Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Habis tak bersisa.


__ADS_3

Ke esokan harinya, setelah menghantarkan Abi untuk berangkat bekerja. Fia bergegas bersiap untuk pulang kerumahnya, rasa khawatir itu lebih besar terhadap keadaan abahnya.


"Fi, kamu yakin ingin pergi? Kalau tuan Abi tahu, bagaimana?" Ani merasakan cemas untuk keputusan yang Fia ambil.


"Aku sudah meminta izin pada tuan, dia memperbolehkanku asalkan saat dia pulang. Aku sudah menyambutnya disini, tuan Basman akan menghubungiku." Fia menatap Basman yang menganggukkan kepalanya.


Kedua sahabatnya itu melepas kepergian Fia untuk berkunjung ke rumahnya, hal itu ia lakukan karena sangat mencemaskan keadaan abahnya. Namun, dari semuanya itu pasti ada konsekuensinya. Karena Abi tidak memperbolehkan Fia untuk kemana pun tanpa izin dari dirinya.


Selama perjalan menuju rumahnya, Fia sudah mempersiapkan diri dan juga mentalnya. Karena ia tahu, ibu sambungnya itu tidak akan membiarkannya untuk hidup tenang.


"Sudah sampai nona." Ucap sang supir yang memang dipersiapkan oleh Abi.


"Terima kasih pak, bapak ikut turun saja. Biar bisa sekalian ngopi." Fia takut akan lama bersama dirumahnya dan membuat jenuh sang supir.


"Tida, nona, terima kasih. Saya akan menunggu disini saja."


Menganggukkan kepala depan berjalan memasuki halaman rumah yang sederhana itu, mengetuk pintu beberapa kali yang pada akhirnya dibukakan.


"Akhirnya, cepat masuk." Ketus sekali ucapan Leah pada Fia, berbeda sekali saat mereka datang pada mansion Abi.


Mengikuti ucapan yang dikatakan oleh Leah untuk masuk ke dalam rumah, namun Fia segera mengalihkan langkah kakinya langsung menuju kamar abahnya. Dan itu tidak disadari oleh Leah, isi kepala wanita itu sudah dipenuhi oleh berbagai pikiran tidak baik.


Betapa kagetnya saat Fia menyaksikan sendiri bagaimana keadaan abahnya, tubuh pria itu terwujud kaku di atas tempat tidur. Dengan kedua bola mata yang terbuka, menatap kosong ke depan.


"Abah." Suara Fia seakan tercekat dalam tenggorokannya.

__ADS_1


Tubuh itu seketika tidak bertenaga, bahkan kedua kaki yang kuat untuk menopang berat tubuhnya. Kini, tidak bisa lagi bertahan. Fia terhempas didepan pintu kamar yang terbuka, air mata lolos begitu saja dari matanya. Berusaha untuk kuat, perlahan membangkitkan tubuhnya yang begitu lemah. Begitu kakinya akan memasuki kamar tersebut, seketika itu juga tubuhnya tertarik ke belakang.


"Jangan coba-coba mendekati abahmu." Suara itu adalah milik Mona.


"Makanya, cepat serahkan uang yang kamu bawa. Coba saja saat kami datang dan kamu menyerahkan uang kepada kami, pasti abah kamu itu tidak akan seperti ini." Leah yang sudah tidak tahan untuk segera menghardik Fia.


Kedua ibu dan anak itu menyalahkan Fia, karena pada saat mereka meminta bantuan uang kepada Fia dengan alasan untuk mengobati abahnya. Namun Fia tidak segera memberikannya, sehingga pengobatan abahnya terhambat.


"Tidak mungkin bu, kenapa keadaan abah semakin menurun seperti ini. Apa yang sudah kalian lakukan?!" Nada bicara Fia mulai meninggi.


"Apa kau bilang, hah! Kamu menuduh kami! Dasar anak tidak tahu diri, sudah bagus aku merawatnya." Mona begitu murka mendengar ucapan Fia yang seakan-akan menuduh dirinya.


Berbagai umpstan kebencian Mona dan Leah montarkan kepada Fia, namun semuanya Fia tidak hiraukan. Dimana saat ini, ia lebih mengutamakan kesehatan abahnya. Ia berjalan melewati kedua wanita itu dengan sangat acuh, akan tetapi kedua tidak membiarkan dirinya memasuki dan bertemu dengan abahnya. Pintu kamar itu ditutup dan menimbulkan suara yang cukup keras.


Brukh!


"Jangan pernah kamu masuk ke dalam kamar ini, jika kamu berani melanggarnya. Maka saat itu juga, abahmu akan kami buat hidupnya berakhir. Cepat berikan kami uang!" Mona menekan rahang Fia dengan kuku-kuku tangannya yang sudah menggores wajahnya.


Leah menarik tas kecil yang digunakan oleh Fia dengan cukup keras, membukanya dan menghamburkan seluruh isinya ke lantai. Mengambil dompet milik Fia, dimana didalamnya terdapat kartu debit yang diberikan oleh Abi beberapa hari lalu. Tidak cukup sulit bagi Leah, karena dibalik kartu tersebut sudah tertulis pinnya.


"Jangan Leah, itu bukan milikku." Fia memberontak dari cengkraman tangan Mona dna bermaksud untuk mengambil kembali kartu tersebut,


"Enak saja, ini sudah menjadi milik kami. Bu, aku keluar sebentar."


"Cepatlah." Mona tahu jika Leah pergi untuk menguras seluruh isi dari kartu tersebut.

__ADS_1


Ancaman yang Mona berikan pada Fia, benar-benar tidak terduga. Alih-Alih dengan menggunakan abahnya sebagai alasan, mereka berhasil membuat Fia tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga Leah telah kembali, Fia tidak bisa untuk memastikan keadaan abahnya karena Mona dan Leah telah mengusirnya..


.


.


.


Suara notifikasi terdengar dari ponsel milik Abi, saat ini ia sedang bertemu dengan kliennya di luar perusahaan. Menghormati klien tersebut, Abi mengabaikan notifikasi pesan itu untuk sementara.


"Senanh bisa bekerjasama dengan anda, tuan Abi."


"Tidak perlu sungkan."


"Baiklah, sampai bertemu kembali." Klien tersebut pamit undur diri.


Selesai dengan urusannya, Abi pun kembali menuju perusahaannya. Namun ia hampir melupakan sesuatu yang sudah ia tunda sebelumnya, didalam mobil yang dikemudikan oleh Ronal. Mengambil ponsel dari saku jasnya, yang kemudian disusul oleh ekpresi wajah cukup mengagetkan.


Dimana notifikasi pesan tersebut menampilkan sebuah pemberitahuan penarikan dana tunai dari kartu yang Abi berikan kepada Fia, jumlah yang cukup besar untuk seorang wanita seperti Fia.


"Kita pulang."


"Hah?!" Ronal kaget.


"Apa kau mulai tuli, Ronal!" Tegas Abi.

__ADS_1


"Ba baik tuan."


__ADS_2