
Dari hari ke hari, perubahan sikap Abi semakin membuat Fia tidak bisa menghadapinya lag dengan tenang. Keduanya saling diam dan tidak seperti biasanya yang selalu ceria, dengan hal itu membuat kecurigaan didalam rumah tangga mereka.
"Dev, kamu bisa temani saya?"
"Mau kemana nona? Hem, jangan bilang kalau mau ..."
"Sstthh, bisa ya. Nanti biar aku yang bilang sama pak Basman, Ani gimana?"
"Dia sedang berbelanja kebutuhan dapur, kalaupun dia ikut nanti malah ember non." Benar saja, Ani yang notabennya memiliki kebiasaan yang memiliki rem blong dalam menjaga ucapan.
Mereka pun bergegas segera berangkat menuju tempat yang sebelumnya sudah disampaikan oleh Fia.
.
.
.
Di dalam perusahaan, kini banyak sekali berita yang bertebaran mengenai sang pemilik dari perusahaan tersebut.
"Selamat datang nona." Ucap karyawan yang saat itu berhadapan dengan Soraya.
"Hem, sudah sana. Oh ya jangan lupa buatkan saya minuman seperti kemarin, jangan sampai salah." Dengan angkuhnya Soraya berjalan menuju ruangan Abi.
Pertahan seorang Abi akhirnya goyah, setelah Soraya terus menerus menemuinya dan melakukan berbagai hal untuk meluluhkan hati seorang Abi. Mereka berdua kerap kali bertemu tanpa memberikan batasan diantaranya, hal itu membuat hubungan Abi dengan istrinya sedikit merenggang.
__ADS_1
Begitu juga di dalam perusahaan, Abi tidak lagi bersikap tegas. Bahkan Tyas dan Ronal dibuat bingung dan juga tidak habis pikir dengan kelakuan tuan mereka, semua karyawaan disana tanpa terkecuali sudah sangat risih dengan kehadiran Soraya yang selalu bertindak semena-mena disana. Semuanya itu telah membuat rasa segan dan juga hormat pada Abi menjadi menurun, bahkan mereka terkadang acuh begitu saja.
"Hei kamu, cepat carikan cemilan terenak disini untuk sana. Cepat." Soraya memberikan perintah kepada Tyas, saat ia telah tiba didepan ruangan Abi.
...Dasar nenek belut, rasanya aku mau menjahit mulutnya yang begitu kurang ajar. Awas saja kau....
"Baik nona, akan saya carikan secepatnya."
"Jangqn ngomong doang, cepat pergi sana."
Suasana menjadi begitu mencekam, dimana Tyas sudah tidak tahan lagi sengan semuanya itu. Bila mendapatkan kesempatan, ia ingin sekali mencomot tu bibir nenek belut biar diam. Mendengar suara kegaduhan tersebut, Abi membuka pintu ruangannya dan melihat kehadiran Soraya yang sedang berseteru dengan sekretarisnya.
"Ada apa ini?" Tanya Abi.
"Sayang, sekretaris kamu ini ni yang ngeselin. Kayaknya dia ini ingin membuatku marah, coba beri hukuman untuknya biar kapok." Soraya bergelayut manja pada lengan Abi.
"Masuklah, biar aku urus dia dulu." Abi mendorong tubuh Soraya perlahan dan menutup pintunya.
"Jangan pernah mengusiknya, mulai saat ini perlakukan dia dengan baik." Abi berlalu masuk ke dalam ruangannya.
Kening Tyas berkerut sangat banyak, termenung melihat apa yang baru saja ia saksikan. Bagaimana bisa tuannya itu berubah saat kehadiran wanita yang menurutnya sangat tidak layak, apakah itu bisa dikatakan menduga atau bagaimana. Karena yang Tyas tahu jika Fia adalah pasangan sah dari tuannya, ia pun segera menemui rekan kerjanya untuk memberitahukan hal tersebut, yaitu kepada Ronal.
Sementara itu, keadaan di dalam ruangan tersebut. Soraya bersama Abi berbincang-bincang begitu dekat, bahkan bisa dikatakan jika keduanya tidak mempunyai batasan lagi. Abi membiarkan apa saja yang dilakukan oleh Soraya kepada dirinya, namun ia tidak memperbolehkan untuk mengusik ruang pribadinya. Sorraya bergelayut manja seperti di masa lalu, Abi telah melupakan statusnya yang kini ia sandang.
Disisi lain, Fia yang kini tiba di perusahaan milik suaminya. Langsung saja menuju ruangan dimana Abi berada, beberapa karyawaan disana tidak mempermasalahkan kedatangan Fia yang langsung menuju ruangan bos mereka. Karena Fia sudah terbiasa menghantarkan bekal makanan pada sebelumnya, namun mereka tidak mengetahui jika Fia adalah istri dari Abi.
__ADS_1
"Nona yakin?" Tanya Devi yang sedikit ragu untuk melangkah.
"Aku tidak yakin, tapi hatiku mengatakan jika tidak ada salahnya untuk mencari tahu tentang kebenarannya." Fia merasa yakin jika apa yang ia rasakan kali ini benar adanya.
Namun disaat ia akan memasuki pintu lift, tubuhnya mendapatkan serangan dari arah samping. Membuat dirinya sedikit terhuyung namun segera ditahan oleh Devi dari sisi satunya lagi, keduanya kaget melihat siapa pelakunya.
"Yasmin!" Seru Fia.
"Hehehe, ketahuan ya." Senyum Yasmin kepada Fia.
"Kamu ini ya, kebiasaan selalu membuat kaget. Mau ketemu sama mas Abi?"
"Ish nggak lah, tadi itu Yasmin lihat kakak turun dari taksi dipersimpangan kantor. Makanya Yasmin ikutin, oh ya mama kangen tahu nggak sama kakak." Celoteh Yasmin.
"Mama yang kangen atau yang menyampaikan pesannya nih?" Fia mengapit kedua pipi Yasmin.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju ruangan Abi, Yasmin pun mengikuti menemani Fia. Sesampainya di lantai atas, detak jantung Fia semakin cepat. Sempat ia menghentikan kakinya untuk melangkah, keberaniannya untuknya mencari kebenaran mengenai perasaannya atas perubahan sikap suaminya yang kini sangat berubah dari biasanya.
Melihat tidak ada Tyas ditempatnya, Fia bermaksud untuk menunggunya agar tidak menjadi kesalahan jika harus masuk tanpa izin.
"Kak, nungguin kak Tyas itu lama. Biar Yasmin saja yang masuk, siapa tahu kak Abi ada didalam. Lagian tidak ada yang berani melarang Yasmin." Senyum manjanya begitu manis ditampakkan.
"Tu tunggu Yasmin."
Fia sempat akan menghentikan Yasmin, akan tetapi Devi memberikan tanda dari gelengan kepalanya. Membiarkan Yasmin untuk masuk, karena jika Fia yang duluan masuk akan menjadi suatu kesalahan dimata karyawan lainnya.
__ADS_1
"Kak Ab...i. Hei! Apa yang kalian lakukan!!" Teriak Yasmin.