
Mengetahui bahwa Fia telah bersatu kembali dengan Abi, membuat White menjadi murka. Wanita yang selama ini ia puja-puja dan menunggu jawaban atas perasaannya, kini wanita itu telah menikah kembali pada suaminya.
"Argh! Kamu sudah membuatku kecewa Fi, aku menunggu kepastian selama Bertahun-tahun. Tapi apa, kamu menghancurkan semuanya!" Teriak White.
Walaupun hubungan ia dengan Abi adalah saudara, itu semua tidak membuat White menyerah begitu saja. Terobsesi dengan apa yang Fia miliki, membuat White menjadi gelap mata. Ia nekat menyusul dimana Fia berada, walaupun ia tahu akan konsekuensinya.
Saat tiba di mansion milik Abi, ia segera masuk tanpa izin. Menyerobot begitu saja, dan ia melihat ada Abian yang sedang bermain di halaman depan. Mobil yang ia gunakan berhenti, hal itu membuat orang yang melihatnya merasa penasaran.
"Dev, mobil siapa itu? Baru lihat." Ujar Ani yang merasa asing dengan mobil tersebut.
Devi hanya menggerakkan bahunya sebagai tanda tidak tahu, melihat pria yang terus dari mobil tersebut. Dengan wajah yang begitu asing, baik Devi maupun Ani menjadi waspada. Rasa waspada itu berubah saat Basman menyebutkan namanya dan juga menyambut baik orang tersebut.
"Selamat datang tuan White." Sambut Basman dengan setengah menunduk.
"Hem."
"Paman White?" Teriak Abian yang mengetahui hal itu. Bocah kecil berlarian menuju White, dengan senyuman khas yang diberikan.
"Hallo jagoan, apa kabarnya?" White menyamai tinggi Abian agar leluasa mengobrol.
__ADS_1
"Baik paman, bagaimana paman bisa tahu kalau kami sekarang tingal disini?" Tanya Abian yang cukup penasaran.
"Rahasia dong, bunda mana?"
"Oh bunda, ada di dalam kok. Paman nanti masuk saja, ada paman Basman yang akan menghantarkan paman ke dalam. Bian mau main dulu diluar. "
"Oke jagoan." White berjalan mengikuti Basman yang menghantarkannya.
Sudut mata itu melirik ke seluruh sudut ruangan yang terlihat, dimana ia mendapati figura besar dengan pemperlihatkan gambar Fia dan juga Abi serta Abian. Sudut bibir itu menyeringai, isi kepalanya sudah dipenuhi oleh rencana-rencana, yang telah ia susun.
Tak lama kemudian, Fia muncul dari arah dapur. Ia tidak menyangka jika White berani mendatangi mansion suaminya, karena ia tahu jika White dan Abi sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kabarmu Fi?"
"Alhamdulillah baik, ada keperluan apa? Suamiku sedang tidak ada dirumah, anda bisa menemuinya di perusahaan." Ucap Fia yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran White.
"Aku ingin menemuimu."
Perkataan itu membuat Fia semakin resah, ia tidak ingin kejadian perkelahian diantara suaminya dan White terjadi lagi. Dimana Fia tahu jika White masih menginginkan dirinya.
__ADS_1
"Tidak baik mengucapkan kalimat seperti itu tuan, jika anda tidak mempunyai keperluan yang lainnya. Anda bisa berbicara pada suamiku saya." Fia semakin mempertegas apa yang terjadi saat ini.
Wajah White menyeringai, sudut bibir itu tertarik. Berdiri dari duduknya, White mendekati Fia yang sudah bergetar karena merasa takut. Kedatangan White sebenarnya tidak akan diterima di mansion Abi, namun karena pesan dari Surendra agar memperlakukannya seperti biasanya. Walaupun mereka tahu obsesi White terhadap Fia sangatlah besar, akan tetapi Abi sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan terjadi nantinya.
"Kau begitu egois Fi, sangat egois."
"Apa maksud anda?" Wajah Fia semakin cemas.
"Disaat kau terpuruk, aku yang membantumu. Disaat kau kesulitan dan kekurangan, aku yang membantumu. Disaat kau sudah mendapatkan kebahagianmu, dengan mudahnya kau mencampakkan aku begitu saja hah!"
"Tidak semudah itu, Fia! Kau menghancurkan semua harapanku padamu!" Suara teriakan White begitu keras, membuat semua orang yang berada di mansion menjadi kaget.
Begitu pula pada Abian, ketika sedang asik bermain. Ia mendengar suara White yang keras, semua aktivitasnya ia tinggalkan dan segera berlarian memasuki mansion.
"Bunda." Abian segera mendekati Fia dan juga Devi serta Ani.
"Paman, jangan sakiti bunda." Abian menghalangi tubuh Fia dari White.
Begitu juga pada Basman, ia segera menghubungi Abi untuk melaporkan kejadian di mansionnya. Sikap White semakin tidak terkendali, ia sedang dalam keadaan emosi yang besar. Tidak ada yang bisa menghadapinya saat itu, yang ada hanyalah semakin memperbesar masalah.
__ADS_1