jawab Fia yang masih tersenyum begitu lepas.


Lagi-lagi mereka dibuat semakin kaget, Sampai-sampai Ani mengucek-ngucek kedua matanya. Mungkin saja ia salah melihat orang yang dihadapannya itu bukankah Fia, namun wajah itu menyakinkan jika itu adalah Fia.


Ingin berdamai dengan persoalan yang sedang ia hadapi, berupanya dan berusaha menjadi pribadi yang sabar dan juga ikhlas untuk menerima semua cobaan yang sang penciptanya berikan. Lagi pula, jika ia terus menerus memikirkan semuanya itu. Dikhawatirkan janinnya akan ikut stres atas apa yang ada, Fia hanya bisa menjaganya agar bisa lahir pada waktunya dan tidak terhalang oleh apapun lagi seperti saudara kembarnya dahulu.


"Fia, Fia!!"


"Ibu, Leah. Ada apa dengan kalian? Apa yang terjadi?"


"Fia, tolong ibu nak. Ibu sudah tidak punya apa-apa lagi, semuanya sudah habis nak." Mona yang berkata dengan penuh air mata.


"Benar Fi, semenjak abah meninggal. Hidup kami benar-benar hancur, semua ..."


"Tunggu, apa maksud kalian? Abah meninggal?"


Mendengar perkataan Mona mengenai abahnya, membuat Fia sangat kaget. Bahkan tubuhnya nyaris ambruk ke lantai jika tidak ditahan oleh Devi, kabar itu begitu membuatnya hancur.

__ADS_1


"Benar Fi..."


Mona dan Leah mulai menceritakan tentang apa yang terjadi mengenai abahnya, mereka juga meminta maaf kepada Fia atas apa yang telah mereka lakukan selama ini. Menyadari semua kesalahan dan kekhilafan atas apa yang telah dilakukan, namun hal itu sudah membuat goresan luka didalam hatinya.


"Siapa yang berani memasukkan mereka! Cepat bawa mereka keluar, jangan sampai semua virus-virusnya menebar penyakit disini. " Soraya kala itu sudah begitu marah mendapati keberadaan Mona dan Leah.


Mengira jika keduanya adalah para tunawisma yang memanfaatkan kekurangannya untuk meminta bantuan, dalam keadaan yang masih shock. Mona dan Leah memilih untuk pergi, mereka tidak ingin membuat Fia menjadi terluka lagi. Karena tujuan mereka hanyalah meminta maaf kepada Fia, tidak ada yang lain.


Dengan penuh kemenangan, Soraya pergi meninggalkan Fia dna yang lainnya. Setelah itu, Fia tersadar. Ia meminta Basman untuk menahan Mona dan Leah, yang saat itu sudah berada di pintu pagar.


"Bu, ini. Gunakanlah, jangan pernah merasa tidak enak. Bagaimana pun, kita adalah keluarga." Fia menyerahkan Gelang dan juga cincin yang ia gunakan.


"Tapi Fi, ini..." Tangam Mona bergetar saat Fia menyerahkan benda tersebut ke dalam genggaman tangannya.


"Leah, ibu. Jaga diri kalian baik-baik, maaf. Aku belum bisa menemani kalian, mulailah hidup dengan awal yang baru. Jadikan semuanya sebagai pembelajaran untuk kita semua." Senyum Fia dan mencium punggung tangan Mona serta memeluk Leah.


"Te terima kasih Fi, kami tidak akan melupakan ini semuanya. Suatu saat, kami akan membalas semua kebaikanmu Fi." Leah dengan berurusan air mata.


Melepas kepergian keluarga yang tidak bisa Fia tahan, karena posisi dirinya saat ini juga sedang tidak dalam keadaan yang baik. Tidak ingin kelakuan Abi dan Soraya diketahui oleh orang lain, dimana itu adalah aib sang suami.


Memasuki kamar milik mereka, Fia memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan.


...Semuanya sudah kamu tetapkan mas, terima kasih atas semua pelajaran hidup yang kamu berikan....

__ADS_1


__ADS_2