Izinkanku Untuk Merasakan Lelah

Izinkanku Untuk Merasakan Lelah
Titik Lemah.


__ADS_3

Saat terbangun, Fia berusaha menetralkan kedua matanya yang bertabrakan dengan cahaya dari penerangan yang ada. Begitu asing suasana dimana ia berada, beranjak dari tidurnya. Fia berjalan menuju jendela, membuka tirai jendela tersebut perlahan.


"Dimana ini?" Bergumam dengan raut wajah bingung.


Kedua matanya masih terus menelusuri setiap sudut bangunan ditempat ia berada, mencari tahu tempat tersebut.


Klek!


"Kau sudah bangun rupanya." Suara serak itu begitu terganggu di telinga Fia, yang tak lain adalah White.


Pria itu berjalan mendekati Fia dengan sebuah nampan pada tangannya yang berisikan sarapan, lalu ia menaruhnya di atas nakas di dekat tempat tidur.


"Makanlah duku sarapanmu, dari kemarin kamu tidak memakan ataupun minum Fi." Ucap White dengan penuh kelembutan.


"Untuk apa kamu membawaku kemari? Aku sudah bersuami White, jangan pernah memaksakan kehendakmu seperti ini." Dengan begitu tenang, Fia berusaha tidak terlihat takut.


"Heh, sudah aku bilang. Aku tidak perduli apapun itu, yang terpenting adalah aku memilikimu."


"Kau sudah gila, tidak ada pria yang mengorbankan wanita dalam urusan hati dan perasaan." Tangan Fia bergetar, ia terlihat seperti akan menanggis.

__ADS_1


Tidak merasa tersinggung ataupun marah, White bahkan tersenyum saat mendengar hal tersebut dari Fia. Jika saja itu adalah orang lain, maka orang tersebut akan ia habis saat itu juga.


"Ya, aku gila setelah bertemu denganmu Fi. Bahkan jika kamu tidak ada, aku pun akan ikut denganmu."


Percuma saja ia mengatakan hal tersebut, White tidak akan mudah terpedaya olehnya. Pria itu sudah dibutakan oleh obsesinya terhadap seorang wanita, yaitu Fia.


"Makanlah, aku akan keluar." Begitu mudahnya bagi White mengucapkan kalimat tersebut.


Ia beranjak dna meninggalkan Fia, White tahu jika ia terus berada disana. Maka Fia tidak akan menyentuh makanannya, lebih baik ia keluar dan memantau semuanya dari kamera pengawas yang ia pasang disana.


Menyadari jika White telah pergi, membuat Fia meluapkan semua sesak yang ia rasakan. Begitu perih terasa, kini ia berada di empat yang ia sendiri tidak tahu dimana. Meninggalkan suami dan anaknya disana, Fia benar-benar terluka.


Tidak memungkiri jika dirinya merasa lapar, ia tidak ingin semakin menyakiti diri sendiri. Perlahan ia merambah menuju nakas dan meneguk segelas susu hanga, namun tiba-tiba saja perutnya bergejolak dan merasakan mual yang begitu kuat.


"Ah, mungkin aku masuk angin." Fia merebahkan tubuhnya kembali di tempat tidur.


Nafsu makannya menghilang begitu saja, dan ia lebih memilih untuk tidur kembali. Tubuhnya merasakan lelah yang begitu hebat, padahal dirinya tidak melakukan hal-hal yang berat.


.

__ADS_1


.


.


Sudah satu minggu kepergian Fia, membuat Abi begitu frustasi. Hal tersebut juga begitu dirasakan oleh semua anggota mansion, terutama Abian. Anak kecil itu terus merengek untuk bertemu dengan bundnaya, membuat Surendra dan Mia mengalihkannya dengan mengajaknya pergi ke suatu tempat.


"Tuan, apakah sudah ada kabar mengenai nona Fia?" Ani bertanya pada Basman.


"Belum ada, tuan Abi masih berusaha melacak keberadaan nona." Basman pun tampak begitu khawatir, namun ia menutupinya.


Keadaan mansion semakin tegang, Abi tak henti-hentinya berusaha melacak keberadaan Fia. Berbagai orang suruhannya belum memberikan kabar baik, masih terus melakukan pencarian. Mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar, Abi benar-benar sudah habis kesabaranya.


Baik Surendra maupun Ronal, mereka terus mendampingi Abi. Karena kini, Abi mengalami penurunan imunitas.


"Lebih baik, kamu beristirahat dulu Bi. Lihat dirimu, benar-benar seperti mayat berjalan." Sindiran Ronal telak mengenai Abi.


"Heh, semakin lancang mulutmu Ronal." Desis Abi yang sudah menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat duduk.


"Terserah apa katamu, mau menganggapku bawahan atau sahabatmu. Yang jelas, saat ini kamu bukan lagi seorang pemimpin perusahaan yang tegas, melainkan seorang pria lemah."

__ADS_1


Bugh!


Lemparan bantal kursi telah melayang dan tepat sekali mengenai kepala Ronal, dengan itu membuat Abi sedikit tergelak. Ronal kini hanya bisa memandangi Abi dengan penuh perasaan iba.


__ADS_2