Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Melahirkan.


__ADS_3

"Bukaan delapan nyonya, atur nafasnya ya. Jangan mengejan sebelum mendapat instruksi dari saya." Jelas dokter wanita yang menangani proses persalinan Fia.


Dokter tersebut keluar dan menemui pihak keluarga dari pasiennya, disana nek Ida dan Ahmad menunggu dengan perasaan cemas.


"Dimana keluarga atau suami pasien?" Tanya dokter itu.


"Kami dok."Jawab nek Ida.


Yang dimana White baru saja kembali dari mengurus administrasi rumah sakit, ia segera ikut mendengarkan perkataan dokter.


"Pasien masih pembukaan delapan, masih dua bukaan lagi. Apakah ada pihak keluarga yang mau menemani?"


Nek Ida bingung, ia sebenarnya takut saat melihat ruangan dokter yang penuh dengan alat-alat kedokteran. Lalu ia melirik Ahmad, dan itu tidak mungkin terjadi. Tanpa disadari, mata itu memandang White yang juga menatap nek Ida dengan kening berkerut.


"Apakah anda bisa menemani Fia di dalam tuan? Saya takut." Pinta nek Ida.


"Sa saya nek?" Jawab kaget White yang tidak menyangka.


Anggukan kepala nek Ida sebagai jawabannya, disertai dengan wajah yang begitu berharap. Menghembuskan nafas beratnya, White sebenarnya juga takut jika Fia merasa tidak nyaman. Apalagi mereka tidak ada hubungan apa-apa, namun itu harus ia terima.


Mengikuti langkah dokter, White berusaha menenangkan detak jantungnya yang begitu cepat. Fia yang meringgis kesakitan, membuat dirinya segera menghampirinya.


"Kamu bisa Fia."


"Tu tuan. Sshh..." Secara tiba-tiba dan mungkin saja reflex, tangan Fia menggenggam tangan White seiring dengan rasa sakit yang ia rasakan.


"Sa sakit!" Ujar Fia dengan terus meremas tangan White.

__ADS_1


Tubuh White tegang, baru kali ini ia menemani wanita yang sedang mau melahirkan. Apalagi ini adalah wanita yang ia suka, perasaan campur aduk ia rasakan. Akan tetapi, melihat perjuangan Fia hingga saat ini, sungguh membuat ia menyadari bahwa menjadi wanita itu sungguh mulia.


"Oke nyonya, pembukaan telah lengkap. Ikuti aba-aba saya ya, tuan mohon kerjasamanya." Dokter tersebut sudah berada di ujung kedua kaki Fia.


Sebenarnya Fia merasa malu, karena ada pria yang bukan mahramnya. Apalagi saat ini situasi dan kondisinya berbeda, berdoa di dalam hati untuk keadaan itu.


"Bagus, terus nyonya. Stop, jangan mengejan jika tidak ada dorongan. Tarik nafas, atur lagi. Jika siap, langsung mengejan ya."


Dalam beberapa percobaan, belum berhasil. Hingga yang terakhir, Dokter memberikan sedikit jalur pembuka, karena diperkirakan berat badan bayi cukup besar. Instruksi mengejan diberikan, dan akhirnya.


"Oek oek.."


Suara tanggisan bayi mungil itu terdengar, dokter menunjukkan pada Fia bayinya. Air mata mengalir tidak terbendung, teringat akan suaminya. Bayi tersebut selanjutnya dibersihkan dan Fia mendapatkan perawatan lanjutkan pasca melahirkan.


"Tuan, bagaimana?" Tanya nek Ida saat mendapati White keluar dari ruang persalinan dan menghampirinya.


"Hah! Nenek, apakah wajahku aman?" White menatap nek Ida dengan tanda tanya.


"Iya tuan, wajah anda baik-baik saja."


"Syukurlah, di dalam sangat mengerikan nek." Ucap White dengan ekpresi wajah tegang.


"Maksud tuan?" Nek Ida menjadi heran dengan apa ya g di ucapkan oleh White padanya.


"Orang yang akan melahirkan, sangat mengerikan ya nek."


Mendengar hal itu, sontak saja membuat nek Ida tersenyum. Mengetahui arti dari apa yang dikatakan oleh White, dimana Fia adalah tersangka utama untuk keadaan White yang begitu kacau saat ini.

__ADS_1


Menunggu beberapa saat, akhirnya Fia telah dipindahkan pada kamar perawatan. Kamar tersebut, merupakan yang terbaik dimiliki oleh rumah sakit. White yang mengurus semuanya, tidak ingin membuat Fia merasa tidak nyaman dengan suasana ruangan yang kecil.


Nek Ida bersama Ahmad sedang menemani Fia di kamar, bayi mungil itu sedang mendapatkan makanan pertamanya. Berjenis laki-laki dengan bobot badan yang cukup besar, namun semuanya itu membuat Fia meneteskan air mata.


...Bagaimana bisa bunda tidak melupakan ayahmu nak, semua yang kamu miliki saat ini. Sama persis seperti kamu mas, maafkan aku....


Menatap dengan penuh kebahagian, karena putranya kini telah lahir ke dunia dengan selamat. Fia menatap kehadiran dari pria yang menjadi telah membantunya selama dalam masa persalinan, ada rasa bersalah dan tidak enak padanya.


"Bagaimana keadaanmu Fi?" Tanya White yang baru saja tiba.


"Alhamdulillah baik tuan, mmm. Terima kasih sebelumnya, tuan sudah membantu dan menemani saya." Fia meletakkan bayi munggilnya yang sedang tertidur ke dalam box bayi, agar lebih nyaman untuk bergerak.


"Loh, kok kamu sudah berjalan seperti ini? Bukannya belum boleh, nek tolong." White kaget melihat Fia yang turun dari tempat tidur.


White menggengam tangan Fia untuk membantunya kembali ke tempat tidur, nek ida pun merasa geli dengan sikap White. Pria itu begitu polosnya menghadapi situasi saat ini, benar-benar lucu.


"Kamu ini, apa tidak sakit saat berjalan? Kan kata dokter, kamu itu dijahit." Celoteh White seperti sedang memarahi istrinya sendiri.


"Mmm tidak apa-apa tuan, semuanya baik-baik saja. Maaf sudah membuat anda kacau karena saya."


"Jangan dipikirkan, yang lebih penting adalah keselamatan kalian." Tangan itu masih menggenggam tangan Fia.


Situasi saat itu benar-benar romantis, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira jika mereka berdua adalah sepasang suami istri. Tanpa diduga, ada tubuh kecil yang membatasi keduanya, Ahmad masuk di antara tubuh Fia dan White.


"Paman, kata nenek. Kalau pegang tangan bunda itu jangan terlalu lama, nanti tangan Paman akan gatal."


Mendapati hal itu, White dan Fia menyadari akan apa yang terjadi. genggaman tangan itu terlepas begitu saja. Dan kejadian itu membuat nek Ida menepuk keningnya akibat dari ulah Ahmad, anak itu mengatasnamakan neneknya agar bisa membuat Fia dan White menjauh.

__ADS_1


__ADS_2