
Tidak terasa kini sudah tiga bulan berlalu, usaha yang abi lakukan untuk menemukan keberadaan Fia belum membuahkan hasil. Semuanya itu berdampak pada dirinya, kesehatan yang mulai menurun dan juga sering berhalusinasi.
"Kak, makan ya." Bujuk Yasmin dengan piring berisi lauk Pauk ditangannya.
Tidak ada jawaban sama sekali, pandangan mata itu kosong menatap ke depan. Surendra kini merasa putus asa dengan keadaan putranya, dimana ia membawanya ke psikiater untuk membantu memulihkan psikologis Abi yang terganggu. Dimana mereka mengatakan hanya satu obatnya, mempertemukan Abi dengan Fia.
"Kak, jangan seperti ini. Kakak harus tetap bertahan dan kembali seperti Kak Abi yang dulu, tidak seperti ini kak." Tangis Yasmin akhirnya pecah, ia sangat sedih melihat keadaan Abi.
Mengusap bahu putrinya, Mia menatap iba. Segala cara dan pengobatan mereka lakukan untuk kesembuhan Abi, tapi semuanya bisa dibilang gagal.
Tiba-tiba saja Abi beranjak dari tempatnya, berlari menuju pintu utama dan membuka. Tubuhnya berhenti tepat di depan pintu tersebut, terdiam untuk beberapa saat. Lalu tubuh itu berlutut dengan lutut sebagai tumpuannya, membuat cemas semua anggota keluarga yang lainnya.
"Fia, kembalilah. Mas minta maaf, maafkan mas Fi. Kembalilah, Fia!" Teriak Abi dengan begitu keras, lalu tubuh pria itu ambruk tidak sadarkan diri.
Mendapati Abi yang tidak sadarkan diri, membuat Surendra segera melarikannya ke rumah sakit. Tubuh putranya itu bisa dikatakan tidak baik-baik saja, kehilangan bobot berat badan yang cukup drastis serta gangguan psikologisnya yang bertambah berat. Membuat Surendra menangis, ada rasa sesal dalam dirinya untuk menjaga putranya.
.
__ADS_1
.
.
Suasana baru membuat Fia menjadi lebih baik, ia bisa melupakan semua pahitnya kehidupan yang ia alami dengan perlahan. Bersama nek Ida dan juga Ahmad, kini hidupnya menjadi lebih ceria dari sebelumnya.
"Bunda, ini ada buah-buahan dari paman White." Ahmad meletakkan sebuah tas besar dihadapan Fia.
"Banyak sekali kak, sudah ucapkan terima kasih pada paman? Untuk selanjutnya, lebih baik ditinggalkan saja kak. Tidak enak jika kita terus-terusan menerimanya."
"Sebelumnya sudah kakak bilang bun, tapi pamannya maksa. Katanya biar kita semuanya sehat." Jawab Ahmad dengan polosnya.
Dengan bekal uang yang Fia bawa, ia menggunakannya untuk membeli sebuah rumah yang sederhana untuk mereka huni. Nek Ida awalnya menolak, namun dengan melihat ketulusan yang Fia berikan. Membuat dirinya tersentuh dan mengikuti apa yang Fia sarankan, memulai dari awal untuk merintis usaha kecil mereka. Membuka sebuah warung kecil-kecilan sebagai usaha untuk kehidupan mereka kedepannya.
Dan kini, usia kehamilan Fia memasuki waktunya untuk melahirkan. Nek Ida meminta Fia untuk tidak terlalu banyak aktifitas dna fokus saja untuk proses lahiran.
"Neng, tas bayinya sudah disiapkan? Buat jaga-jaga."
__ADS_1
"Iya nek, ini sudah siap semuanya. Oh ya nek, tadi ada kiriman lagi dari White. Huh, Fia jadi merasa tidak enak."
"Oalah anak itu, tidak kapok-kapoknya. Ya sudah, nanti biar nenek yang urus. Tetangga juga mungkin sudah bosan setiap hari mendapatkan hal yang sama, lebih baik nanti kita kirimin saja ke psnti asuhan. Akan lebih bermanfaat disana." Ujar nek Ida yang sudah kehabisan cara.
"Hem, bagus juga saran nenek. Apa boleh Fia ikut nek?"
"Nih anak, tu perut sudah turun. Bahaya kalau jalan jauh, nanti lahiran dijalan. Nanti nenek akan minta tolong saja sama pengurus disana untuk mengambilnya disini, si Ahmad kemana?" Tanya nek Ida yang tidak melihat keberadaan cucunya itu.
"Tara... Ahmad disini nek." Tiba-tiba saja Ahmad muncul dari balik kursi yang digunakan oleh Fia.
"Astaghfirullah ni cucu, bisa jantungan nenek."
"Maaf nek, tapi kok kayak gitu saja sudah jantungan neneknya. Janganlah, Ahmad kan tidak mau nenek kenapa-napa." Ahmad segera menghampiri nek Ida.
Memeluk nek Ida dengan sangat erat, Fia yang menyaksikannya menjadi tersenyum. Keluarga kecil mereka penuh dengan senyuman, walaupun ada sebagian cibiran yang mereka dapatkan dari para tetangga yang usil. Tapi itu hanya sebagian kecil, masih banyak tetangga yang baik serta perhatian kepada mereka.
Tok tok tok...
__ADS_1
Ahmad segera membuka pintu, terlihat disana White berdiri dengan senyuman pipi berlubangnya yang begitu khas. Membuatnya terlihat begitu tampan dan juga berwibawa, pria yang merupakan Ceo dari salah satu perusahaan ternama di kota tersebut. Menaruh hati pada Fia saat pertama kali bertemu di sebuah acara bazar, mendapatkan informasi mengenai status Fia dari informan yang ia gunakan. Namun White tidak mengetahui siapa suami dari Fia, karena mereka mencari informasi dari nek Ida saja dan para tetangga yang ada disekitar tempat tinggalnya.
"Paman White."