
"Paman White." Mulut Ahmad berceloteh.
"Assalamu'alaikum jagoan kecil." Ucap White.
"Wa'alaikumussalam Paman, mari masuk." Ahmad mempersilahkan White untuk masuk kedalaman rumah mereka.
"Bunda, nenek. Ada Paman White datang." Suara keras itu memanggil dua wanita kesayangannya.
Baik nek Ida maupun Fia kaget, karena mereka kedatangan tamu yang cukup membuat jantung copot. Orang besar seperti White berkunjung kerumah mereka yang kecil, sungguh luar biasa.
"Tuan White, maaf sebelumnya. Ada apa ya?" Tanya nek Ida kepada tamunya.
"Tidak ada apa-apa nek, hanya berkunjung saja. Saya kebetulan ada sedikit urusan dengan pemilik lahan di ujung jalan sana, jadinya sekalian mampir." Ujar White dengan mata mencari sesuatu.
Melihat pergerakan mata tamunya, nek Ida mengetahui maksud dari hal itu. White menyukai Fia, namun Fia tidak ingin berurusan dengan pria itu. Karena ia masih menjaga dirinya dan juga suaminya.
"Terima kasih atas kunjungannya tuan, sebelumnya maaf. Jika kedatangan anda tidak kami sambut dengan baik."
Orang besar seperti White berkunjung ke rumah warga biasa, itu akan membuat tanda tanya besar untuk semua orang yang mengetahuinya. Apalagi ia selalu memberikan paketan berbagai rupa dalam jumlah yang banyak.
"Tidak apa-apa nek, sebenarnya saya ingin berjumpa dengan Fia nek. Apa boleh?" White langsung memberitahukan keinginannya.
"Mmm, Fia ada di dalam. Tapi tuan, sebenarnya kami tidak ingin merusak reputasi anda. Saat ini, Fia sedang mengandung. Takutnya akan timbul fitnah ya g tidak baik untuk Fia maupun anda, tuan."
__ADS_1
Mendapatkan penjelasan dari nek Ida, White menjadi tahu penyebab dari semua permasalahan yang ada. Memang sebenarnya tidak pantas jika dia mendekati Fia yang sedang mengandung, karena bisa saja suami Fia akan datang dan itu akan membuat penilaian orang lain kepada mereka menjadi buruk. Begitu pula dengan White, pengusaha sepertinya mendekati wanita yang statusnya tidak jelas. Apakah bersama atau sudah berpisah.
Wanita yang mengandung itu menemui White, tidak tega jika ia mengabaikan orang yang selalu baik padanya. Memang berat, namun ia harus berjiwa besar.
"Tuan."
"Fia, maaf."
"Tidak apa-apa tuan, lebih baik jika diperjelas seperti ini agar tidak terjadi kesalahpahaman. Terima kasih juga atas bingkisannya, kalau pun anda berkenan. Jumlah bisa dikurangi saja tuan, terlalu berlebihan untuk kami."
"Benar Paman, Bunda pikir akan lebih bermanfaat jika Paman memberikan sebagiannya pada orang yang membutuhkan." Ahmad ikut menghampiri Fia.
Mendapat saran atas apa yang ia lakukan, membuat White merasa senang. Hal itu membuatnya semakin kagum dengan wanita yang sedang berada di hadapannya saat ini.
Tidak sengaja White melihat Fia yang merasa tidak nyaman, seperti sedang menahan rasa sakit. Kedua tangannya memengang perutnya yang besar, tidak tahan dengan dirinya. White segera menghampiri Fia dengan wajah khawatirnya.
"Apa kamu merasakan sesuatu?"
Baik nek Ida maupun Ahmad menjadi kaget, mereka tidak menyadari jika Fia sedang meringgis. Kedua pun menjadi ikutan cemas.
"Sshh, sepertinya aku mau melahirkan." Ujar Fia dengan menahan rasa sakit yang mulai kontinyu.
"Coba kamu atur nafas Fia, nek. Kita harus membawanya segera ke rumah sakit." White pun tidak kalau panik.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, nek Ida segera mengambil persiapan untuk lahiran milik Fia. Begitu pula Ahmad, anak kecil itu bingung harus membantu apa.
Membantu Fia untuk segera masuk ke dalam mobil miliknya di bagian belakang, ditemani oleh nek Ida bersamanya. White bersama Ahmad berada pada bagian depan, kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang, karena White takut jika ia melaju dengan kecepatan di atas rata-rata akan berdampak pada Fia.
"Nek, sa sakit sekali."
"Sabar neng, atur nafasnya biar tidak terlalu sakit." Nek Ida mencoba menenangkan Fia.
Fia menuruti perkataan nek Ida, White yang meliriknya dari kaca semakin panik.
"Apa masih jauh tuan?" Tanya Fia agar merasa sedikit rilex.
"Mmm ia Fia, ka mu..."
"Cepat tuan, percepat saja. Aku sudah tidak kuat." Teriak Fia yang semakin merasakan kesakitan.
White kaget dengan nada suara Fia yang berteriak, ia bingung harus melakukan apa.
"Paman! Jangan melamun, Bunda kesakitan." Ahmad menepuk pundak White.
"Aaa iya."
Mobil itu mulai melaju dengan kecepatan yang begitu melesat. Di di dalam pikiran White saat ini hanyalah menyelamatkan Fia dan anaknya. Pada akhirnya, mereka tiba dirumah sakit. White memberitahukan kepada tenaga medis disana untuk membantu Fia, dan mereka pun segera tanggap.
__ADS_1