Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Dukungan.


__ADS_3

Berulang kali Fia mencoba untuk menemui abahnya, namun berulang kali juga ia akan mendapatkan penolakan ataupun pengusiran paksa oleh kedua wanita itu. Pikiran Fia hanya tertuju dengan kondisi abahnya, tida, memikirkan hal yang lain.


"Sepertinya, uangmu tidak pernah habis. Sebaiknya kartu ini ibu saja yang simpan ya." Mona bermaksud tidak ingin mengembalikan kartu tersebut kepada Fia.


"Jangan bu, itu milik tuan Abi. Tolong kembalikan." Fia menjadi takut kalau nantinya Abi akan marah kepadanya.


"Dasar b***h, suamimu itu orang kaya. Dia tidak mungkin menanyakan kartu ini, jangan pernah juga mengatakan jika ibu yang ambil. Anggap saja ini sebagai balasanmu untuk ibu yang telah menjaga abahmu." Mona tersenyum begitu senang.


"Tapi bu..."


Belum saja Fia menyelesaikan ucapannya, namun Leah sudah terlebih dahulu mendorong tubuhnya hingga bertabrakan dengan dinding. Kedua wanit itu memang sengaja menggunakan keadaan abah Fia sebagai sumber materi yang mereka inginkan, apalagi dengan Fia yang begitu mudah mereka ancaman agar bisa selalu memberikan biaya pengobatan.


Disisi lain, Abi yang hanya tahu jika Fia telah menghambur-hamburkan uang pemberiannya. Sengaja ia selalu mengisi saldo kartu tersebut dengan jumlah yang sangat fantastis setelah terkuras habis, bagi Abi. Fia hanyalah seorang wanita yang haus akan materi dan penipu ulung.


Hingga pada saatnya, kesabaran Abi telah habis. Selama dua bulan berturut-turut Fia telah menguras habis isi saldonya, hal itu tanpa ia sadari dan juga Abi tidak tahu jika bukan Fia yang menggunakannya. Yang Abi tahu, kartu tersebut diberikan kepada Fia.


"Tuan, air hangatnya sudah siap."

__ADS_1


Tanpa menjawabnya, Abi langsung saja masuk ke dalam kamar mandi dna melakukan rutinitasnya setelah pulang dari bekerja. Menyiapkan makan malam selagi Abi sedang mandi, Fia benar-benar menjalankan tugasnya sebagai istri. Walaupun tidak untuk batinnya, karena Abi tidak ingin menganggap pernikahannya.


Melihat hidangan yang telah tersedia, namun untuk saat itu. Abi tidak menyentuhnya sedikitpun, ia langsung saja berjalan keluar dari mansionnya dan mengendarai mobil miliknya menuju suatu tempat.


"Kalian bertengkar Fi?" Devi menyentuh bahu Fia yang sedang termenung.


"E tidak, mungkin tuan sedang ada pekerjaan lain."Mengalihkan suasana, Fia segera membereskan hidangan tersebut.


"Yang sabar ya, jangan pernah menyerah untuk membuat tuan luluh Fi. Yakinlah jika pertemuan dan pernikahan kalian berdua itu sudah diatur-Nya, oh ya kabar abahmu bagaimana?" Devi membantu Fia membereskan meja.


Berjalan dengan menghela nafas beratnya, Fia benar-benar kesulitan untuk menemui abahnya.


"Bukannya kamu selalu kerumah itu Fi, kenapa tidak bisa?" Devi merasa penasaran.


Air mata yang sudah mengalir tiada henti itu, menandakan jika Fia sedang tidak baik-baik saja. Perlahan Fia mulai menceritakan tentang apa yang sudah terjadi, kini tak hanya Devi yang mendengar cerita Fia. Melainkan Ani, Basman dan juga Yasmin ikut turut serta disana.


"Kak Fia jangan menanggis, Yasmin jadi ikutan sedih." Wanita itu menghampiri Fia dan memeluknya dari arah belakang.

__ADS_1


Mendapati nona muda mereka yang berada disana, membuat Devi dan Ani kaget. Apalagi dengan orang yang sangat mereka patuhi, Basman. Mereka berdua segera memberi hormat, Basman pun memberikan kode kepada keduanya agar dapat memberikan ruang.


"Nona, anda.."


"Yasmin kak, Yasmin. Tidak ada nona ataupun semacamnya, yuk ikut." Yasmin menarik tangan Fia untuk mengikuti dirinya.


Tidka bisa memberontak, Fia harus mengikuti langkah kaki Yasmin. Jika tidak dia akan terjatuh, mereka berdua memasuki kamar yang Fia tempati.


"Kakak duduk dan minum ya, nih." Yasmin memberikan air minum kepada Fia.


Merasa aneh dan takut, Fia berharap Yasmi tidak mengetahui tentang perjanjiannya dengan Abi mengenai pernikahannya.


"Yasmin sudah tahu semuanya kak, jangan pernah menutupinya lagi. Berpura-pura tegar tidak akan menyelesaikan semuanya kak, Yasmin ada di pihak kakak." Yasmin menggenggam tangan Fia.


"Jangan sampai papa dan mama tahu nona, saya benar-benar malu jika semuanya ini sampai pada mereka."


"Tenang saja kak, mulai saat ini. Jangan merasa sendirian, sekarang kakak adalah istri dari kak Abi. Kak Fia berhak atas kak Abi begitu juga sebaliknya. Kakak mau kan ikut saran dari Yasmin?"

__ADS_1


Seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini, namun hati kecil Fia merasa jika Yasmin bisa membantunya. Lalu ia menganggukkan kepalanya, sebagai tanda jika Fia menyetujui apa yang Yasmin katakan.


...Sipp deh, yakinlah jika suatu saat nanti kak Abi akan menjadi milik kak Fia seutuhnya....


__ADS_2