Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Menyatakan Kembali.


__ADS_3

Seperti biasanya, Fia tetap melakukan kegiatannya. Semenjak Ahmad mengungkapkan semua perasaannya, kini ia merasa lega dengan hal tersebut.


"Bunda, ayah datang. Tapi tidak sendirian, ligat bunda." Ucap Ahmad kepada Fia.


Fia segera beranjak dari tempatnya, ia melihat dari balik jendela. Benar adanya, ada beberapa mobil disana. Tidak ada kabar berita apapun dari Abi mengenai hal ini, membuat Fia menjadi kaget.


"Assalamu'alaikum. "


Suara dari balik pintu, Ahmad membukanya dan menjawab salam dari mereka.


"Wa'alaikumussalam." Kemudian nek Ida menyusul Ahmad di belakangnya.


"Tuan Abi."


"Iya nek, apa Fia ada?" Ujar Abi dengan wajah yang cukup serius.


"Ada tuan, Masuklah."


Mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah, Nek Ida meminta Ahmad untuk memanggilkan Fia agar bisa bergabung dengan mereka.

__ADS_1


Ketika Fia menemui tamu mereka, terlihat orang-orang yang dulunya begitu dekat dengan dirinya. Mereka adalah kedua mertuanya, adik ipar dan tak lupa sahabatnya juga.


Pertemuan yang cukup membahagiakan untuk mereka semuanya, Surendra dan Mia sangat senang bertemu kembali dengan menantu serta cucunya. Momen dimana mereka tidak ingin terpisahkan lagi, begitu pula dengan Fia.


"Fia, mama senang sekali. Kita bisa berkumpul kembali seperti ini, jangan pernah pergi lagi dan meninggalkan kami. " Mia dengan beruraian air mata, memeluk Fia dengan begitu erat.


"Benar kak, cukup sampai disini saja kita terpisah. Itu membuatku menjadi aunty yang tidak berguna, mainan dan juga hadiah untuk keponakanku menumpuk saja dirumah." Celoteh Yasmin dengan ikut memeluk Fia juga.


"Hem, aku minta maaf ma."


"Sstthh, kamu tidak salah nak. Ini semua adalah salah dan keteledoran kami, untuk selalu mengawasi Abi nak."


"Tidak ma, mas Abi tidak sepenuhnya salah. Aku juga disini terlalu memikirkan diri sendiri, pergi tanpa izin dari suamiku." Kini Fia menunduk dengan air mata yang sudah ia tahan, mengalir seperti air.


Kini semuanya bergeser dari sisi Fia, memberikan waktu dan kesempatan untuk Abi bersama Fia. Yang lainnya mengalihkan perhatiannya kepada Abian dan Ahmad, kedua anak itu butuh penjelasan dari keluarganya mengenai situasi saat ini.


"Fi, mas tahu ini sungguh terlambat. Tapi semuanya itu mempunyai alasan untuk kita menjalaninya, walaupun tidak ada pernah terucap kata berpisah dari mas untukmu."


Seketika Fia menatap wajah Abi dengan begitu tajam, kalimat yang membuat Fia menjadi sedih. Bertahun-tahun ia mempertahankan hubungan ini, namun siapa disangka pada akhirnya ia harus merasakan rasa sakit kembali.

__ADS_1


Menepis tangan Abi yang menggenggam tangannya, Fia tidak bisa menahan emosinya saat itu.


"Fi, ada apa?" Abi merasa heran saat mendapati Fia menepis tangannya.


"Kamu benar-benar keterlaluan mas."


"Keterlaluan? Keterlaluan bagaimana?"


"Aku bertahan selam ini, namun semuanya sia-sia. Kamu memutuskan untuk berpisah, apa salahku mas." Nada ucapan Fia meninggi.


Suara itu terdengar oleh orang-orang yang sedang berkumpul diruangan lainnya, namun dengan cepat Surendra mencegah mereka yang hendak menyusul kesana.


"Siapa yang mau berpisah? Mas tidak mengatakan hal seperti itu, Fia." Abi terkekeh mendapati Fia yang salah menanggapi ucapannya.


"Masih bisanya kamu tertawa mas, memang kamu tidak pernah berubah."


Abi kembali tersenyum mendapati sikap Fia yang begitu terlihat menggemaskan, Abi berlutut dihadapan Fia. Dengan tangan membuka sebuah kotak kecil, memperlihatkan sebuah cincin dengan bentuk yang cukup elegan.


"Fia, will you merry me? Maukah kamu menikah lagi dengan mas?" Ucap Abi dengan tegas.

__ADS_1


Betapa kagetnya Fia melihat Abi melamarnya kembali, ia seperti bingung dengan apa yang terjadi. Memikirkan ulang setiap perkataan Abi padanya, ketika ia sadari yang sebenarnya. Membuat Fia menjadi tersipu malu.


"Eh, ayah mau ngapain? Kok berlutut didepan bunda?" Tiba-tiba saja Abian sudah berada diantara mereka.


__ADS_2