Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Pengakuan.


__ADS_3

Kehidupan selalu akan berputar dan memberikan hal-hal yang bisa membuat seseorang menjadi bahagia ataupun sebaliknya.


"Basman, tolong ke ruang kerjaku." Abi yang sedang berada didalam ruang kerjanya bersama Ronal.


Mendapatkan panggilan dari tuannya melalui telfon khusus mansion, Basman segera menuju ruangan tersebut.


Tok tok tok.


"Masuk."


Pintu terbuka, menampakkan pria paruh baya itu berjalan memasuki ruangan tersebut yang dimana sudah ada dua pria berada disana lalu memberikan hormat kepada keduanya.


"Berikan laporanmu." Ucap Abi dengan tegas.


Tidak heran dengan hal tersebut, seperti biasa Abi akan meminta Basman untuk menyampaikan laporan mengenai mansion padanya. Bagi Basman, itu adalah hal yang biasa. Menyampaikan semua yang ia ketahui mengenai mansion kepada Abi, namun hal itu tidak membuat pria itu puas.


"Laporkan dengan lengkap, Basman." Tiba-tiba saja Abi meninggikan ucapannya.


"Tuan, semuanya sudah saya laporkan pada anda."


"Tidak! Kau belum melaporkan semuanya. Dimana wanita itu? Kenapa tidak ada laporan mengenai dirinya?!" Emosi Abi sudah tidak dapat tertahankan.


Mengetahui maksud dari apa yang Abi katakan, pada akhirnya Basman tidak bisa untuk menutupi itu semuanya. Walaupun sebenarnya ia telah berjanji pada Fia agar bisa merahasiakannya dari Abi, tapi kini semuanya itu telah sirna.


"Cepat katakan!"

__ADS_1


"Nona Fia sedang berada di dalam kamarnya tuan. Kondisi tubuhnya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bekerja." Jelas Basman.


Tanpa menunggu lama, Abi berjalan meninggalkan ruangannya dengan Ronal dan Basman yang masih berada disana. Langkah kaki yang besar itu langsung tiba di salah satu kamar yang memang Fia gunakan sejak ia menampakkan kaki dimansion tersebut.


Brakh!


Nafas itu masih nampak terputus-putus, karena Abi menggunakan tenaganya untuk berlari agar segera sampai. Dan betapa kagetnya saat ia menyaksikan pemandangan dihadapannya, tubuh wanita yang sudah ia perlakuan dengan kasar sedang terbaring lemah di atas tempat tidur kecil dan wajah yang sangat pucat. Kedua sahabatnya juga berada disana, entah apa yang sudah terjadi tanpa sepengetahuannya pada wanita itu.


"Tuan." Ucap Devi dan Ani bersamaan ketika melihat kehadiran Abi.


Keduanya bergerak untuk menjauh dari Fia, bermaksud memberikan ruang agar pasangan tersebut bisa merasa nyaman. Namun baru saja kedua wanita itu mau beranjak dari sisi kamar, Abi sudah berdecak pinggang kepada keduanya.


"Kenapa kalian merahasiakan keadaannya?! Apa kalian mau aku pecat, hah!"


"Ti tidak tuan, ma maafkan kami..."


Sungguh dalam ketakutan yang cukup besar, Devi dan Ani segera mempercepat langkahnya keluar dari kamar Fia. Abi menutup pintu dengan cukup keras, sehingga membuat Fia yang terlelap segera membuka kedua matanya.


"Tu tuan, apa yang anda lakukan disini?" Fia menatap sisinya, keberadaan kedua sahabatnya sudah tidak ada disana.


Fia segera beranjak dari tempat tidurnya, namun Abi berjalan menghampirinya sambil menggulung keduanlengan kemejanya sampai siku, menatap Fia yang sudah ketakutan. Menempelkan punggung tangannya pada kening Fia, Abi kemudian menghela nafasnya dengan berat.


"Ayo." Abi menggenggam tangan Fia dan menariknya untuk mengikuti dirinya.


"Eh, tu tunggu tuan."

__ADS_1


"Diamlah, sakit pun kau menjadi cerewet sekali."


"Tapi, anda mau membawa saya kemana?" Fia cukup bingung dengan sikap Abi yang tiba-tiba saja berubah.


"Kerumah sakit, kemana lagi? Sakitmu itu tidak akan sembuh kalau hanya berdiam diri di dalam kamar seperti ini, mulai detik ini kamu tidur bersamaku."


"Apa?"


"Hais, suaramu ini cukup keras juga. Diam dan menurutlah, bersikaplah seperti seorang istri yang penurut." Abi terus saja menarik tangan Fia.


"Tidak tuan, saya disini saja. Saya sudah cukup nyaman, tolong jangan paksa saya untuk bersama anda." Mencoba terus meronta agar terlepas dari tangan keker tersebut, namun ternyata tenaganya jauh berbeda.


Sengaja Fia mengatakan seperti itu, karena diantara mereka tidak ada kata cinta dan juga rasa saling suka. Pernikahan itu terjadi bukan karena keinginan mereka, hingga keduanya berada pada situasi saat ini.


Menarik tangan itu sehingga membuat tubuh Fia bertabrakan dengan dada bidang milik Abi, pria itu melingkarkan kedua tangannya meraih tubuh Fia. Menghirup aroma dari puncak kepala Fia, rasa kenyamanan yang ia dapatkan.


"Aku tidak tahu ini apa, namun saat ini. Aku sangat merasa nyaman dan selalu ingin bersamamu, bantu aku untuk melupakan rasa sakit untuk masa laluku. Bisakah kita memulainya dari awal lagi?" Ucapan Abi benar-benar terdengar begitu tulus.


Bingung dengan apa yang terjadi, Fia tidak habis pikir dengan perubahan sikap Abi padanya. Tidak ingin memotong diiringi sendiri, perlahan demi perlahan dirinya mulai menyukai pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Akan tetapi, semuanya terhalang oleh sebuah rasa dendam dan sakit yang begitu besar.


Pria dingin seperti Abi, mulai merasakan sebuah getaran pada hatinya kepada Fia. Semenjak kejadian dimana ia memaksa Fia untuk memenuhi haknya sebagai seorang suami dan isteri, maka saat itu juga Abi merasa sangat bersalah dan mulai merasakan getaran yang berbeda.


"Ajarkan aku untuk menjadi suami dan juga pria yang tidak memiliki tingkat keegoisan tertinggi, bantu aku Fi, bantu aku."


Betapa kagetnya Fia mendapati Abi mengatakan hal seperti itu kepadanya, sikap itu berbanding terbalik dengan apa yang ia terima selama ini. Semua rasa sakit dan kebencian itu seakan sirna begitu saja, namun tidak seutuhnya hilang. Pikiran Fia benar-benar bingung, tetapi baru ia sadari jika kepalanya sudah terasa begitu sakit dan tidak mampu untuk menopang beban berat dari tubuh seorang Abi.

__ADS_1


"Hei. Fi, Fi bangun. Bangun Fi."


__ADS_2