Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Firasat.


__ADS_3

Kini, bayi mungil yang diberi nama Abian itu sudah berusia tujuh tahun dan memasuki usia sekolah. Sedangkan Ahmad, ia memilih untuk masuk ke sebuah pondok pesantren yang berada di daerah tersebut.


"Abian, ayo cepat nak. Nanti bunda terlambat kerjanya." Teriak Fia.


"Iya bunda."


Mereka segera menikmati sarapan yang sudah tersedia di atas meja makan, aktivitas rutin yang mereka lakukan di pagi hari sebelum melakukan kegiatan apapun.


"Di sekolahnya jangan bandel ya, ingat pesan bunda."


"Siap, bunda. Nenek nanti jadi mau ke pesantren abang? Abian ikut ya."


"Iya jadi. Kamu kan sekolah, nanti saja kalau sudah libur. Abang akan pulang, kamu bisa bermain sepuasnya nanti."


Tampak guratan kekecewaan pada Abian, ia begitu rindu akan abang Ahmadnya. Semenjak Fia menerima tawaran untuk bekerja di perusahaan milik White, membuat dirinya merasa berhutang budi dengan pria tersebut. Membuat waktunya bersama sang buah hati menjadi sedikit berkurang.


Fia tidak ingin membuat kecewa, dimana white selalu membantunya dalam setiap hal, membuat Fia perlahan luluh akan sikap White kepadanya.


"Selamat pagi, Fi? Bersiaplah, nanti kita akan rapat bersama beberapa pemengang saham." Sapa Ria.


"Pagi, benarkah? Aku belum menyiapkan berkas-berkas milik tuan White." Fia kaget dan bergegas mempersiapkan semua yang diperlukan.


Membantu temannya, Ria terlihat gemas dengan sikap Fia yang natural. Setelah siap, mereka berdua berjalan menuju ruang rapat. Disana sudah mulai berdatangan para kepala divisi dan juga beberapa tamu investor dari berbagai perusahaan, Fia kali ini melupakan tugas utamanya.


Pukh!


"Astaghfirullah, aku lupa!" Fia menepuk keningnya.

__ADS_1


"Apa?" Ria bingung.


"Lupa mengajak tuan White, mampus aku."


Mulut Ria membulat, ia juga telah melupakan pemilik perusahaan tempat ia bekerja untuk hadir disana. Untuk masalah itu, ia serahkan sepenuhnya kepada Fia.


Tok tok tok...


"Assalamu'alaikum, tuan White. Apakah anda didalam!"


Tok tok tok...


"Tu..."


Klek!


Tubuh Fia terhuyung ke depan saat pintu terbuka, namun anehnya. Ia tidak merasakan sakit apapun, yang dimana saat terhempat jatuh ke lantai pasti akan terasa sakit.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Astaghfirullah, maafkan saya tuan." Fia segera melepaskan diri, saat tahu yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke kantin adalah White.


"Tidak apa-apa Fi." Senyum White yang cukup menggoda jika orang lain yang melihatnya.


"Mmm tuan, semuanya sudah menunggu anda di ruang rapat. Maaf, saya terlambat memberitahukannya pada anda."


"Fi, jangan terlalu formal. Aku ingin kita seperti biasanya."

__ADS_1


"Aku tahu White, tapi ini untuk profesional kita dalam bekerja. Ayo, jangan sampai mereka menunggu terlalu lama." Menarik ujung jas yang White kenakan, Fia bergegas menuju ruang rapat.


.


.


.


"Tolong papa bi, kamu gantikan papa untuk hadir di perusahan White. Papa tidak mau nanti dia menjadi seperti kamu, bertemu papa seperti nak kucing mengeong."


"Papa saja tidak mau, apalagi aku pa. Anak itu selalu membuatku kesal, kenapa papa punya keponakan seperti dia."


Plak!


"Auw."


Surendra dengan tenang menarik telinga Abi, karena memang Abi dan White selalu tidak akur jika bertemu. Surendra mempunyai adik laki-laki yang kini sudah tiada, White merupakan anak semata wayang dari sang adik yang kini hidup bersama ibunya. Hubungan mereka tetap terjaga dengan baik, hanya saja White selalu bersikap manja pada Surendra. Yang dimana, Surendra tidak akan pernah bisa menolak apapun yang White inginkan.


"Jika bukan papa yang meminta, aku tidak mau bertemu anak itu."


"Dasar kalian, cepat berangkat sana. Kalau kamu masih mau menolaknya, papa kasih tahu mama."


"Jangan pa, ish bisanya mengancam anak. Baiklah, aku berangkat."


Dengan sangat berat hati, Abi menggantikan Surendra untuk hadir pada rapat pemengang saham. Selama perjalan, Abi tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda. Hal itu semakin membuat jantung Abi berdebar-debar.


...Apa ini? Kenapa dadaku terasa seperti ini, huh. Semoga tidak terjadi apa-apa....

__ADS_1


...Sudah tujuh tahun berlalu, tapi sampai saat ini aku belum bisa menemukan kamu Fi. Apa anak kita sudah besar sekarang? Ya Allah, pertemukanlah kami dengan cara yang Engkau Ridhoi....


__ADS_2