Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Melepas.


__ADS_3

Menatap dari balik jendela kendaraan yang kini ia tumpangi, Fia menghela nafas panjangnya. Setelah mendapatkan apa yang menjadi dasar penguat untuk dirinya pergi, maka dengan segera ia meninggalkan mansion mewah milik suaminya. Penuh kenangan dan juga luka yang begitu besar dalam kehidupannya, membuat dirinya harus meninggalkan semuanya. Tidak ada yang mengetahui jika dirinya pergi, karena semuanya itu sudah Fia Persiapkan sejak lama.


Melakukan perjalanan panjang dan cukup melelahkan, hingga ia tiba pada pemberhentian terakhir dari bus yang ia tumpangi. Menahan rasa lelah sudah pasti, berjalan perlahan dengan pergerakan dari sang janin yang semakin aktif.


"Sebentar ya sayang, Bunda cari tempat beristirahat dulu sambil kita sarapan." Membawa tas yang cukup besar, Fia memasuki sebuah rumah makan yang cukup ramai.


Memesan menu yang ia kira cukup untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, air hangat membuat rasa nyaman pada tubuhnya. Namun, tiba-tiba terjadi kegaduhan di luar dari tempat tersebut. Merasa penasaran, Fia bertanya pada ibu pemilik dari tempat makan tersebut.


"Bu, maaf. Ada apa ya?"


" Itu neng, si Ahmad cucunya nek Ida dituduh mencuri." Jawab ibu tersebut.


Tidak tahu kenapa, Fia sangat ingin melihatnya. Kerumunan sudah mulai berkurang, tubuh kecil itu meringkuk memeluk lututnya. Si kecil itu dikira oleh seseorang ibu-ibu mengambil dompet miliknya, namun si kecil itu menyanggahnya. Ibu itu terus menerus menekan sang anak kecil tersebut agar mengaku, namun Fia melihat dari mata matanya sebuah kejujuran.


"Kamu ini, masih kecil sudah berani-beraninya mencuri. Begini ni, biasanya mulung. Sekali liat barang orang, sembarangan ambil saja. Ayo ngaku kamu."


"Benar bu, saya tidak mencuri. Saya cuma mencuri barang-barang rongsokan, jangan sakiti saya bu." Tubuh kecil itu masih meringkuk.


"Bohong kamu, jelas-jelas saya tadi liat kamu masukin sesuatu ke dalam karung itu. Coba periksa saja karungnya." Cerca ibu tersebut.


Semua orang yang berada disana ikut terpancing emosinya, mereka merampas karung yang dibawa oleh si kecil. Membongkarnya dengan mengeluarkan semua isinya hingga berserakan, namun ternyata tidak ditemukan apapun didalamnya selain barang-barang rongsokan.


Ibu tersebut masih menyakini jika anak kecil itu menyembunyikan dompet miliknya, sungguh pemandangan yang menyakitkan mata saat melihat anak kecil itu.

__ADS_1


"Maaf, permisi. Dompet ibu seperti apa bentuknya?" Tanya Fia.


"Itu neng, warna merah ada kembang-kembangnya. Ni anak susah sekali ngakunya."


"Sekali kali maaf bu, apa sudah ibu periksa lagi di dalam tas ibu? Mungkin saja kurang teliti melihatnya."


"Hei neng, jangan coba-coba membela anak ini ya." Emosi ibu tersebut tiba-tiba meninggi.


Tidak terlalu memikirkan perkataan ibu tersebut, akan tetapi semua orang-orang disana juga menyarankan apa yang dikatakan Fia sebelumnya. Dengan terpaksa, ibu itu meletakkan tasnya ke atas salah satu meja disana. Membuka tas tersebut dengan begitu kasar, dibantu oleh ibu pemilik tempat tersebut. Benar adanya, dompet ibu tersebut berada didalam tasnya sendiri.


"Ini dompetnya, walah ni ibu. Si Ahmad anaknya jujur, mana mungkin dia mencuri." Bela ibu tersebut kepada anak laki-laki kecil itu.


Setelah permasalahan selesai, semua orang disana membubarkan diri. Tinggallah anak tersebut bersama ibu pemilik rumah makan, Fia pun ikut menghampirinya.


"Mmm, Ah mad tante." Dengan nada suara yang bergetar, Ahmad menjawab perkataan Fia.


"Neng, Ahmad. Ibu masuk dulu ya, nanti pulangnya hati-hati ya Mad."


Kini tingallah Fia bersama Ahmad, anak laki-laki itu masih menundukkan kepalanya. Terlihat sekali jika dia begitu sopan, Fia menjadi tersenyum melihatnya.


"Tante, saya mau pulang dulu. Takut nanti nenek khawatir."


Ahmad merapikan barang-barang isi dari karung yang ia bawa, setelahnya ia berjalan menjauh dari Fia. Akan tetapi, langkah kaki Fia bergerak untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Tunggu!" Fia berjalan menghampiri Ahmad.


"Boleh tante ikut pulang bersama kerumah Ahmad?"


Merasa kaget dengan sikap Fia, apalagi mereka baru saja bertemu dan tidak saling mengenal. Ada ketakutan didalam hati Ahmad, akan tetapi anak kecil itu Seolah-olah merasa dekat.


"Tapi tante, rumah nenek sangat kecil dan tidak bagus. Takutnya, nanti tante tidak nyaman jika berada disana."


"Tidak apa-apa sayang, berarti tante boleh ikut ya. Yuk kita pulang sama-sama. " Senyum Fia begitu lebar.


Tidak dapat menolak, Ahmad pun memberikan Fia izin untuk mengikuti dirinya pulang. Cukup jauh mereka berjalan, sehingga membuat Fia merasa pegal dan nafasnya menjadi sangat cepat.


"Tante capek ya? Duduk saja dulu, sini tante." Ahmad menyiapkan pembatas jalanan yang basah akibat terkena hujan, agar Fia bisa menggunakannya untuk beristirahat.


"Terima kasih, masih jauh ya?" Tanya Fia.


"Tidak tante, itu rumah nenek." Jemari kecil itu menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil yang sangat redup akan cahaya.


Menatap bangunan tersebut, membuat hati Fia terenyuh. Dengan seorang anak laki-laki yang mungkin berusia sekitar empat atau lima tahun, berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup. Melanjutkan perjalanan hingga mereka tiba di depan bangunan kecil itu.


"Assalamu'alaikum, nek. Ahmad pulang."


"Wa'alaikumussalam. Iya sebentar." Nek Ida membuka pintu.

__ADS_1


Betapa kagetnya ia melihat seorang wanita bersama dengan cucunya, karena diluar akan turun hujan. Nek Ida segera menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah, menyuguhkan minuman hangat agar tubuh tidak kedinginan.


__ADS_2