Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Kepergian.


__ADS_3

Menunggu didepan pintu ruangan yang berwarna seba putih, Abi begitu sangat tidak tenang. Bermaksud untuk membahagiakan istrinya dengan menuruti permintaannya berkunjung menemui mertuanya, namun kini sebaliknya. Ia merasa bersalah dengan danya kejadian ini.


Sudah hampir satu jam lamanya ia menunggu, namun belum ada tanda-tanda jika dokter akan keluar dari ruangan tersebut.


"Tuan."


"Hem, bagaimana mertuaku?"


"Maaf, kondisi beliau saat ini dalam keadaan kritis." Ronal menyampaikan mengenai keadaan dari abah Fia.


Mengusap wajahnya berkali-kali dengan kasar, Abi benar-benar dalam keadaan yang tidak baik-baik saja saat ini. Pandangannya masih tertuju dengan ruangan dihadapannya, menunggu hasil pemeriksaan terhadap istrinya. Ronal segera pamit undur diri karena dokter yang menangani abah Fia memintanya untuk segera keuangan pasien.


"Abi!"


Mendengar suaranya disebut, Abi menolehkan kepalanya. Terlihat kedua orangtuanya sedang berjalan menghampirinya, pelukan yang pertama kali ia dapatkan dari Mia. Wanita itu menanggis sambil mengusap punggung putranya, berusaha untuk tegas dan kuat. Namun pertahanan itu akhirnya goyah, tubuh Abi luruh bertekuk dihadapan Mia.


"Fi Fia ma, Fia berdarah."

__ADS_1


"Sudah sayang, mama yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan menantu mama." Mia menarik tubuh Abi untuk duduk bersamanya.


"Tapi ma..."


Klek!


Pintu ruangan berwarna putih itu terbuka, seorang dokter keluar dari sana dan segera saja Abi menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


Dokter tersebut menatap Abi dalam keadaan diam, kemudian ia mengela nafasnya dengan berat. Menepuk salah satu bahu Abi dengan lembut, seakan mengatakan agar tetap kuat.


"Benar dok, bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya?"


"Maafkan kami tuan, salah satu dari bayi kembar tersebut harus kita keluarkan. Jika tidak, nyawa kembarannya beserta sang ibu akan sangat berbahaya."


"Maksud dokter?" Abi mengkerutkan keningnya dengan perkataan yang dokter ucapkan.

__ADS_1


"Maaf tuan, salah satu bayi anda sudah tidak bernafas. Kemungkinan ini sudah berlangsung lebih dari satu minggu, dan hal ini dapat mempengaruhi janin lainnya beserta sang ibu. Benturan yang dialami oleh pasien semakin memperburuk keadaannya, lebih cepat lebih baik untuk kita melakukan proses tersebut."


"Ti ti dak! I ini tidak mungkin." Begitu kagetnya mendengar ucapan yang dokter tersebutkan katakan, begitu pula dengan Mia sang mama yang sudah tidak sadarkan diri.


Dalam keputusasaan, Abi begitu sangat berat. Dengan cepat Surendra menyetujui proses operasi untuk menyelamatkan nyawa Fia dan bayinya. Dokter pun segera melakukan tindakan tersebut.


Lampu merah itu berubah menjadi hijau, menandakan jika proses operasi sudah selesai dilaksanakan. Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang perawat keluar dari sana dan mengendong lipatan kain putih di dalam dekapannya, semuanya menghampirinya dengan keadaan yang sudah begitu sedih.


"Kami akan membersihkannya terlebih dahulu, anda bisa melihat prosesnya tuan." Perawat itu berjalan dengan di ikuti oleh Yasmin dan Surendra.


Menjalani perawatan intensif, Fia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Memastikan Fia mendapatkan perawatan yang terbaik, Abi menghampiri kamar jenazah untuk melihat anaknya. Abi menatap tubuh itu dengan mata yang sudah berembun, begitu sesak rongga dadanya saat harus menghadapi kenyataan seperti ini. Tubuh yang begitu kecil itu sudah terbungkus oleh kain putih, membawanya ke dalam dekapannya. Berharap ini semuanya hanya mimpi buruk yang berakhir dengan baik, dalam dekapannya ia berjalan menuju ruangan dimana Fia berada. Membawa putranya yang belum sempat melihat dunia untuk bertemu dengan bunganya untuk terakhir kalinya. Dimana, bundanya adalah wanita yang sudah membuat dirinya kembali menata masa depan, namun kini ia terbaring tidak berdaya.


"Jangan tinggalkan ayah lagi nak, tumbuh dan berjuanglah didalam sana sampai kita bertemu di dunia. Lihatlah, bunda pasti sangat lelah nak. Maafkan ayah, maafkan." Abi menggenggam tangan Fia dengan begitu erat dan mengusap perut Fia yang dimana di dalam sana masih terdapat anaknya.


Mendapati anaknya yang terlihat begitu sedih, Mia mendekatinya dengan memberikan kekuatan agar mereka bisa melewati ini semuanya. Surendra telah kembali bersama Yasmin setelah mengurus semua administrasi untuk cucunya, ia meminta agar Abi segera memakamkan cucunya yang sudah kembali pada sang pencipta.


"Cepat bangun ya sayang, mas tinggal sebentar tidak apa-apa kan." Abi mengecup kening Fia dan menitipkannya pada Mia dan Yasmin.

__ADS_1


Berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba saja Ronal datang dengan membawa sebuah berita yang cukup mengejutkan. Menyampaikan jika keadaan abah sangat kritis dan semakin menurun, dengan berat hati ia menyampaikan kalau abah sudah berpulang. Dokter menyampaikan jika penyakit tersebut sudah begitu menggerogoti tubuh abah, ditambah dengan pengobatan yang di bilang sangat lamban. Sehingga membuatnya menyerah dengan penyakit tersebut.


Hari dimana duka menyelimuti keluarga tersebut, kehilangan cucu pertama dan ayah dari menantu wanitanya. Hancur, itulah yang saat ini Surendra rasakan. Keluarga yang baru saja merasakan kebahagian dengan kehamilan dari Fia dan juga kembalinya Abi dengan kehidupannya, namun kini semuanya sedang di uji untuk kebahagian tersebut.


__ADS_2