
Memberikan waktu untuk keduanya berbicara, walaupun pada awalnya tidak ada yang mau memberikan persetujuan. Merasa khawatir dengan keadaan Fia saat itu, yang pada akhirnya mereka memberikan kesempatan. Namun yang paling berat adalah, karena Soraya tidak mau berjarak sedikit pun dari Abi. Kini mereka berada di dalam salah satu kamar tamu di lantai tersebut, karena tidka mungkin jika harus naik ke lantai atas.
"Maaf mas, tuan Abi yang terhormat."
Sontak saja kalimat itu membuat Abi kaget dan menatap Fia dengan penuh tanda tanya, tidak ada sama sekali wajah itu terlihat sedih ataupun kecewa. Hal itu membuat Abi diliputi rasa bersalah, dan itu semua hilang karena Soraya selalu menempel padanya. Sehingga membuat perhatian Abi teralihkan padanya.
"Tuan, apakah anda sangat mencintai nona Soraya?"
"Sudah berdamai dengan masa lalu?"
"Status pernikahan ini anda inginkan?"
"Janin ini, apakah hasil dari benih anda?"
Apakah hanya Soraya yang layak untuk disisi anda dampak maut memisahkan?"
Berbagai pertanyaan langsung saja Fia katakan, tanpa menunggu jawaban itu satu persatu. Karena menuntut Fia, ia hanya membutuhkan satu kalimat saja sebagai jawaban atas semua pertanyaan tersebut.
"Hei, kamu ini lantang sekali dengan pertanyaan itu. Jelas saja kalau Abi akan memiliki daripada kamu, buktinya saja dia mau menerima aku lagi dan begitu mencintai aku."
"Kamu itu hanya serpihan kecil yang sangat menganggu hubungan kami, lagian juga anak didalam perut kamu itu belum pasti anak mas Abi kan."
Dengan nada merendahkan, Soraya begitu leluasanya mengeluarkan perkataan yang sangat tidak pantas kepada Fia. Bagi sebagian orang, pastinya akan sangat merasakan sakit hati atas ucapan yang Soraya berikan. Akan tetapi tidak bagi Fia, dia bahkan tersenyum.
__ADS_1
"Benarkah itu mas?" Fia menantikan jawaban Abi.
"Berani sekali kamu ya, sudah dijelaskan juga tapi ngeyel. Kamu itu hanya pelarian saja, hanya aku yang pantas untuk mendampingi Abi. Lebih baik kamu pergi dari kehidupannya."
"Cukup Soraya!" Bentak Abi.
"Sayang, kamu membentak aku hanya karena wanita ini?!" Soraya tidak terima atas hal tersebut.
"Sudah diam! Kamu duduk saja disana."
Dengan keadaan tidak terima, Soraya terus berceloteh atas ucapan Abi.
"Fia."
"Iya mas, kamu sudah punya jawabannya?" Fia tetap tenang walaupun hatinya begitu gelisah menantikan jawaban apa yang akan Abi berikan padanya.
"Argh!"
Tiba-tiba saja Soraya berteriak dengan cukup keras, entah apa yang terjadi padanya saat itu. Dengan hal itu, Abi segera bergegas menghampiri Soraya dan ia terlihat begitu sangat khawatir.
"Ada apa? Kamu tidak apa-apakan?" Abi meraih Soraya dan memperhatikan setiap inci tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa sayang, hanya saja perutku tiba-tiba terasa sangat sakit. Mungkin asam lambungku kembali kumat." Soraya bersikap seakan-akan memengang perutnya.
__ADS_1
Tersenyum dengan menahan semua rasa yang membuat dirinya semakin terluka, Fia kini sudah mendapatkan jawaban atas apa yang ia tujukan pada Abi. Fia segera memutar tubuhnya untuk keluar dari tempat tersebut.
"Tunggu Fi." Abi menyadari Fia yang berjalan menjauh.
Tubuh itu berhenti tanpa berbalik, menguatkan semuanya agar bisa ia lalui.
"Tidak perlu tuan, saya sudah mendapatkan jawabannya." Meneruskan langkah kakinya keluar dari sana.
Melihat tubuh Fia yang menghilang dari pandangannya, Abi beranjak untuk mengerjarnya. Namun semuanya itu hanyalah rencana saja, karena tangan Soraya sudah melingkar kembali pada lengan kokoh pria itu. Semua jurus manjanya ia keluarkan agar Abi tidak mengejar Fia.
Hal itu pun membuat Abi tidak bisa berbuat banyak, ia menuruti saja semua kemauan dari Soraya. Sungguh miris sekali kejadian itu.
.
.
.
"Fi, kamu tidak apa-apa nak?" Mia segera menghampiri Fia yang sudah keluar dari kamar tamu.
"Kak." Yasmin menatap Fia yang terlihat begitu kuat menahan semuanya.
"Fia tidak apa-apa ma, semuanya sudah kita selesaikan. Bisakah Fia beristirahat sebentar ma."
__ADS_1
Mia maupun Yasmin tidak bisa menghalangi Fia, mereka tahu jika wanita dihadapannya itu mencoba tegar dengan semua cobaan yang bertubi-tubi ia hadapi. Menganggukkan kepala, membuat Fia tersenyum dan berjalan menuju kamarnya. Yasmin bermaksud untuk menghantarkan Fia, namun wanita itu menolaknya dengan alasan ingin beristirahat.
Bahkan Surendra melihat kepergian menantunya itu dengan begitu beratnya, ia merasa bersalah atas semua yang terjadi.