
Beberapa pasukan yang lainnya kini telah tiba, Surendra yang telah membawa pasukan tersebut. Mereka segera melumpuhkan White dan beberapa anggotanya yang lain.
"Sayang, sayang bangun!" Abi meraih tubuh Fia dan memeluknya.
Tubuh itu begitu rapuh, terdapat beberapa luka yang nampak oleh mata dan mengeluarkan darah dengan cukup banyak. Tangan Abi bergetar menyentuh wajah Fia yang sudah begitu pucat, hijab yang ia kenakan sudha berubah warna.
"Tidak Fia, bangun! Bangun Fia!" Abi mengusap wajah Fia agar wanita itu segera membuka matanya.
"Abi, Fia?" Surendra yang baru saja menghampiri anaknya, tidak menyadari jika Fia berada di dalam dekapan Abi saat itu.
Melihat bahu Abi yang bergetar, membuat Surendra ikut menyetarakan tubuhnya. Alangkah kagetnya ia melihat siapa yang berada dalam dekapan Abi, tubuh paruh baya itu langsung ambruk begitu saja.
"Fi Fia, benarkah ini Fia?!" Suara Surendra nampak bergetar saat mengetahui keadaan Fia.
Sementara itu, Abi segera bangkit dan membawa Fia untuk segera mendapatkan pertolongan. Betapa rindu dan hancurnya ia saat itu, dimana wanita yang begitu ia cintai. Yang belum lama ini mereka diperhatikan kembali, setelah perpisahan yang cukup lama. Namun kini, saat cinta mereka kembali bersatu dan di uji kembali.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Abi tak henti-hentinya mencoba terus berusaha untuk membuat Fia membuka matanya. Usaha itu berhasil, perlahan Fia membuka matanya.
"Sayang, bertahanlah. " Abi masih mendekap tubuh Fia.
__ADS_1
Mulut itu terasa begitu kaku, sekedar untuk menggerakkannya saja sangat berat bagi Fia.
"Ma mas."
"Iya sayang." Air mata Abi tak henti-hentinya mengalir.
"Kamu menerima pesanku."
"Mm, iya sayang. Jangan terlalu memfotsir tenaga untuk sayang, bertahanlah. Kita sebentar lagi akan sampai dirumah sakit." Abi menguatkan Fia dan juga dirinya.
Menuruti apa yang menjadi perintah untuknya, menahan semua keinginannya untuk bicara. Mobil itu berhenti, Abi segera membawa tubuh Fia memasuki ruang tindakan.
Mendapatkan informasi dari Surendra, Mia dan Yasmin segera menyusul kerumah sakit. Tiba disana, mereka mencari keberadaan Abi. Terlihat jika putranya sedang bersandara pada sandaran kursi dengan mata terpejam, mereka pun segera menghampirinya.
"Abi, nak. Ini mama." Mia mengusap pundak dan wajah anaknya.
Kedua mata Abi perlahan membuka, untuk menyadarkan dirinya. Melihat kedua orangtuanya dan sang adik sudah berada disana, menghelas nafas beratnya serta mengusap wajah perlahan.
"Bagaimana keadaan Fia nak?" Mia nampak tegang.
__ADS_1
"Masih mendapatkan tindakan dari dokter didalam sana." Mata itu menatap ruangan yang berwarna putih dengan tatapn kosong.
Mia meneliti keadaan putranya itu, ia pun dengan lembut dan sabar membawa Abi untuk menganti pakaian serta mengobati luka-luka yang ia punyai pada tubuhnya.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Fia, penurunan kadar Hb dalam darah. Membuat Fia harus mendapatkan beberapa tambahan darah, yang dimana dengan menggunakan kekuasaan yang dimiliki oleh Surendra. Hal itu dengan cepat bisa teratasi, dan kini Fia sudah dipindahkan dalam ruanga khusus, dikarenakan kondisi tubuhnya belum stabil dan harus mendapatkan pengawasan ketat dari tim medis.
Secara bergantian, mereka menemui Fia. Walaupun dalam keadaan belum sadar dan mata tertutup, Abi terus menguatkannya. Teringat dengan buah hati mereka yang berada bersama oma dan opanya, kini Abi juga kembali hancur. Sang dokter mengatakan jika Fia dalam keadaan sedang mengandung, dengan usia kehamilan yang masih rentan. Kehamilan itu berusaha hampir memasuki bulan ke tiga, namun semuanya sudah tiada.
Pukulan keras mengenai rahim Fia, janin itu luruh bersama aliran darah yang mengalir keluar dari tubuh Fia.
"Maafkan mas, maafkan mas. Mas membuat kalian menderita, cukup calon anak kita saja yang hilang. Mas, tidak ingin kamu kamu tinggalkan." Ucap Abi dengan lirih, mengusap wajah pucat itu dengan begitu hati-hati.
Dalam waktu dua bulan lebih, Fia masih enggan membuka matanya. Setelah dipindahkan dalam kamar perawatan biasa, putra mereka baru bisa melihat dna menyentuh bundanya. Abian terus merengek pada kedua orangtua Abi dan juga Yasmin, agar mempertemukan dirinya dengan bundanya. Kini, Abian dengan doanya selalu ia bacakan untuk kesembuhan sang bunda.
Ikatan batin itu begitu kuat, tangan Fia bergerak. Pihak keluarga segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya, dokter pun memastikan jika Fia dalam keadaan yang cukup baik.
"Mas, Bian." Ucap Fia masih dengan lirih.
"Iya sayang, ada apa? Jangan dipaksa kalau merasa belum sanggup." Abi mengusap punggung tangan Fia.
__ADS_1