Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Penyesalan Abi 2.


__ADS_3

Begitu kasarnya sikap White kala itu, rasa belas kasihan dan kemanusiaan yang telah mati. Selama dua bulan lebih ia menahan dirinya untuk tidak menampakkan diri, begitu sakit menerima kenyataan jika wanita yang ia cintai menjauh dan kembali pada suaminya.


"Sampai kapanpun aku tidak terima dengan semuanya ini, aku harus mendapatkan Fia! Fia!" Teriak histeris White dengan meluapkan segala apa yang ia rasakan.


"Devi, Ani. Tolong bawa Abian ke kamarnya, cepat." Fia membawa Anaknya untuk segera dilakukan, agar tidak menyaksikan apa yang harusnya tidak ia lihat.


"Tidak bunda, Bian mau disini sama bunda. Bunda..." Abian juga merasakan jika keadaan Fia sedang tidak dalam keadaan yang baik.


"Aduh den, kita ke kamar ya. Nanti bunda akan menyusul." Devi mencoba menenangkan Abian yang memberontak untuk tetap bersama Fia.


Sedangkan saat ini, Fia berusaha untuk tetap tenang dihadapan White. Ia tahu jika suaminya tidak akan membiarkan dirinya berada dalam bahaya, kini Basman menahan semua sikap White yang semakin brutal.


Pria baru baya itu tidak cukup tenaga untuk menahan berantakan dari tubuh White yang lebih muda darinya, dibantu oleh pihak keamanan membuat White bisa dikendalikan.


"Lepaskan! Lepaskan! Kalian tidak pantas memperlakukanku seperti ini, Fia. Lepaskan aku." Teriak White dengan terus memberontak.


Dengan mengikat kedua tangan White, membuat dirinya tidak bisa bergerak bebas.

__ADS_1


"Sayang!" Abi tiba dengan sangat tergesa-gesa.


"Mas." Fia masuk ke dalam pelukan Abi.


"Maaf sayang, kamu tidak apa-apakan? Tidak ada yang terluka?" Abi menyakinkan jika keadaan Fia baik-baik saja.


Anggukan dari Fia membuat Abi lega, juga dengan keadaan sang putra semata wayangnya yang aman bersama kedua pelayan mansion. Menyusul dengan kedatangan dari Surendra bersama Mia, mereka sangat tidak percaya jika keponakan mereka melakukan hal seperti ini.


"Apa yang sudah kamu lakukan White? Kenapa sampai begini?" Ucap Surendra dengan nada kecewanya.


Mendapati Surendra disana, White tidak bisa mengucapkan apa-apa. Ia begitu sangat menyayangi pria itu seperti ayahnya sendiri, bagaimana bisa ia memberontak kepadanya.


Disaat semuanya lengah, White menyusun rencananya agar dapat mendekati Fia dan membawanya pergi. Membuat Basman dan para penjaga yang menahannya menjadi tak berdaya, White langsung menyerang Abi dan mengambil Fia dari sisinya.


"Argh! Mas!" Teriak Fia ketika White berhasil mendapatkannya.


"Tidak, Fia!" Abi lengah menjaga Fia.

__ADS_1


"White!" Teriak Surendra.


Dengan seringainya White membawa Fia menjauh dari semuanya, memberikan ancaman dengan menodongkan sebuah senjata api yang ia bawa di kepala Fia. Membuat semua menjadi menarik diri agar tidak enak membahayakan Fia, dengan begitu pasrah Fia akhirnya ikut bersama White.


"Apa salahku, mempunyai keponakan seperti ini." Surendra terpuruk lemas mendapati kepergian Fia.


"Pa, sudahlah. Tenangkan pikiranmu, ingat penyakit." Mia menghadapi suaminya yang terlihat begitu shock.


Merasa gagal menjadi suami, Abi mengizinkan semuanya ini terjadi. Rencana ini semuanya telah gagal, melibatkan keselamatan istrinya.


"Abi, mau kemana?" Surendra menatapi anaknya yang sudah bergerak untuk menyelamatkan istrinya.


"Abi akan melacak keberadaan White, pa."


"Jangan gegabah Abi, White tidak semudah yang kita kira." Tukas Surendra.


"Tidak pa, cukup kejadian ini saja yang membuat Fia terlibat dan bahkan saat ini nyawanya dalam bahaya." Abi mengusap wajahnya dengan begitu kasar.

__ADS_1


Mia mencoba menenangkan suaminya, benar apa yang dikatakan oleh Abi. Semakin lambat, maka nyawa Fia dalam bahaya. Terlihat Abi dan juga Ronal turut bergerak, maka Surendra tidak bisa menahannya lagi. Merestui pergerakan anaknya untuk menyelamatkan menantunya, maka dari itu. Abi meminta pada kedua orangtuanya untuk menjaga Abian.


"Argh! Kenapa tidak dari dulu, dia aku lenyapkan saja. Membuat semuanya menjadi semakin runyam." Abi


__ADS_2