
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Fia hanya meringis kesakitan. Tidak ada yang bisa Abi lakukan selain mempercepat laju kendaraannya untuk segera tiba dirumah sakit, aliran darah terus mengalir tiada hentinya.
"Sayang, bertahanlah."
Akan tetapi, pandangan mata Fia mulai kabur. Ia tidak lagi merasakan sakit pada perutnya, dan perlahan mata itu mulai terpejam.
"Sayang! Jangan tutup matanya, buka Sayang!"Abi semakin panik.
Entah apa yang sedang ia pikirkan, rasa panik dan khawatir itu lebih besar saat ini ia rasakan.
.
.
.
"Loh, kok sepi? Dimana Fia?" Mia yang baru saja sampai di mansion anaknya, yyu merasa begitu sunyi senyap.
"Tuan, nyonya."Sapa Basman menyambut kehadiran tuan besarnya.
"Dimana Fia?"
"Tuan muda bersama nona sedang berkunjung ke rumah orangtua dari nona Fia."
__ADS_1
"Huh, kenapa tidak memberitahu anak itu. Kita juga belum pernah berkunjung kerumah besar pa. Apa kita ikut menyusul mereka saja, sekalian pa." Mia bermaksud untuk bertemu dengan orangtuanya Fia.
"Hubungi saja dulu mereka ma, takutnya mereka sudah tidak disana." Saran Surendra.
Basman mempersilahkan keduanya untuk masuk, dengan saran dari suaminya. Mia pun menghubungi Yasmin terlebih dahulu, untuk memastikan kepulangannya dan segera berkumpul di mansion Abi. Setelahnya Mia pun menghubungi Abi, dalam panggilan pertama hingga ke empat tak kunjung juga mendapatkan respon. Mia menjadi kesal.
"Dasar anak keras kepala, kenapa tidak diangkat telfon mama." Mia berceloteh dengan masih sibuk bersama ponsel ditangannya.
"Kenapa?" Surendra akhirnya terganggu pendengarannya.
"Ini pa, Abi tidak mengangkat telfon dari mama. Anak itu, bucin ya bucin saja. Tapi telfonnya diangkat lah, sepertinya Fia menghilang dulu saja sebentar dan Balik lagi biar tu anak mencari mama." Mia bersedekap.
"Hush, mama. Ucapannya dijaga, nanti dicatat sama ... "
Mia langsung menutup mulut suaminya dengan telapak tangan, melirik dengan tatapan yang sungguh memikulan.
"Mmpp." Surendra menunjuk tangan Mia agar dilepaskan dari mulutnya.
Masih dengan rasa takutnya, Mia melepas dan memeluk lengan Surendra dengan begitu erat. Lalu Davi hadir dengan menyuguhkan minuman untuk mereka berdua, dengan itu membuat Mia sedikit merasa lega.
"Ma, pa. Kenapa?" Yasmin yang baru saja tiba, merasa aneh dengan sikap kedua orangtuanya.
"Tanya saja sama mamamu ini. Karena bucinnya kakakkmu itu, membuat mamamu ini cemburu."Surendra mencebik bibir.
__ADS_1
"Papa, ish. Kamu coba telfon kakakmu itu, mereka sedang kerumah orangtua Fia. Mama sudah hubungi beberapa kali tapi tidak di angkat, mama sudah kangen sama Fia." Benar adanya jika Mia merindukan menantunya itu, karena dengan kehadiran Fia dalam keluarga mereka sudah memberikan warna.
Tidak ingin menambah suasana menjadi semakin alot, Yasmin menghubungi Abi. Tapi sama saja, mencobanya untuk kesekian kalinya, hasilnya pun tetap nihil. Tidak habis sampai disana, Yasmin terpikir dengan Ronal. Asisten yang selalu mengetahui kegiatan dari kakaknya, kemudian ia menghubunginya.
Pertama, kedua dan ketiga.
"Hallo, kak Ronal. Dimana kak A.."
"..."
Wajah Yasmin seketika pias, biasanya ia akan begitu cerewet jika sudah berhubungan mengenai kakaknya. Namun kali ini, ia dibungkam dengan berita yang disampaikan oleh Ronal. Ponsel itu ia genggam begitu erat, menatap kedua orangtuanya yang menantikan jawaban atas sangat kakak.
"Yasmin, bagaimana? Apa ada kabar tentang kakakmu? Kenapa menghubungi Ronal?" Tanya Mia yang heran.
"Ma, pa. Kak Fi, kak Fia." Ucapan Yasmin terbata-bata untuk menyampaikan berita tersebut.
Karena panik dengan ucapan Yasmin, Surendra menghampirinya dan mengambil ponsel tersebut. Mia membawa Yasmi untuk duduk, karena ia terlihat begitu kaget.
"Hem, katakan." Ucap Surendra dari ponsel Yasmin.
Dalam beberapa waktu, Surendra terdiam dengan apa yang ia dengar. Menghembuskan nafas beratnya dan menatap sang istri bersama putrinya, lalu ia menghampiri keduanya.
"Ayo, Abi sudah dirumah sakit. Benar ucapan mama, sekarang abi sangat membutuhkan mama disana. Yasmin, ambil beberapa perlengkapan kakakmu dan Fia. Menyusullah jika semuanya sudah siap."
__ADS_1
"Tunggu, ada apa ini pa?" Mia semakin bingung.
Sementara Yasmin tanpa mengeluarkan sepatah katapun, berjalan menuju kamar kakaknya seperti apa yang sudah diperintahkan oleh Surendra.