
Berjalan seperti sterikaan yang bergerak, Abi menunggu hasil dari pemeriksaan terhadap Fia. Saat mendapati Fia yang sudah tidak sadarkan diri, Abi segera membawa Fia ke dalam pelukannya dna mengendongnya menuju rumah sakit. Seluruh penghuni mansion menjadi heboh saat melihat Abi menggendong Fia, bertepatan dengan Yasmin yang baru tiba.
"Kakak membuat mataku sakit, bisa duduk manis tidak!?" Ucapan bernada ketus Yasmin lontarkan kepada Abi.
Bermaksud membalas ucapan dari sang adik, namun hal itu tidak terjadi saat pintu ruangan berwarna putih itu terbuka. Terlihat seorang dokter pria menghampiri mereka.
"Keluarga pasien, atas nama ..."
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Keadaan kak Fia bagaimana dokter?"
Dahi yang berkerut, membuat dokter itu bingung. Ucapan mana yang harus ia jawba terlebih dahulu, karena keduanya memberikan tatapan yang cukup tajam.
"Begjni saja, anda suaminya? Ikut saya." Dokter itu menunjuk Abi agar segera mengikutinya.
Memberikan respon wajah yang seakan mengejek sang adik, Abi berjalan meninggalkan Yasmin yang masih menunggu didepan ruangan. Dokter mempersilahkan Abi duduk berhadapan di ruangannya.
"Istri anda mengalami dehidrasi, dimana pada masa kehamilan trimester pertama itu sangat rentan dna berisiko. Jangan biarkan ia stres, semuanya itu akan berpengaruh pada janin dan juga ibunya sendiri." Jelas dokter.
Atas penjelasa yang dokter tersebut sampaikan, membuat Abi terdiam. Seakan tidka percaya dengan apa yang ia dengar, ada kegembiraan yang ia rasakan atas berita tersebut.
"Ha hamil dok?"
"Ya, apa anda belum mengetahuinya?"
Menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, pada akhirnya dokter pun paham dengan apa yang dirasakan oleh Abi kala itu. Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Abi bergegas menuju tempat dimana Fia berada, Yasmin tak kalah bingung dengan sikap kakaknya. Ia mengikuti langkah Abi memasuki ruangan dimana Fia berada.
__ADS_1
Botol infus terpasang pada tiang penyangga dengan jarum yang sudah menusuk punggung tangan pada salah satu tangan Fia, wajah yang masih terlihat sangat pucat itu terlelap.
"Ma maafkan aku, maafkan aku Fi." Abi menggenggam tangan Fia yang tidak terdapat jarum infusnya, menyatukan tangan mereka menjadi satu.
"Kak." Yasmin menyentuh bahu Abi.
"Yasmin, maafkan kakak." Abi beralih memeluk Yasmin dengan erat.
Mengajak Yasmin duduk bersama dan menceritakan semuanya yang ia rasakan, mencoba dan berusaha untuk keluar dari masa lalunya. Memulai dari awal untuk membina hubungan bersama Fia, apalagi disaat ini Fia tengah mengandung buah hatinya.
Menyusul dengan kedatangan kedua orangtua Abi, yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh Yasmin mengenai keadaan Fia. Kedua tersenyum bahagia mendengar jika putra sulungnya itu mau berubah, ditambah dengan kehadiran calon cucu mereka yang sudah sangat di idam-idamkan.
"Papa dan mama berharap, kamu bisa memegang semua ucapanmu ini nak. Jika nantinya ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah tangga kalian, selesaikan dengan kepala dingin." Nasihat Surendra berikan, agar putra sulungnya itu tidak mudah terjebak lagi dengan masa lalunya yang cukup membuat semuanya menjadi kelam.
Abi menganggukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir tiada hentinya, keluarga itu saling berpelukan dengan kabar bahagia tersebut. Tanpa mereka sadari, Fia yang terbaring di atas tempat tidur mendengar semuanya. Air mata pun tak luput mengalir, hatinya begitu sejuk.
.
.
.
"Hati-hati sayang." Abi menyambut tubuh Fia saat keluar dari mobil yang baru saja tiba di mansion.
"Hish, mulai bucin." Ledek Yasmin kepada Abi.
"Dasar anak bau kencur, jangan berisik."
__ADS_1
Kedua kakak beradik itu masih saling melempar ledekan satu sama lainnya, Mia langsung menyambut Fia dan membawanya masuk ke dalam. Perdebatan diantara Abi dan Yasmin tidak akan selesai dalam waktu singkat, pada akhirnya Surendra menarik telinga dari keduanya.
"Papa!" Keduanya berteriak.
"Apa! Umur kalian bukan anak paud lagi, masuk."
Meringgis dengan telinga yang masih berada dalam tarikan jemari Surendra, hancur sudah harga diri dari seorang Abi dihadapan Fia. Dimana selama ini, dirinya bersikap dingin dan juga angkuh kepada Fia.
"Rasakan, makanya jangan suka bertengkar melebihi umur kalian. Fia, ayo istirahat saja nak. Biarkan mereka menjadi urusan Papa." Mia mendampingi Fia berjalan menuju kamar mereka.
Mendudukan Fia pada pinggiran tempat tidur tersebut, Mia ikut duduk berdampingan bersamaan dengan menantunya. Menggenggam kedua tangan Fia yang ia satukan bersama tangannya, Mia menatap Fia dengan begitu dalam.
"Terima kasih sayang, sudah hadir dalam kehidupan anak mama. Jangan lepaskan maupun meninggalkan Abi nak, kamu adalah orang tepat untuk mendampinginya."
"Walaupun pada awal pertemuan kalian adalah kesalahan, tapi itu semua tidak terlepas dari takdir sang pencipta. Bimbing Abi dan juga kita semuanya nak, kami masih jauh dari mengenal agama ini."
Betapa tersentuhnya hati Fia mendengar ucapan dari mama mertuanya, dimana sebelumnya ia merasa tidak pantas untuk bersanding bersama abi dan masuk ke dalam keluarga tersebut. Namun saat ini, dirinya telah diterima dengan sangat baik melebihi keluarganya sendiri.
"Fia tidak sesempurna yang mama katakan, disini. Fia masih harus banyak belajar, jika mama mengizinkan. Kita akan belajar dan memahaminya bersama-sama ma." Ucap Fia yang dimana ia merasa sangat dihargai dan diperlakukan selayaknya manusia.
"Kamu adalah lentera dalam keluarga ini, terutama didalam hidupku. Jangan pernah berpikir untuk pergi dan meninggalkanku." Tiba-tiba saja Abi sudah merangkul tubuh Fia dari arah belakang, itu membuat tubuh Fia menengang.
Plak!
"Dasar anak tidak sopan, mama sedang berbicara sama Fia. Kamu datang-datang merusak suasana saja, Fi. Buat anak mama ini semakin bucin dan tidak bisa berpisah darimu, biar tahu rasa."
"Tanpa mama bilang, itu sudha terjadi ma. Sudahlah, biarkan mereka berdua menikmati waktunya."Surendra menarik Mia untuk keluar dari kamar Abi.
__ADS_1
Sebelum benar-benar keluar dari kamar, Mia berbalik menatap ke arah keduanya.
...Tuhan, izinkan hanya maut yang bisa memisahkan mereka berdua....