Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Bersatu kembali.


__ADS_3

Menjalani pingitan, membuat Abi mengeluh. Ia seperti tidak sabar akan segera mengucapkan akad kembali dan hidup bersama, ia bahkan rela harus menyusup memasuki kamar yang Fia tempati. Dan berakhir dengan ketahuan oleh anak mereka, alhasil membuat dirinya benar-benar mendapat pengawasan ketat dari surendra.


Selama satu minggu mereka terpisah, dan hari ini dimana prosesi akad nikah ulang akan dilaksanakan. Benar-benar hari yang cukup butuh perjuangan keras dari seorang Abi, dalam balutan jas putih dengan pernak-perniknya. Ia duduk dihadapan penghubung dan juga bertindak sebagai wali hakim dari pihak Fia.


Pengucapan akad berjalan dengan lancar, Abi merasa gugup dan sempat tubuhnya bergetar hebat. Mengeluarkan air mata sesaat setelah wali hakim dan saksi mengatakan 'Sah', walaupun ini yang kedua kalinya ia mengucapkannya. Namun itu semuanya membuat ia merasa gugup, dan kini ia sedang menantikan sang bidadari belahan jiwanya hadir untuk disandingkan bersama dirinya.


Degh!


Degh!


Degh!


Detak jantung Abi semakin cepat berdetak, mengiringi langkah kaki wanita yang kini sedang berjalan menuju dirinya. Dalam balutan gamis putih dan juga hijab yang begitu serasi, Fia kini berhadapan dengan Abi.


Senyuman manis terukir begitu indah dari wajah Fia, menyambut tangan Abi untuk ia cium punggung tangan kanannya. Kemudian pandangan keduanya bertemu, menahan air mata yang akan jatuh dari mata Abi.


"Mas, jangan kupa doanya." Fia mengingatkan Abi untuk membacanya doa untuknya.


"Ah iya, maaf sayang."


Abi bersiap untuk melafazkan doa, dimana tangan kanannya berada di atas kepala Fia dan tepatnya di atas ubun-ubunnya. Dan tangan kirinya membentuk gerakan berdoa, dengan mengucapkan bismillah.


" Bismillahirrohmannirrohim. Allaahumma innii as'aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa 'alaihi, wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa 'alaihi.


"Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau tentukan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari keburukan yang Engkau tentukan kepadanya."


Saat Abi menangkupkan kedua tangannya dan mengusap wajahnya, air mata itu kembali menetes. Momen dimana dulu, Abi bersikap acuh atas prosesi pernikahan mereka sebelumnya. Kini ia bisa merasakan kebahagian dari keluarga yang sebenarnya.

__ADS_1


Perayaan cukup sederhana, karena Fia dan Abi tidak ingin terlalu merepotkan semua pihak. Kini, keluarga kecil itu memulai kembali perjalanannya dari awal lagi. Dengan keberadaan sang putra yang sudha mulai mengerti dan tidak menuntut apapun dari kedua orangtuanya. Bersama Ahmad dan nek Ida yang selalu berada disisi mereka, membuat keluarga tersebut menjadi lengkap.


"Sayang, nanti mau liburan kemana?" Tanya Abi saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Memangnya mas sudah ada rencana?"


"Belum ada sih, apa kamu ada rencana?" Kini Abi merapatkan tubuhnya bersama Fia.


Sejenak Fia tampak sedang berfikir, sebenarnya ia tidak membutuhkan liburan yang dimaksudkan oleh Abi. Akan tetapi, ia mengerti jika suaminya juga butuh waktu untuk mereka berdua.


"Mas, boleh saran?" Ujar Fia sedikit ragu.


"Boleh sayang, sini dong." Abi bersikap manja, ia meminta Fia untuk mendekat padanya dan memeluknya dari arah belakang.


Sedikit ragu dan bergetar tubuh Fia, saat merasakan kedua tangan kekar itu mengeratkan pelukannya. Memang dahulunya ia pernah merasakannya, namun perpisahan yang cukup lama membuat mereka berdua sama-sama merasa canggung.


"Boleh, mas akan mendaftarkannya sayang."


"Tapi mas, apa boleh kita mengajak keluarga yang lainnya?"


"Bisa juga sih, tapi mas boleh meminta persetujuan kamu?"


"Apa itu?" Fia begitu antusias saat mendengar Abi mengabulkan keinginannya.


"Setelah waktu umrohnya habis, kita berdua liburan lagi. Hanya berdua, bolehkan? Mas ingin menebus kesalahan dan waktu yang telah mas lewatkan bersama kamu sayang, jujur saja mas merasa bersalah atas semuanya itu." Abi melepaskan diri dari Fia, bersandar pada sandaran tempat tidur.


Memang benar, mereka berdua tidak pernah merasakan bagaimana manisnya pacaran setelah menikah. Semuanya kini sudah berubah, melupakan semua masa lalu untuk menatap masa depan.

__ADS_1


"Jangan pernah mengingat masa lalu untuk membuat kita bersedih, kita hanya boleh mengingatnya hanya untuk menjadikannya sebagai tolak ukur dalam menjalani kehidupan saat ini mas." Fia mengusap kedua sisi wajah Abi dan menatapnya dengan senyuman.


"Terima kasih sayang, maafkan mas atas semuanya. Bimbing dan ingatkan mas jika melebihi batas."


Keduanya saling berbagi kasih, menikmati masa-masa indahnya menjadi pengantin baru walaupun dengan judul berbeda (Pengantin baru, stock lama).


Hanyut dalam suasana romantisnya, keduanya perlahan menyatukan bibir mereka dengan begitu lembut. Hingga tidak ingin melepaskannya, tangan Abi berlanjut pada bagian tubuh lainnya. Namun semuanya terhentikan saat mendapatkan panggilan yang begitu penting.


"Bunda! Ayah! Buka pintunya!"


Teriakan Abian menghancurkan suasana yang begitu romantis, kedua terkekeh dengan hal tersebut. Awalnya mereka berpura-pura untuk tidak menanggapi Abian, namun lama kelamaan suara itu semakin keras tidak ketukan pada pintu seakan dapat menghancurkannya.


"Mas, kasihan." Fia tersenyum mendapati wajah Abi yang kusam.


"Ah, sampai lupa jika sudah punya anak. Hem, baiklah. Tunggu saja nanti, mas tidak akan melepaskanmu sayang." Memainkan mata seakan menggoda Fia, Abi menuju pintu untuk membukanya.


"Ayah, kenapa lama sekali membukanya? Huh, Bian mau tidur sama bunda dan ayah."


"Maaf ayah, Bian merenggek terus dari tadi." Ahmad yang berada disana menjadi tidak enak.


"Tidak apa-apa nak, kakak bisa kembali ke kamar. Ayah akan bicara sebentar sama Bian." Abi mengusap kepala Ahmad.


Mengerti akan apa yang dimaksud oleh Abi, Ahmad segera kembali ke kamarnya.


"Bian, ada apa nak?"


"Bian mau tidur sama bunda dan ayah, kata aunty. Kalau bunda dan ayah hanya berdua dikamar, nanti bisa ada yang ketiga dan ketiganya itu setan ayah." Celoteh Abian.

__ADS_1


Abi tersenyum akan celoteh dari anaknya itu, rupanya sudah ada pihak lain yang membuat provokasi malam pertama mereka. Fia pun menarik gemas pipi Abian dengan perlahan, betapa polosnya anak mereka.


__ADS_2