
Keadaan Fia kini semakin membaik, awalnya ia begitu berat mendengar jika salah satu dari anak kembarnya sudah berpulang. Dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintainya, memberikan kekuatan untuk dirinya menerima keadaan tersebut. Namun tidak untuk kepergian abahnya, Abi dan keluarganya masih merahasiakan itu semua dengan alasan kesehatan Fia yang belum pulih.
"Sayang, jangan banyak aktivitas dulu ya. Jika perlu apa-apa, langsung telfon mas." Abi yang sudah siap untuk berangkat bekerja, menyempatkan diri untuk memberikan kekuatan pada istrinya.
"Iya mas, jangan khawatir."
Pekerjaan Abi kini sudah menunggu, dimana Ronal segera membukakan pintu mobil saat Abi keluar dari pintu utama mansion.
"Apa jadwalku hari ini?" Ucap Abi kepada Ronal sembari melihat beberapa pesan yang masuk melalui email di ponselnya.
Menjalankan laju kendaraan yang gunakan, Ronal menjawab pertanyaan Abi dengan fokus tetap berkendara.
"Pertemuan dengan investor dari perusahaan cabang, hanya itu saja."
"Hem, jangan lupa untuk mengumpulkan kepala divisi."
"Baik tuan."
Perjalanan itu kini telah sampai pada gedung bertingkat yang mengulang tinggi, dengan penuh kewibawaan dan juga berkesan dingin. Abi memasuki perusahaann dengan Ronal berjalan disisinya, semua mata kini tertuju padanya terutama untuk kaum hawa. Pesona dirinya begitu disukai oleh para karyawaan wanitanya, karena meraka tahu jika Abi masih berstatus lajang.
__ADS_1
Kini, Abi sudah berada di dalam ruangannya. Dengan Tyas yang turut berada di sana untuk membantunya menyiapkan bahan pada pertemuan dengan pada divisi dari perusahaannya, terkesan mendadak sehingga membuat semua karyawan bertanya-tanya.
"Semuanya sudah siap tuan, silahkan." Tyas mengiringi langkah Abi menuju ruang rapat yang digunakan untuk pertemuan saat itu.
Memasuki ruang tersebut, dimana sudah penuh dengan desas desus jika tuan mereka akan memberikan hukuman pada kesalahan yang fatal dalam perusahaan. Sungguh membuat semuanya menjadi panik, untuk memberikan penjelasan untuk laporan yang ada. Mereka tidak sepenuhnya siap, namun jika pimpinan meminta maka mereka harus segera memberikan.
Abi duduk dengan tenang pada kursinya, wajah dinginnya membuat semua orang yang berada disana menjadi tegang. Beberapa berkas sudah berada di hadapannya, dan kini satu persatu ia lihat untuk diperiksa dan ada pula yang ia lemparkan begitu saja seperti benda yang usang.
"Pemilik berkas, silahkan bereskan barang kalian dan segera keluar dari perusahan ini." Ucap Abi yang masih fokus dengan berkas dihadapannya, dan masih ada yang ia lempar.
Suasana sangat mencekam, ada beberapa orang yang tidak mengetahui maksud dari apa yang Abi lakukan kala itu. Tapi tidak sedikit juga yang paham akan perkataan dari sang pemimpin perusahaan, ada ruang wajah yang berkeringat dingin, pucat, tubuhnya bergetar. Dan masih banyak lagi respon yang diberikan oleh orang disana, tidak ada satu pu diantara mereka yang dapat menyanggah ucapan Abi.
"Baik tuan."
Bergerak dengan sangat cepat, Ronal meraih kerah beberapa orang pria dan kemudian ia menyeretnya untuk keluar dari ruangan. Belum saja semuanya keluar, ada juga sebagian wanita didalam sana berteriak dan menanggis memohon ampun.
"Maafkan kami tuan, maafkan kami."
"Jangan pecat saya tuan, saya minta maaf."
__ADS_1
"Ampuni kami, kami khilaf tuan Abi."
Suara itu pun membuat Abi menjadi geram, ia merasa apa yang diucapkannya tidak dimengerti oleh pegawainya.
"Keluar secara terhormat, atau kalian berurusan dengan hukum?!!Keluar!!" Suara Abi menggetarkan ruangan tersebut.
Seketika suasana menjadi hening, yang semula berteriak dan menanggis memohon ampun. Kini mereka terdiam, bahkan untuk menatap Abi pun mereka tidak berani. Bergerak perlahan, satu persatu orang yang mempunyai berkas yang telah dilemparkan oleh Abi berjalan meninggalkan ruangan.
"Kalian lihat mereka, apa kalian ingin meniru mereka? Maka kalian harus pintar untuk menutupinya, jika tidak. Maka bersiaplah untuk bernasib sama dengan mereka."
Masalah berkas yang dimana telah membuat perusahaann harus menaggung rugi dalam jumlah besar, kini selesai. Beberapa orang yang tidak terlibat pada akhirnya mengetahui, jika rekan mereka melakukan kecurangan yang membuat perusahaan hampir mengalami kerugian dalam jumlah yang begitu besar, jika dibiarkan akan menyebabkan hancurnya perusahaan tersebut.
"Ah! Mereka kira aku tidak mengetahuinya, benar-benar sakit kepalaku dibuatnya." Abi akhirnya bernafas lega.
"Makanya, jangan mudah percaya dengan orang." Ronal kini berbicara dalam hubungan persahabatan.
"Diamlah, kau yang seharusnya aku hukum. Pekerjaanmu makin kesini makin tidak beres, Ronal."
Lemparan pulpen itu tepat mengenai kepalanya Ronal, meringgis dengan rasa sakit yang cukup membuatnya geram.
__ADS_1
"Terserah kau saja, huh."