Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
End...


__ADS_3

Semua pihak keluarga mendekati dimana Fia berada, bahkan Mia sudah tidak dapat membendung air yang sedari tadi ingin mengalir.


"Terima kasih semuanya, bolehkan aku meminta sesuatu pada kalian?" Ucapan Fia seakan mengisyaratkan sesuatu.


Semua orang berada disana merasa kebingungan, terutama Abi. Mendapati kesadaran Fia kini, semuanya begitu bahagia. Akan tetapi, setelah mendengar perkataan Fia barusan. Membuat mereka semua menjadi merinding, berharap sesuatu yang buruk tidak akan terjadi lagi pada keluarga mereka.


"Bunda capek? Tidak apa-apa jika bunda mau istirahat, tapi jangan lama-lama ya."


Suara anak kecil itu semakin menguatkan prasangka yang mereka rasakan, bahkan Mia sudah tidak sadarkan diri.


"Sayang, mas mohon. Bertahanlah, kita semua akan kembali berkumpul seperti semula. Jangan mengucapkan kata-kata yang membuat kita semua khawatir dan takut, mas mohon jangan sayang." Tangan Abi bergetar mengusap wajah Fia.


"Kak, kak Fia pasti kuat kak." Yasmin pun ikut terisak.


"Kenapa semuanya pada nangis? Bunda kan hanya capek." Ucapan polos Abian.


Fia hanya tersenyum, mendapati anaknya yang bisa mengetahui apa yang sebenarnya dirinya maksud. Fia menggerakkan tangannya untuk membalas sentuhan tangan Abi, betapa ia sangat mencintai pria yang menjadi suaminya ini.


" Mas, aku lelah."


"Tidak! Kamu kuat sayang, kamu kuat." Nada suara Abi begitu tinggi, seakan ia memahami maksud dari ucapan Fia.


"Tidak sayang, kamu kuat. Kita baru saja bersama kembali, jangan seperti ini."


Tangan yang masih tertancap jarum infus itu mengusap wajah Abi, wajah yang basah akan air mata. Namun wajah Fia selaku menebarkan senyuman, seperti tidak ada beban yang ia rasakan. Berulang kali ia mengucapkan kata lelah pada Abi, jawabnya Abi tetap sama dan tidak mengizinkan Fia untuk menyerah.


Tiba-tiba saja, mulut Fia bergerak mengucapkan Kalimat-Kalimat istighfar. Tangannya menekan wajah Abi dengan menggunakan sedikit tenanganya, membuat Abi menjadi histeris.


"Bunda capek? Boleh istirahatkan kok, Bian bolehin bunda untuk tidur. Biar tidka capek lagi." Kalimat itu semakin membuat semuanya terisak, bagaimana bisa anak sekecil itu memahami keinginan dari bundanya.

__ADS_1


"Bian!" Bentak Abi yang sedang begitu kalut.


Kalimat Allah semakin kuat terdengar ditelinga Abi, dengan menahan sesak didalam yang ia rasakan. Surendra mengusap punggung Abi dan tersenyum pada Fia.


"Papa izinkan kami beristirahat nak, mama juga." Surendra akhirnya sadar akan tanda dari sang cucu mengenai bundanya.


Menguatkan putranya yang kini sedang menghadapi wanita belahan jiwanya, dalam keadaan menghadapi perpisahan yang teramat sulit untuk diterima. Namun semuanya pasti akan mengalami perpisahan seperti ini, hanya waktu saja yang membedakannya.


"Kuatkan hatimu nak, yakinkan dirimu agar Fia bisa beristirahat dengan tenang." Surendra kembali mengusap bahu Abi.


Sedangkan Yasmin, ia sudah begitu terisak dan sesak. Memeluk keponakan yang ia sayangi, lalu ia menghampiri Fia dna berbisik pada telinganya.


"Kak, Yasmin juga mengizinkan kakak untuk beristirahat. Kakak tidak akan lagi merasakan lelah, Yasmin menyayangi kakak." Dengan memberikan kecupan pada kening Fia, Yasmin menjauh dan menjatuhkan dirinya dengan isakan tanggis yang begitu menyayat hati.


Dengan perlahan mata Fia mulai meredup, ucapan doa perpisahan telah separuh ia ucapkan. Seakan-akan sedang menunggu izin dari sang suami untuk melepasnya, Abi menguatkan hatinya.


Suara yang begitu berat, serak. Abi mentalqinkan kalimat tersebut, membimbing Fia untuk mengucapkannya. Setelah Fia berhasil mengucapkannya, senyuman itu kembali terlihat pada wajahnya yang begitu teduh.


Kalimat terakhir yang didengar, dengan diiringi suara mesin pemicu jantung berbunyi. Monitor memperlihatkan garis lurus yang panjang, sebagai tanda jika izin pada Fia telah didapatkan. Abi dengan begitu eratnya memeluk raga yang sudah tidak bernyawa, isakan tanggis bergema di dalam ruangan tersebut.


Hanya Abian yang masih bingung dengan situasi saat itu, mendengar suara tangisan yang keras. Mia tersadar, matanya langsung tertuju dimana Fia berada, tubuhnya seketika menegang saat melihat Abi memeluk tubuh Fia.


"Fia! Tidak, tidak mungkin. Fia!" Teriak Mia dan berlarian menghampiri Abi.


Namun dengan cepat Surendra meraih tubuh Mia dan menahannya, wanita itu begitu sangat menyayangi menantunya. Bahkan Fia sudah menjadi putrinya sendiri, kasih sayang dan perhatian semua ia berikan. Akan tetapi, semuanya tu tidaklah kekal.


"Oma, bunda katanya capek. Bunda hanya beristirahat sebentar." Ucap Bian polos.


Tanggis Mia semakin pecah, ia memeluk tubuh Abian dengan begitu sangat erat.

__ADS_1


.


.


.


Sepuluh sudah kepergian Fia, tidak membuat Abi memalingkan cintanya kepada orang lain. Begitu banyak tawaran, bahkan ada wanita yang dengan sendirinya menyerahkan hidupnya untuk Abi. Tapi semuanya itu tidak dapat menggeser sedikitpun posisi cinta Fia di dalam kehidupannya, membesarkan dua anak laki-laki yang ternyata cukup cerdas dan selalu mempunyai kejutan untuk dirinya. Membuat hidupnya penuh dengan warna.


...Sayang, lihatlah. Anak-anak kita sudah tumbuh besar dan kini, mereka sudah menyaingi aku dengan ketampanan yang mereka miliki. Aku sangat rindu padamu....


Mata Abi sudah digenangi oleh air yang tertahan pada pelupuk matanya, dari dua sisi ia mendapatkan pelukan hanta dari kedua putranya.


"Bunda akan tertawa jika melihat ayah seperti ini, lemah." Si mulut comel, Abian.


"Dasar, ayah tidak lemah. Buktinya kamu ada didunia."


"Wow, jawaban ayah semakin terdepan." Tawa Abian.


Ahmad tersenyum, ia melepaskannya tangannya. Menatap dua pria yang selalu beradu argumen, tidak mau kalah walaupun salah.


"Yang tepat itu, bunda akan memukul kepala ayah dan Bian. Lihat saja, lengket kayak perangko, orang lain akan menilai berbeda." Gumam Ahmad dengan menopang dagunya.


"Apa kamu bilang."


"Apa kakak bilang."


"Hahaha, ampun. Bunda tolong!!"


Ketiganya berlarian saling kejar mengejar, itulah kehidupan abi dengan kedua putranya selepas Fia pergi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...💐💐💐 Tamat 💐💐💐...


__ADS_2